Kamis, 1 Oktober, 2020
Informasi Damai
Archives by: Heru harjo hutomo

Heru harjo hutomo

0 comments

Heru harjo hutomo Posts

Yang Tertolak: Menguak Struktur Jaringan Radikalisme dan Terorisme Kontemporer di Indonesia

Yang Tertolak: Menguak Struktur Jaringan Radikalisme dan Terorisme Kontemporer di Indonesia
Suara Kita
Dalam diskursus radikalisme dan terorisme terdapat dua macam bentuk aksi lapangannya: tunggal dan komplotan. Dalam hal ini saya ingin mengupas pola dan mekanisme radikalisme dan terorisme yang berkomplot. Mengingat pengutamaan program pencegahan daripada penindakan yang dicanangkan pemerintah dan beberapa bukti terkait dengan corak radikalisme dan terorisme kontemporer yang tak lagi lekat dengan citra agama, bahkan terkesan politis, saya kira menjadi penting untuk dikupas pola dan mekanisme mereka (Radikalisme dan Terorisme ...
Read more 0

Menggadaikan Nurani: Mengenali Radikalisme dan Terorisme Mutakhir di Indonesia

Suara Kita
Pada dasarnya radikalisme dan terorisme di Indonesia mutakhir tak jauh dari peristiwa-peristiwa politik harian. Para aktivis kontra radikalisme dan terorisme serta pihak yang berkompeten perlu menyeksamai perhelatan politik semacam pilpres dan pilkada, sebab pada tataran diskursif ekspresi-ekspresi radikalisme Islam seperti khilafah semakin ramai dan berkelindan dengan isu-isu politik praktis . Taruhlah pada momen pilkada Jakarta pada 2018 dan pilpres 2019 lalu, ekspresi radikalisme keagamaan seperti membonceng atau menjadi bagian dari ...
Read more 0

Populisme dan Propaganda Agama

Populisme dan Propaganda Agama
Suara Kita
Pada sebuah kesempatan, ketika saya mampir ngopi di pinggir jalan, ada beberapa motor lewat dan kemuadian melontarkan kalimat-kalimat verbal. Saya sama sekali tak tertarik dengan mode pergaulan yang konon ada yang menengarai berasal dari kebiasaan para anggota dan simpatisan IS di Suriah itu. Yang lebih menggelitik saya adalah penerimaan si penjual kopi, “Ilmu dalan,” jelasnya tanpa saya peduli bahkan untuk bertanya sekalipun. Konon lontaran-lontaran verbal tersebut, yang berupa rangkaian kalimat ...
Read more 0

Radikalisme dan Hiruk-Pikuk Politik

Radikalisme dan Hiruk-Pikuk Politik
Suara Kita
Sejak 2014 radikalisme di Indonesia seperti sudah terpola. Dan pola ini sebenarnya senantiasa berulang. Momen-momen politik menjadi ruang dimana radikalisme, yang sebermulanya laiknya potongan peristiwa yang berserak, menemukan bentuk tegasnya. Taruhlah menjelang pilkada Jakarta dimana isu-isu agama menjadi santapan sehari-hari di Indonesia, mulai dari kasus penodaan agama, mobilisasi massa yang berlatar isu identitas, gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat histeris dan neurosis, begitu momen politik tiba semua potongan peristiwa itu seperti menyatu ...
Read more 0

Kelindan Khilafaisme dan Nasionalisme Sempit di Indonesia

Kelindan Khilafaisme dan Nasionalisme Sempit di Indonesia
Suara Kita
Pada tahun 2018, HTI, sebagai salah satu ormas pengusung ideologi khilafah di Indonesia, resmi dibubarkan oleh pemerintah dan menjadi organisasi terlarang (Perda Intoleransi, Perda Radikalisme, dan Nasib RUU Antiterorisme, Heru Harjo Hutomo, https://www.gusdurian.net). Pada tahun-tahun sebelumnya, beberapa kali saya mengunjungi wilayah pinggiran dan menemukan bahwa ormas-ormas yang sejenis pernah mendudukinya lewat masjid atau surau. Tapi di wilayah pinggiran tersebut masyarakat juga memiliki resistensi sendiri, mereka secara tegas menolaknya (Berpijak di ...
Read more 0

