Dengung Agung

Dengung Agung

- in Suara Kita
342
0
Dengung Agung

HAMPIR sebulan saya mengunjungi tempat kelahiran saya: Ponorogo. Ada beberapa tempat yang saya kira—di tengah maraknya radikalisme keagamaan dan aksi-aksi intoleran belakangan ini—luput dari gempuran-gempuran isu bernuansa SARA ataupun hoax yang bertujuan untuk memecah-belah keutuhan masyarakat, mengoyak anyaman kebangsaan.

Selain Dusun Sodong, Desa Gelangkulon, kecamatan Sampung, dan Desa Klepu, kecamatan Sooko, ada satu lagi desa yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi dan kohesi sosial yang kuat: Bulu Lor, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo. Dua desa dan satu dusun ini memiliki kekhasan atau cara tersendiri untuk menjaga toleransi antar umat beragama dan kohesi sosialnya.

Seperti di Desa Bulu Lor, koeksitensi antara umat Islam setempat, yang merupakan mayoritas, dan umat Buddhis aliran Nichiren Soshu berjalan secara sehat. Justru, aliran NSI (Nichiren Soshu Indonesia) di salah satu desa yang terletak di Kecamatan Jambon ini turut ikut membangun desanya.

Meski sama-sama berada di pegunungan dan perbukitan, baik Dusun Sodong, Desa Klepu maupun Desa Bulu Lor, tak selamanya jauh dari informasi tentang peristiwa-peristiwa terkini yang terjadi di tingkat nasional—semisal terhadap maraknya gerakan-gerakan Islam radikal yang belakangan ini kerap menunjukan taringnya, rata-rata mereka bisa menyikapinya.

Adakalanya puncak spiritualitas seseorang itu tak semata ketika ia berhasil berasyikmasyuk dengan kasunyatan yang ia alami dalam kesunyian diri sendiri. Seperti kisah para pendiri agama, kebesaran mereka bukanlah terletak ketika mereka mengalami dan memperoleh pepadhang. Tapi sesudahnya, setelah ia memperoleh pepadhang itu.

Vimalakirti, seorang murid Sang Budha, ia berprinsip bahwa kebahagiaanku adalah ketika lingkunganku berbahagia. Barangkali, hanya para suci yang mampu menerapkan laku itu.

Nichiren Soshu, salah satu aliran dalam Buddhisme Mahayana, resmi masuk Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, sekitar tahun 1984. Pada tahun 1991, komunitas NSI (Nichiren Soshu Indonesia) membangun sebuah vihara di kaki bukit, di Dusun Gupit, Desa Bulu Lor. Vihara itu diberi nama Vimalakirti.

Sesuai namanya, vihara beserta komunitas NSI Bulu Lor berupaya meneladani laku Vimalakirti. “Awalnya adalah almarhum Mbah Tukiran yang memeluk NSI dengan petunjuk Mbah Sardi dari Ponorogo kota,” kisah Miseri, seorang Pandita NSI di Bulu Lor.

Miseri sendiri sejak kecil telah menganut NSI. Di samping berprofesi sebagai seorang pandita—yang memimpin ritual-ritual NSI—ia juga seorang petani dan aktivis desa. “Ada sekitar 70-an orang yang menjadi umat Buddhis Nichiren Shosu di Desa Bulu Lor. Angotanya juga ada yang berasal dari Ponorogo kota dan Kecamatan Sawoo,” terang lelaki yang kini berusia 48 tahun ini.

Ketika saya berkunjung ke Bulu Lor, Miseri tengah mengumpulkan jagung yang usai dijemur. Sekilas, bapak dari satu anak ini tak tampak seperti orang yang dituakan oleh komunitasnya. Hidupnya bersahaja, mengandalkan sawah tadah hujan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. “Dalam agama Buddha orang tak sekedar belajar agama saja. Tapi juga belajar hidup dan bergaul,” katanya ketika saya tanya tentang keterlibatannya dalam masyarakat dan dunia pertanian.

Selaiknya perjalanan kaum minoritas yang tak gampang untuk mendapatkan ruang, pada mulanya Miseri dan komunitas NSI Bulu Lor tak luput pula oleh pandangan negatif ataupun tuduhan tertentu. Namun, dengan berprinsip pada ajaran Sang Buddha, maitrikaruna, lambat-laun komunitas besutan Nichiren Daisonin ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat setempat. Justru, komunitas NSI ini—dengan kepemimpinan Miseri—turut ikut membangun komunitas desanya.

