Islam Kasunanan dan Kerja Intelektual

Islam Kasunanan dan Kerja Intelektual

- in Suara Kita
1104
0
Islam Kasunanan dan Kerja Intelektual

Aksi pendukung khilafah tak boleh disepelekan. Gerakan mereka terbilang rapi lewat film maupun media sosial. Fakta sejarah lokal berpeluang dipelintir demi memuluskan misi senyapnya. Narasi historis dibumbui dengan imajinasi yang berlebihan dan tak mendasar. Kota Solo, misalnya, menjadi medan kontestasi. Kampung halaman Presiden Jokowi ini kemarin kembali menjadi sorotan nasional lantaran mencuat tindakan intoleransi oleh ormas hingga mengakibatkan anggota keluarga habib di Pasar Kliwon babak belur.

Di perut Kota Bengawan, tergelar roncean kisah panjang dalam proses Islamisasi di jantung Jawa. Adanya institusi Keraton Kasunanan dinahkodai raja bergelar Sayidin Panatagama Khalifatullah bukan berarti mendukung sistem khilafah. Narasi yang dimasak cenderung mengecilkan eksistensi istana tua di Jawa, di bawah bayang-bayang hegemoni Timur Tengah. Saya mengoleksi foto Paku Buwana X naik unta, tetapi tidak berarti selembar bukti ini menegaskan bahwa “Kaisar Jawa” sepakat dengan pengaruh khilafah yang sarat kekerasan dan pemaksaan. Kenyataan ini bertolak belakang dengan kiprah raja pewaris dinasti Mataram Islam yang menyemaikan “nasionalisme” Jawa itu.

Ia melakoni proyek islamisasi lewat jalan damai dan pendekatan kultural. Ambillah misal, halaman mejid dipakai untuk Grebeg Sekaten sebagai penerus tradisi kerajaan Demak Bintara. Pasalnya, dalam benak petinggi istana dan pangulu, melalui cara itulah proses islamisasi bisa diterima masyarakat Jawa yang kala itu mayoritas abangan. Tidak harus lewat pemaksaan fisik, membawa pentungan, teriak kafir, serta penutupan tempat ibadah.

Secuil fakta pokok lainnya, yaitu Masjid Agung sangat terbuka bagi siapapun. Ruang sembahyang di tengah Surakarta ini sedari lama dikenal tidak “berideologi” alias bukan untuk kalangan Islam tertentu. Hal tersebut tidak lepas dari terobosan Paku Buwana X (1893-1939) yang memanfaatkan bahasa Jawa untuk komunikasi dalam acara khotbah di Masjid Gedhe. Bahasa Jawa menjadi penyatu pemeluk Islam lokal yang baru, dan mereka bertatap muka di masjid kendati hanya seminggu sekali. Dengan begitu, Masjid Agung warisan lawas Paku Buwana II itu menjelma menjadi pusat dari kesatuan sosial muslim.

Tak mabok agama, kerja intelektual dan semaian pengetahuan ke publik tak luput digarap. Perlu mencomot tokoh patih Sasradiningrat IV (1890-1916). Kalau sejarah boleh jujur, Paku Buwana X berhutang budi kepada Sasradiningrat IV lantaran turut membesarkan nama raja dan Surakarta melalui ruang-ruang kebudayaan. Tepatnya di gedung Kepatihan, Sasradiningrat IV membidani lahirnya klenengan pantisaren. Beliau memfasilitasi abdi dalem niyaga dari Kemlayan yang dikenal jago bermain gamelan. Di lokasi yang terbakar tahun 1949 dan kini dibangun kantor Kejaksaan Negeri Surakarta itu, garap gending-gending Jawa gaya Surakarta dikembangkan dan dipikirkan notasi gending demi memudahkan masyarakat berlatih karawitan. Juga sebagai tempat bangkitnya santiswara yang tenggelam puluhan tahun silam.

Baca Juga : Melihat Ulang Jejak Ikhwanul Muslimin di Indonesia

Kala itu, patih yang berotak cerdas ini menyediakan kebebasan kepada para pengrawit untuk bereksperimen dalam bermusik, tidak seketat layaknya di keraton yang dipenuhi aturan baku. Bahkan, pengrawit yang hadir tak perlu berbusana resmi. Yang penting ialah kebolehan mereka terus diasah demi kemajuan musik tradisional itu. Lambat laun, karawitan pantisaren disegani kelompok penabuh dari luar Kepatihan, karena banyak menciptakan gebrakan dan melakukan pengayaan di bidang karawitan. Di sinilah, kita menyadari telah terjadi “kecurangan sejarah” yang jarang merekam sumbangan Sasradiningrat IV terhadap dunia kesenian karawitan.

Tak mandeg di sini, didirikan pula Museum Radyapustaka di Sriwedari yang awalnya berada di kawasan Kepatihan. Untuk ukuran tempo itu, koleksi buku museum terbilang komplit. Dunia literasi di Surakarta semakin terasa detak jantungnya. Pasalnya, masyarakat dapat mengakses buku-buku lawas dan langka yang tersimpan di perpustakaan Radya Pustaka seiring diluncurkannya program pemberantasan woeta sastra oleh golongan priyayi.

Seiring bergulirnya waktu, di dalam museum tertua nomor dua di seantero Nusantara itu, ragam aktivitas budaya diselenggarakan secara rutin. Antara lain, latihan mendalang Padha Suka, kursus bahasa kawi dengan melibatkan orang-orang etnograf Belanda, dan belajar memukul gamelan. Bahkan, keputusan tata bahasa Jawa yang dikenal dengan nama “Sriwedari Spelling” lahir di sana. Begitulah kisah historis Islamisasi dan kerja intelektual di Solo tempo doeloe yang jejaknya masih bisa kita endus hingga sekarang. Penguasa detik itu tidak mabuk agama, emoh berperang atas nama agama. Sepenggal eksplanasi di atas memberi ilham dan refleksi kritis untuk kukuh menentang pendukung khilafah yang rawan memainkan (manipulasi) sejarah demi merebut kekuasaan politik. Benar apa kata pujangga besar kerajaan Kasunanan, Raden Ngabehi Ranggawarsita: kita harus eling lan waspada.

Facebook Comments