Bom Bunuh Diri, Gejala Eskapisme dan Utopia Surga Instan

Bom Bunuh Diri, Gejala Eskapisme dan Utopia Surga Instan

- in Suara Kita
1359
0
Bom Bunuh Diri, Gejala Eskapisme dan Utopia Surga Instan

Bom bunuh diri telah menjadi modus operandi serangan teroris yang paling populer. Bom bunuh diri telah dipakai sebagia strategi menebar teror sejak era “kejayaan” al Qaeda hingga belakangan diadaptasi oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). Bunuh diri sebagai bagian dari peperangan mungkin bukan fenomena baru. Pada Perang Dunia II misalnya, pasukan Jepang sengaja menabrakkan pesawatnya ke obyek-obyek tertentu untuk melumpuhkan musuh. 

Dalam dunia terorisme, bunuh diri memiliki corak yang sedikit berbeda. Bom bunuh diri justru lebih banyak diledakkan di area bukan perang, melainkan di obyek vital umum yang merepresentasikan simbol musuh. Di Indonesia misalnya, fenomena bom bunuh diri awalnya menyasar obyek vital yang merepresentasikan kekuatan (ekonomi-politik) Barat (Amerika Serikat dan Eropa).

Sasaran itu perlahan bergeser ke tempat ibadah kelompok agama minoritas, terutama Kristen. Bom bunuh diri di gereja seolah menjadi tren baru dalam gerakan terorisme di Indonesia. Selain tempat ibadah kaum minoritas, bom bunuh diri juga kerap menyasar simbol negara seperti kantor Polisi dan aparat keamanan. Memperihatinkan lagi, kian ke sini pelaku bom bunuh diri semakin banyak berasal dari kalangan muda (milenal) yang seharusnya tengah ada di fase produktif.

Harus diakui, anak muda milenial memang memiliki tingkat keterpaparan ideologi radikal-terorisme yang terbilang tinggi ketimbang kelompok usia lainnya. Hal ini setidaknya dilatari oleh dua faktor utama. Pertama, kaum muda secara psikologis cenderung masih labil. Dalam konteks keagamaan, anak muda dicirikan dengan ghirah keagamaan yang tinggi, namun di sisi lain tidak (belum) memiliki kematangan dalam hal pengetahuan dan wawasan. Akibatnya, mereka kerap terjebak pada gerakan dan paham radikal-terorisme.

Kedua, kelompok jaringan teroris memang menjadikan anak muda milenial sebagai sasarannya, karena mudah diindoktrinasi. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa organisasi jaringan teror seperti JAT, JAD, dan JI gencar merekrut anak muda dalam beberapa tahun belakangan. Selain mudah dipengaruhi, anak muda juga dikenal memiliki loyalitas tinggi.

Dua faktor itulah yang membuat anak muda begitu rentan terpapar ideologi radikal dan terlibat gerakan terorisme. Menjalani usia muda memang tidak mudah. Menjadi muda identik dengan berbagai persoalan dan tantangan hidup. Kondisi psikologis yang belum stabil, pengetahuan dan wawasan yang belum luas ditambah dengan tantangan kehidupan yang kian sengit kerap membuat anak muda mengalami keterasingan (anxiety). Fenomena depresi di kalangan anak muda ialah hal yang lumrah.

Bagaimana tidak? Di satu sisi mereka harus beradaptasi dengan gaya hidup modern yang individualistik, pragmatistik dan hedonistik. Namun, di sisi lain mereka kerap tidak memiliki akses pada sektor pendidikan dan sumber ekonomi. Perasaan kalah, tersingkir dan inferior inilah yang kadang melahirkan kecenderungan untuk lari dari kenyataan. Dalam leksikon psikososial, inilah yang disebut sebagai eksapisme.

Di negara maju dan berkembang, kecenderungan eskapisme di kalangan anak muda cenderung tinggi. Di Jepang misalnya, muncul fenomena hikikomori yakni praktik mengucilkan diri dengan tidak keluar rumah (bahkan kamar) selama bertahun-tahun. Praktik ini mewabah di Jepang terutama di kalangan anak muda karena kian sengitnya persaingan di dunia kerja dan beratnya tekanan dari keluarga dan lingkungan sosial.

Bentuk eskapisme tentu bermacam-macam. Hikikomori hanyalah salah satunya. Dalam konteks yang lain, kita juga bisa memaknai fenomena bom bunuh diri yang dilakukan sejumlah anak muda muslim di banyak negara sebagai bentuk eskapisme. Kondisi kehidupan sosial yang berat, persaingan berebut akses pendidikan dan ekonomi yang kian sengit ditambah tuntutan sosial membuat mereka kerap mencari pelarian.

Di saat yang sama, muncul tawaran dari jaringan teroris yang mengiming-imingi mereka jalan ke surga secara instan. Hampir semua pelaku bom bunuh diri meninggalkan surat wasiat yang berisi pernyataan bahwa apa yang dilakukannya ialah bagian dari jihad dan berharap balasan surga. Nyaris tidak ada pelaku bom bunuh diri meninggalkan surat wasiat yang berisi pernyataan bahwa apa yang dilakukannya ialah bagian dari keyakinan ideologis dan sejenisnya.

Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya aksi bom bunuh diri itu tidak lebih dari sebuah ekspisme yang bertemu dengan janji utopis tentang surga yang bisa didapat secara instan. Janji surge lengkap dengan 72 bidadarinya merupakan komoditas utama yang dipakai oleh jaringan teroris untuk merekrut anggota baru. Bagi anak muda yang tengah dilanda kegalauan identitas, instabilitas psikologis dan disorientasi hidup, tawaran surga dan bidadari ialah hal yang sangat menarik.

Padahal, janji surga secara instan itu hanyalah utopia belaka. Janji surga sebagaimana dijajakan oleh kelompok teroris tidak lebih dari konsep artifisial yang absurd. Imajinasi surga yang berisi makanan, minuman dan perempuan cantik ialah konsep yang hanya cocok bagi penganut agama amatiran. Para ulama sufi misalnya, memahami surga (dan neraka) bukan semata dalam konteks reward and punishment bagi perilaku manusia.

Dalam ilmu tasawuf, representasi surga dan neraka sebagai dijelaskan dalam al Quran hanyalah gambaran untuk memberikan pemahaman logis pada manusia. Neraka merupakan representasi dari azab dan murka Allah. Sedangkan surge merupakan representasi dari keridlaan dan sikap welas asih Allah. Maka, menurut para sufi, surga dan neraka idealnya tidak dipahami dalam logika transaksional (untung-rugi). Ibadah kepada Allah hendaknya dilandasi keikhlasan, dan wujud syukur serta cinta pada Allah, bukan semata berharap surga dan takut neraka.

Aksi bom bunuh diri yang dilandasi motif mendapatkan surga secara instan merupakan representasi dari logika transaksional. Para teroris meyakini bahwa meledakkan diri di tempat umum, dan melukai bahkan membunuh orang-orang yang tidak bersalah ialah tiket instan menuju surga. Mereka menganggap sikap welas asih dan keridlaan Allah bisa ditukar dengan aksi-aksi kekerasan yang diklaim sebagai jihad fi sabilillah. Logika transaksional ini tidak hanya irasional dan absurd, namun juga merendahkan agama dan Tuhan itu sendiri.

Facebook Comments