Lelaki yang penuh tutur-kata lembut itu dipercaya masyarakat setempat untuk menjadi ketua RT. Tak hanya itu, identitasnya sebagai kaum minoritas sama sekali tak menyurutkan itikadnya untuk berbuat baik kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan.

Sidomakmur adalah sebuah kelompok tani yang berhasil diinisiasi oleh Miseri untuk memberdayakan masyarakat Bulu Lor di bidang pertanian. Untuk membentuk kelompok tani ini Miseri memerlukan waktu yang tak sedikit. Ia mesti bertamu, menemui masyarakat Bulu Lor satu persatu untuk diajak memajukan pertanian di desanya. Syukur-syukur, sesuai harapannya, bisa menciptakan lapangan pekerjaan.

Beranda Vihara Vimalakirti pun menjadi tempat untuk memberdayakan para petani yang tergabung dalam kelompok tani Sidomakmur. Kelompok tani ini terbentuk pada tahun 2005. Sifatnya independen, mengandalkan iuran dan arisan. Selain ajang untuk saling belajar bersama, kelompok tani Sidomakmur juga membeli hasil-hasil pertanian para petani Desa Bulu Lor.

Kiprah Miseri di desanya tak hanya berhenti di dunia pertanian belaka. Pada tahun 2010, ia berinisiatif mendirikan sekolah Taman Kanak-Kanak. TK Mandarava kemudian dibangun di depan Vihara Vimalakirti. Yang menarik di sini, sekolah ini tak hanya teruntuk komunitas NSI. “Justru mayoritas murid dan guru di TK ini dari kalangan muslim. Saat ini hanya ada dua orang murid yang berasal dari NSI sendiri,” jelas Miseri tentang TK Mandarava.

Tentang pendidikan, khususnya bagi komunitas NSI Bulu Lor yang berjumlah sekitar 70-an orang, mereka berharap anak-anaknya kelak dapat bersekolah setinggi mungkin. Kali ini, mereka telah mempunyai dua anak jebolan UGM. Memiliki anak-anak yang bersekolah tinggi adalah kebanggaan tersendiri bagi komunitas NSI yang mayoritas petani dan buruh tani.

“Dulu hanya ada satu sekolah TK di desa ini. Dan itu pun jauh, di dekat balai desa,” kilas Miseri tentang awal pendirian TK Mandarava. Sesuai namanya, yang berarti bunga emas, TK ini berupaya menanamkan keceriaan pada anak-anak didiknya.

Hidup di lingkungan pedesaan dan pertanian tak membuat Miseri tertutup oleh perkembangan dunia luar. Hal ini tampak dalam impian-impian Miseri yang beberapa di antaranya telah terealisasikan: pendirian kelompok tani Sidomakmur dan TK Mandarava, yang dalam taraf tertentu sudah dapat mengubah wajah desanya.

Saya pribadi melihat keterbukaan dan toleransi Miseri ini bukan berasal dari pendidikan yang ia terima. Miseri, dan juga komunitas NSI Bulu Lor, tak pernah bersekolah tinggi, yang lazimnya menjadi ukuran tingkat keterbukaan dan toleransi seseorang. Dan pengakuan beserta penerimaan masyarakat setempat yang mayoritas Islam pun tak pula disebabkan oleh tingkat pendidikan mereka.

Dengan kata lain, ada dua hal yang menarik di sini: sikap tak membeda-bedakan identitas orang dari Miseri maupun NSI Bulu Lor dan sikap mau berbagi ruang masyarakat Bulu Lor yang mayoritas Islam.

Miseri sendiri bercerita bahwa selama ini memang belum pernah mendapatkan perlakuan-perlakuan diskriminatif atau bahkan intimidasi baik dari masyarakat setempat maupun aparat-aparat Desa Bulu Lor.

Pernah ada memang, seorang muda jebolan sebuah pondok modern yang berpandangan negatif terhadap diri dan kiprahnya di masyarakat. Tapi Miseri tak pernah meladeninya. Akhirnya, karena Miseri tetap dipercaya masyarakat setempat, pemuda itu luluh, tak lagi besikap sektarian dan fanatik.

Konsistensi Miseri sendiri berkaitan dengan ajaran agama yang dianutnya. Sang Buddha mengajarkan tentang maitrikaruna atau sikap welas-asih kepada setiap makhluk. Dengan prinsip ini Miseri mampu menembus berbagai sekat, baik sekat sosial maupun sekat keagamaan. “Dalam setiap makhluk ada Jiwa Buddha,” katanya menerangkan dasar dari sikap toleran dan pluralistiknya.

