Dalam spiritualitas Islam terdapat tiga kutub yang diyakini mewakili tiga bentuk pendekatan ketuhanan yang kemudian berkonsekuensi terhadap sikap keberagamaan. Tiga kutub itu adalah Syekh Abdul Qadir al-Jilani (yang mewakili pendekatan ibadah), Jalaluddin Rumi (yang mewakili pendekatan perasaan), dan Muhyiddin Ibn ‘Arabi (yang mewakili pendekatan pengetahuan). Saya tak hendak menyingkap dua dari yang pertama karena memang dalam kejawen atau spiritualitas yang berbasiskan budaya Jawa tak cukup memiliki pengaruh atau tak cukup ...
Read more 0 Archives by: Heru harjo hutomo
Heru harjo hutomo
Heru harjo hutomo Posts
Dzating manungsa luwih tuwa tinimbang sifating Allah —Ronggawarsita. Syahdan, di wilayah Magetan dan Madiun, Jawa Timur, terdapat sebuah kisah tentang diaspora segolongan orang yang menjadi simpul darah dari tiga kerajaan di pulau Jawa: Pajajaran, Cirebon, dan Mataram Islam. Secara politis, mereka berdiaspora ketika kerajaan Mataram Islam tengah mengalami beberapa kali pergolakan: penumpasan gerakan para ulama yang berpusat di Tembayat oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1630 (yang kemudian ...
Read more 0 Basa ngelmu Mupakate lan panemu Pasahe lan tapa Yen satriya tanah Jawi Kuno-kuno kang ginilut tri prakara Lila lamun Kelangan nora gegetun Trima yen kataman Sakserik sameng dumadi Trilegawa nalangsa srahing Bathara —Serat Wedhatama Istilah “pahlawan” konon merupakan istilah yang mengacu pada sosok-sosok yang berjasa sekaligus, ironisnya, tak berharap akan adanya balas-jasa. Tentu, pada titik ini, yang menyeruak dalam benak kita barangkali adalah sosok-sosok seperti Wiro Sableng ataupun ...
Read more 0 Dhalang puniku Ingsun Tanpa cempala yaga lan ringgit Tanpa kothak keprak sindhen puniku Tanpa kelir debog dudu Punapa dene belencong Sapa sira sapa Ingsun —Sapa Sira, Sapa Ingsun, Heru Harjo Hutomo “Jawa,” atau “menjadi Jawa,” pada dasarnya adalah tak sekedar memakai blangkon, bertingkah-laku yang penuh dengan subasita (sopan-santun), tahu diri akan jejer, dsb., meskipun ini semua memang tak dapat dilepaskan dari apa yang dirujuk dari kata-kata ataupun istilah “Jawa.” ...
Read more 0 Pernah pada suatu masa, mobilitas dan militansi orang tak pernah ditentukan oleh otoritas-otoritas agung, nama-nama besar, dan bahkan harta. Mobilitas dan militansi itu ternyata dapat pula dibangkitkan dengan dunia khayali atau imajinasi, sebagaimana daya musik yang mampu membangkitkan tanpa perlu kemengertian. Dalam kajian budaya, kita tentu paham akan para pemikir semacam Lyotard, Derrida, Barthes, McLuhan, Baudrilliard, dsb., yang semuanya seperti menemukan kenyataan dari berbagai analisanya pada hari ini. Artinya, kita, ...
Read more 0 Terdapat sebuah kearifan lokal, dalam hal ini kejawen, tentang sebentuk dasar epistemologis yang disebut sebagai “penganggep” yang lazimnya diiringi oleh “pengarep-arep.” Dalam jagat filsafat pernah terdapat sebuah perdebatan tentang status dari sebuah kenyataan, taruhlah apakah sebuah meja nyata ada, entah dalam bleger apapun (nyata maupun citra), terlepas dari adanya pancaindera yang kemudian bersambung pada “angen-angen” atau pikiran yang sedang intens kepadanya. Dalam kejawen, problem epistemologis itulah yang dikenal sebagai relasi ...
Read more 0 Di Tegalsari, Ponorogo, terdapat sebuah pesantren yang, dalam catatan Bruinessen (1995), merupakan pesantren tertua dalam hal kurikulum sebagaimana kurikulum pesantren yang selama ini orang mengenal. Pesantren itu dikenal sebagai pesantren Gebang Tinatar yang didirikan oleh Kyai Ageng Mohammad Besari yang terkenal dengan kontribusinya dalam konsolidasi Pakubuwana II seusai kalah perang dengan Amangkurat V dalam peristiwa Geger Pacinan. Ketenaran pesantren Tegalsari tercatat mencapai puncaknya pada masa kepemimpinan salah satu cucu Kyai ...
Read more 0 Menggah dunungipun iman wonten eneng Dunungipun tauhid wonten ening Ma’rifat wonten eling —Serat Pengracutan, Sultan Agung Hanyakrakusuma Adakah, di hari ini, keberagamaan yang benar-benar beragama yang sesuai dengan agamanya, atau beragama secara otentik? Kierkegaard, seorang filosof eksistensial pertama di Barat, pernah menyangsikan otentisitas keberagamaan pada zamannya. Banyak orang beragama seperti sekedar memperlakukan agamanya sebagai sebuah trend ataupun gaya hidup, yang ketika melakukan atau tak melakukannya seolah-olah memiliki konsekuensi sosial ...
Read more 0 Seorang pujangga kenamaan Jawa, Ronggawarsita, mengabarkan bahwa bangsa Jawa adalah keturunan Nabi Ismail dari jalur Prabu Sarkil yang beranakkan Aji Saka. Kabar itu terdapat dalam Serat Paramayoga, sebuah serat yang menyajikan silsilah para raja Jawa. Sebelum filologi menjadi bagian yang penting dalam bidang kajian sejarah agama-agama, dimana salah satunya cukup dipopulerkan oleh Prof. Menachem Ali, kabar-kabar seperti halnya kabar dari seorang Ronggawarsita itu selama ini hanya dianggap sekedar lelucon belaka ...
Read more 0 Seorang Abdurrahman Wahid pernah mencetuskan istilah “Islam Pribumi” jauh sebelum istilah “Islam Nusantara” ada. Dan, dalam bidang Islamic Studies, pernah ada yang mempermasalahkan istilah “pribumi” di situ, seakan-akan dapat menyingkapkan potensi diskriminasi dan perpecahan. Atau kalau tak demikian, dengan menjumput logika kaum postmodernis-ngehe, kemustahilan keaslian yang merujuk pada ide besar “identitas.” Saya tak akan membahas seorang Abdurrahman Wahid di sini, namun ide besarnya soal kepribumian patut untuk direnungkan mengingat kini ...
Read more 0
