Pitulasan dan Kenangan

Pitulasan dan Kenangan

- in Suara Kita
129
0
Pitulasan dan Kenangan

Mentari hampir tergelincir di barat selepas menuaikan tugas menyepuh jagad. Tampak di mulut gang perkampungan terpasangi umbul-umbul dan bendera Merah Putih. Ditinju angin, kain tersebut meliuk bak tangan penari Bedaya Ketawang istana Kasunanan yang kondang ayu itu. Tidak seperti tahun silam, kali ini gairah pitulasan atawa perayaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus boleh dibilang meredup. Pasalnya, masyarakat hidup dalam keprihatinan akibat pagebluk Korona yang merunyak. Selain tidak dijumpai aktivitas mengecat gapura dan dihimbau tidak menggelar tirakatan, penghuni kampung juga libur menghelat perlombaan untuk para bocah.

Kendati semangat perayaan pitulasan yang menjalar di Bumi Pertiwi berkurang dibandingkan tahun lalu, bukan berarti rentetan kisah perjuangan tak penting dikabarkan ke khalayak ramai. Memori sejarah perjuangan kemerdekaan di Yogyakarta dan Solo, misalnya, juga menarik dibedah. Sekeping fakta berharga yang tak banyak diketahui publik adalah ribuan pengungsi membanjiri dua kota kerajaan itu periode revolusi.

Terkisah, suasana Kota Gudeg dan Kota Bengawan semula nguler kambang dan nglaras, tiba-tiba riuh. Pemangku kota kuwalahan menampung rombongan pengungsi yang ikut boyongan ibukota dari Jakarta ke Yogya tahun 1946. Mereka naik kereta api sebagai moda transportasi yang dinilai paling aman detik itu. Para pengungsi adalah orang-orang yang bersetia kepada republik Indonesia. Tetap melayani pemerintahan yang dinahkodai Presiden Soekarno dan Bung Hatta meski diiming-iming gaji besar oleh Belanda. Bersama keluarga, mereka tinggal kruntelan di perkampungan yang dekat pusat pemerintahan.

Kenangan yang jernih dilukiskan sastrawan cum jurnalis Mahbub Djunaidi dalam novel sejarah berkepala Dari Hari ke Hari (1975). Karya tersebut memuat pengalaman Mahbub semasa bocah yang mengungsi bareng ayahnya tahun 1946-1949. Keluarga Mahbub memilih bercokol di Solo lantaran bapaknya berkarib dengan “kepala suku” Kampung Kauman sekaligus pimpinan sekolah Mambaul Ulum bernama Kyai Dimyati. Ayahnya adalah pegawai Mahkamah Tinggi Agama (Pengadilan Tinggi Agama) yang menjadi “korban” perjanjian Linggarjati akibat dilanggar pemerintah Belanda. Ia berdinas ke Yogya saban tiga hari sekali naik sepur dari Stasiun Balapan.

Dalam kondisi pahit ini, Bung Karno dan Bung Hatta juga pintar mengerem nafsu. Kedua tokoh terkemuka ini lebih menonjolkan sikap ngayomi, serta tidak bergelimang kemewahan. Justru “kemewahan” yang berujung kebahagiaan hakiki itu cukup diperolehnya di dapur dengan sederhana, tanpa mengeluarkan uang sekarung. Saya mengantongi sepotong keterangan historis tentang mbok Wiryo yang melayani Pak Karno dalam urusan dapur di Gedung Agung. Perempuan miskin yang lahir 1903 itu bermukim di Kampung Sindenan, dan ditunjuk presiden sebagai juru masak istana. Pukul 07.00 dia sudah nglutek (sibuk) di pawon sampai adzan magrib Masjid Gedhe berkumandang.

Lidah pimpinan pengungsi itu ternyata cocok dengan hasil olah-olahnya di pawon. Beliau dhahare katon seger tatkala di meja santap tersaji lalapan kuluban kacang gleyor, daun pepaya, dan daun ketela muda. Semua ini dicampur sedikit garam, dan diolesi sambel terasi. Aneka bahan itu gampang dijumpai di pasar tradisional maupun pekarangan di pedesaan Yogya. Selain berlidah Jawa, Bung Karno mensyukuri kesederhanaan di tengah kesengsaraan bangsa akhirnya membuahkan kenikmatan yang tak ternilai.

Kian hari, rakyat Indonesia kian patuh dan angkat topi dengan Bung Karno. Selama di telatah Yogya, presiden diterpa hoax dan bikin masyarakat dilanda kesedihan yang melarat-larat. Mahbub menuturkan, pasukan Belanda membombardir Yogya dan Solo lantaran emoh menerima kenyataan Indonesia merdeka. Bala tentara asing itu berteriak “mana anjing Soekarno” serta menyebar selebaran bergambar Bung Karno dan Hatta sudah tertangkap. Kedua pemimpin bijak yang disayangi rakyat itu dikabarkan dipenjara di luar Jawa. Realitas tersebut membuka kesadaran kita bahwa fenomena hoax bukan barang baru dalam lintasan sejarah Indonesia.

Hati masyarakat Indonesia serasa diiris sembilu. Pandangan Ayah Mahbub kosong sewaktu mendengar kabar bohong ini. Ringkasnya, penduduk termakan berita palsu nan jahat. Psikologi massa kian larut, maka cara terbaik menangkal informasi dusta itu lewat radio. Alat komunikasi udara sukses diselamatkan angkasawan bersama pejuang, yakni “radio kambing” milik RRI Solo yang dibawa di kaki Gunung Lawu. Melalui siaran radio tiada henti dan tetap waspada dengan kejaran Belanda, berita tentang kondisi Bung Karno dan realitas di lapangan yang sebenarnya disiarkan. Akhirnya, kekalutan yang menyelimuti rakyat Indonesia lenyap. Lalu, spirit nasionalisme dan gelora mempertahankan kemerdekaan makin membumbung.

Kenangan ini telah digeledah. Episode sejarah tersebut mestinya getol didongengkan kembali lewat televisi maupun radio tatkala masyarakat Indonesia tengah nandang kepedihan gara-gara pageblug belum sirna. Fakta tersebut menjadi bahan refleksi bahwa barisan pejuang tempo itu tidak hanya menghadapi moncong tank dan senapan. Mereka harus menangkis hoaks yang sempat merusak semangat dan mengaduk emosi bangsa Indonesia. Tujuh dekade lebih kemudian, kita berusaha tetap menjaga nalar kritis dan tidak mudah termakan hoaks yang berkaitan dengan virus Covid-19.

Facebook Comments