Kemerdekaan yang Tak Mengasingkan

Suara Kita
Beberapa hari yang lalu saya iseng mengamati sayuran liar yang tumbuh di halaman belakang rumah. Sebermulanya tak ada kesengajaan untuk menanamnya dengan secara khusus menyiapkan benih dan menyebarkannya. Karena, selain saat ini musim kemarau, tanah di halaman belakang rumah seperti tak layak untuk ditanami tanaman-tanaman yang produktif. Tapi tak dinyana, tanaman itu banyak yang berbuah dan kualitas buahnya juga tak kalah dengan hasil tanaman sawah. Padahal, tak pernah saya menyiangi, ...
Read more 0

Sejarah dan Kehidupan

Sejarah dan Kehidupan
Suara Kita
Selama ini banyak orang memahami sejarah sebatas berkaitan dengan masa silam. Banyak hal yang selama ini saya pertanyakan tentang sejarah dalam pengertian demikian (Yang Menyangga, yang Tak Terbaca: Mengulik Sejarah Minor Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id). Ada yang menarik dari filosofi pertunjukan wayang purwa Jawa, dan saya kira juga pertunjukan wayang-wayang lainnya, perihal “mahyang” dimana istilah “wayang” kemudian diturunkan. Dari istilah “mahyang” orang dapat tahu bahwa wayang tak identik belaka ...
Read more 0

Antara Kurban dan Korban: Menimbang Paradigma Autochthony dalam Beragama

Antara Kurban dan Korban: Menimbang Paradigma Autochthony dalam Beragama
Suara Kita
Anggung anggubel sarengat Saringane tan den weruhi Dalil dalaning ijemak Kiyase nora mikani Ketungkul mungkul sami Bengkrakan mring mesjid agung Kalamun maca kotbah Lelagone dhandhanggendhis Swara arum ngumandhang cengkok palaran Serat Wedhatama Sampai hari ini saya tak habis pikir kenapa padanan kata Arab “qarib” adalah “kurban” dan bukannya “korban.” Apakah pengertian “kurban” dengan “korban” berbeda? Apakah konotasi “korban,” yang sebenarnya sama saja dengan “kurban,” terasa ngenas sehingga kebanyakan dari kita ...
Read more 0

Islam Nusantara dan Korban Kebangsaan

Islam Nusantara dan Korban Kebangsaan
Suara Kita
Ada sebuah parabel dari Kafka, seorang sastrawan yang pernah berpesan bahwa kelak setelah kematiannya karya-karyanya agar dibakar, tentang seorang yang tiba-tiba saja menjadi terpidana dan sesaat menjelang penggantungannya bergumam: “Seperti seekor kambing yang mengembik.” Saya teringat cerita Ismail dalam novel Kafka, The Trial, yang mendadak juga mesti disembelih oleh Bapaknya, Ibrahim. Tak perlu saya ungkapkan suasana dramatik menjelang penyembelihan Ismail, meskipun buat banyak sastrawan titik itu adalah yang paling menarik ...
Read more 0

Yang Berubah, Yang Pecah-Belah: Menyimak Klaim dan Kontestasi Tafsir Atas Pancasila

Yang Berubah, Yang Pecah-Belah: Menyimak Klaim dan Kontestasi Tafsir Atas Pancasila
Suara Kita
Pada 2003 pertama kali saya mengenalnya. Setelah sedikit berbincang dan entah kenapa diizinkan untuk mengikuti pasujudan di pendapa Paguyuban Sumarah, saya memboncengnya dengan motor butut saya kerumahnya di Sayidan, Jogjakarta. Kebetulan jalan kami untuk pulang searah. Ketika itu usianya sudah senja, sama sekali tak terlihat ia bersikap manja. “Sampun, ngriki kemawon,” katanya santun saat saya hendak menuntunnya untuk menuruni tangga menuju rumahnya. Pada Februari kemarin, 2020, ia menghembuskan napasnya yang ...
Read more 0