Kamis, 9 April, 2020
Informasi Damai
Archives by: Heri Priyatmoko

Heri Priyatmoko

Heri Priyatmoko Posts

Corona, Jamu, dan Cinta Tanah Air

Suara Kita
Jagad internasional tengah diguncang virus Corona. Persebaran kasus virus corona terus meluas ke berbagai negara di seluruh dunia, tanpa kecuali negeri Indonesia. Kepanikan pun tak terelakan setelah Presiden Joko Widodo secara resmi mengumumkan ada dua orang WNI positif terkena virus itu. Suasana makin gaduh dengan bersliweran berita sampah dan hoaks di media sosial. Juga tayangan televisi yang mengejar rating tanpa dilambari spirit pencerahan kepada publik. Berani sumpah, di balik peristiwa ...
Read more 0

“Pancasila” dalam Serat Centhini

“Pancasila” dalam Serat Centhini
Suara Kita
Saya mengumpamakan Presiden Sukarno seperti juru sungging sekaligus dalang handal di depan kelir. Empu era kerajaan gentur laku spritualnya, olah rasa, dan olah pikir dalam berkreasi menciptakan wayang. Menyungging selembar wayang bisa menelan waktu berbulan, bahkan menahun demi menggapai keindahan paras serta wangun sesuai karakter wayang. Wayang (pancasila) merangkum rupa-rupa watak untuk merawat harmoni mikrokosmos agar tidak terjadi keguncangan. Demikian pula dalang wayang purwa kian bersemangat membius penonton, Bung Karno ...
Read more 1

Gusti Mangkunegara VII Mendidik Remaja

Gusti Mangkunegara VII Mendidik Remaja
Suara Kita
Semasa menahkodai Kota Surakarta, Pak Jokowi memakai (baca: meniru) pola kerja yang diterapkan Gusti Mangkunegara VII (1916-1944), yakni mider praja. Saban Jumat, ia bersepeda bersama jajarannya dan bersemuka dengan warga kampung dalam program mider praja. Kenyataannya memang bagus, mantan juragan mebel tersebut dekat dengan masyarakat akar rumput dan mengetahui segudang persoalan di tingkat akar rumput. Dewasa ini perlu dihidangkan sepucuk kisah Mangkunegara VII yang menarik untuk dijadikan inspirasi Presiden Jokowi ...
Read more 0

Gamelan: Jejak Toleransi dan Maknanya

Gamelan: Jejak Toleransi dan Maknanya
Suara Kita
“Gamelane wis muni,” demikian kalimat yang mengemuka sebagai tanda dimulainya Grebeg Sekaten di Solo dan Yogyakarta. Baru saja usai ritual tradisional warisan kerajaan Demak Bintara itu dihelat. Tempo doeloe, gamelan ditabuh niyaga ini bak besi sembarani agar masyarakat Jawa berbondong ke halaman Masjid Agung. Gamelan dimanfaatkan Walisanga menyukseskan program islamisasi di Jawa, tanpa memakai pentungan dan mengutamakan pendekatan kultural. Di era teknologi, gamelan di Sekaten tetap memesona. Ia kadung menulang ...
Read more 0
Translate »