Ketika manusia menyadari Jiwa Buddha ini, maka toleransi akan tumbuh dengan sendirinya. Orang yang tak bisa toleran adalah orang yang masih terhijab oleh salah satu dari lima racun kehidupan: kebodohan. “Ada lima racun kehidupan yang setiap hari dilakukan oleh manusia dan mengakibatkan penderitaan: keserakahan, kesombongan, kemarahan, keraguraguan, dan kebodohan,” jelas Miseri.

Lima racun ini akan mengakibatkan pemutlakan satu sudut pandang yang pada akhirnya akan mengakibatkan penderitaan. Inilah benih egosentrisme yang mengakibatkan sikap enggan untuk berbagi ruang, merasa paling benar sendiri.

Adapun untuk meminimalisir lima racun itu komunitas NSI melakukan ritual gongyo (sembahyang) dua kali sehari, pagi dan petang. Mereka duduk bersimpuh, sikap tangan anjali, seuntai jutsu menggantung di kedua jari tengah. Mantram agung kemudian didengungkan secara ritmis—serupa tawon gumana: “Namyoho renge kyo.”

Nam atau namu berarti pasrah. Reng berarti sebab. Ge berarti akibat. Dan kyo berarti gaib. Menurut Miseri inilah hukum agung yang merangkum segenap kejadian yang terjadi di kehidupan ini. Pertemuan dan perbincangan kami sore itu adalah salah satu contoh sederhananya.

Sebagaimana lazimnya masyarakat pedesaan yang masih kukuh memegang tradisi dan adat-istiadatnya, masyarakat Bulu Lor sendiri tak terlalu mempersoalkan agama atau kepercayaan apa yang dianut oleh warganya. Sebagaimana dusun Sodong dan Desa Klepu , kearifan-kearifan lokal rupanya juga berperan penting dalam menjaga harmoni dan toleransi di Desa Bulu Lor.

Dalam setiap prosesi adat tertentu—entah kelahiran, pernikahan atupun kematian—setiap warga di Desa Bulu Lor juga diundang lepas dari identitas agama dan kepercayaan yang dianutnya. Perbedaan cara berdoa bukanlah hal yang pantas dipersoalkan ketika masing-masing individu melebur dalam satu ruang sosial yang sama. Yang terpenting bagi mereka adalah solidaritas, rasa kesetiakawanan—empati.

Miseri sendiri juga berkisah bahwa ia sering mendapatkan undangan untuk melakukan ritual dzikir fida’, dan ia sendiri tak pernah pula memperkarakannya. Ia juga tak pernah memandang bahwa undangan dzikir fida’ itu adalah sebentuk cara untuk “mengislamkannya.” Dan masyarakat Bulu Lor sendiri umumnya tak pula menganggap bahwa kehadiran Miseri dalam ritual-ritual semacam itu sebagai sebentuk bukti bahwa Miseri telah menjadi “muslim.”

Saya melihat fenomena semacam ini sebagai sebentuk letupan rasa kemanusiaan yang mewujud dalam solidaritas dan empati di mana, pada akhirnya, perbedaan agama dan keyakinan menemukan titik-temunya. Sehingga dominannya rasa kemanusiaan ini mampu menyisihkan sikap kikuk dan keengganan untuk berempati. Semua partisipan seolah mampu menerjemahkan esensi ritual itu melalui jalannya masing-masing. Seperti di aliran NSI, mereka juga mengenal adanya tradisi semacam geblak/surtanah, 7 hari, 49 hari, 100 hari, dan seterusnya.

Tentu, untuk kalangan yang terbiasa bersikap sektarian dan fanatik, fenomena semacam ini masih dipandang kontroversial. Namun bagi masyarakat Desa Bulu Lor, sebagaimana juga yang terjadi di Dusun Sodong dan Desa Klepu, fenomena ini telah menjadi kelaziman. Dan justru, fenomena-fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat yang bersangkutan telah dewasa dalam hal beragama. Mereka tak pernah sibuk dengan bentuk. Rasa kemanusiaan yang mampu menyisihkan fanatisme dan sektarianisme seperti inilah yang pada akhirnya melahirkan solidaritas dan soliditas masyarakat setempat.

Bukankah agama datang sebagai rahmat bagi semesta alam? Bukankah agama, pada akhirnya, adalah sarana-sarana partikular untuk membimbing manusia untuk menemukan hakikatnya yang bersifat universal—seperti penggalan puisi Sutardji CB: “…yang tertusuk padamu berdarah padaku”—?

Facebook Comments