Jumat, 10 April, 2020
Informasi Damai
Archives by: Heru harjo hutomo

Heru harjo hutomo

Heru harjo hutomo Posts

Menimbang Efektifitas PSBB, Darurat Kesehatan Masyarakat, dan Kemungkinan Darurat Sipil atas Penanganan Wabah Corona

Menimbang Efektifitas PSBB, Darurat Kesehatan Masyarakat, dan Kemungkinan Darurat Sipil atas Penanganan Wabah Corona
Suara Kita
Sejak Presiden Jokowi mengumumkan kasus positif corona 02 Maret 2020, selang 27 hari ia kembali memutuskan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Darurat Kesehatan. Bahkan dalam pernyataannya tersebut, ia juga menyebutkan tentang Darurat Sipil. Beberapa pilihan kebijakan ini didasarkan pada, terutama, UU Kekarantinaan Kesehatan. Dari semua payung hukum atas kebijakan-kebijakan itu, saya kira, banyak orang yang masih bingung tentang istilah “dugaan” dan “kemungkinan.” Taruhlah kebijakan PSBB, apa kriteria “dugaan” ...
Read more 0

Nilai Agama di Tengah Wabah Corona

Nilai Agama di Tengah Wabah Corona
Suara Kita
Krisis, tak pelak lagi, adalah suatu titik di mana segala kebiasaan atau apa yang bersifat berkesinambungan tiba-tiba terjeda atau bersifat tak biasa. Pada psikologi manusia ia ditandai oleh peristiwa einmalig, titik-balik kehidupan, yang membuat kehidupannya seolah “terhenti” dan memutuskan untuk berubah, bahkan sampai pada taraf 180 derajat. Pada budaya krisis itu ditandai oleh apa yang disebut sebagai cultural malaise (kelesuan budaya) yang oleh Ronggawarsita dilukiskan sebagai berikut “Ilang budayanipun/ tanpa ...
Read more 0

Tumengeng Tawang: Penyikapan Budaya atas Sebuah Bencana

Tumengeng Tawang: Penyikapan Budaya atas Sebuah Bencana
Suara Kita
Aja turu sore kaki Ana dewa nganglang jagat Nyangking bokor kencanane Isine donga tetulak Sandhang kalawan pangan Ya iku bageanipun Wong sabar lan nrima ——Asmarandana. Dalam khazanah budaya di masa silam, selain paceklik, terdapat pula suatu bencana yang sifatnya masal: “pageblug” yang barangkali sepadan dengan istilah the plague. Paceklik berkaitan dengan kelangkaan barang pangan. Adapun pageblug berkaitan dengan wabah yang sifatnya misterius. Dahulu lintang kemukus (komet) sering dikaitkan dengan sasmita ...
Read more 1

Muram yang Riang: Albert Camus, Solidaritas, dan Perlawanan

Muram yang Riang: Albert Camus, Solidaritas, dan Perlawanan
Suara Kita
Like Prometheus we are bound Chained to the rock of a brave new world Our godforsaken lot And I feel that’s all we’ve ever needed to know ‘Till words end and the seas run cold —Black Sun (Dead Can Dance) Dalam salah satu esainya, The Rebel, Albert Camus berkesimpulan bahwa pada akhirnya, di atas segalanya, solider lebih utama daripada soliter. Saya melihat seperti ada paradigm shift dalam pemikiran Camus. Pada ...
Read more 0

Pancasila dalam Perspektif Islam Nusantara

Pancasila dalam Perspektif Islam Nusantara
Suara Kita
Saya kira tak sekedar bahwa Pancasila tak bertentangan dengan Islam Nusantara. Orang perlu mengetengahkan bukti bahwa nilai-nilai Islam Nusantara juga sudah menjiwai Pancasila. Salah satu hal yang pokok adalah bahwa Islam Nusantara tak dapat dilepaskan dari dinamika yang terjadi pada tingkat lokal: sejarah, pergeseran nilai-nilai, kondisi sosial-politik, dan seterusnya. Tapi, tak berarti konteks lokal itu, secara substansial, menyebabkan Islam Nusantara tak dapat berlaku universal. Saya pribadi berpendapat bahwa budaya itu ...
Read more 1

Bergesernya Paradigma Kosmologis Jawa

Bergesernya Paradigma Kosmologis Jawa
Suara Kita
Adalah seorang keturunan Madura, Trunajaya, yang sempat menumbangkan kekuasaan kesultanan Mataram yang dalam sejarahnya pernah tercatat sebagai pemerintahan tiran dan despotik (bedhahing Plered). Ribuan ulama yang merupakan simpatisan Giri Kedaton dieksekusi oleh Amangkurat I yang dikisahkan memiliki kehidupan yang hedonistik—bahkan ia sempat pula berebut perempuan, Rara Oyi, dengan salah satu anaknya: Amangkurat II. Trunajaya, yang secara harfiah bermakna “kejayaan orang muda,” merupakan seorang ksatria-santri di masa sekarang. Dalam perlawanannya terhadap ...
Read more 1

Yang Berisik, Yang Berbisik: Seni Sebagai Pendidikan Toleransi Sejak Dini

Yang Berisik, Yang Berbisik: Seni Sebagai Pendidikan Toleransi Sejak Dini
Suara Kita
Dalam khazanah budaya Jawa, toleransi sering disepadankan dengan istlah “tepa slira” atau lebih tepatnya “tepa sarira.” Istilah ini sebenarnya lebih mengacu pada sebentuk sikap untuk tahu diri, tepa berarti kenal dan sarira berarti diri. Secara normatif hal ini berkaitan dengan kesadaran akan orang lain yang akan tumbuh ketika orang sadar akan diri sendiri. Tentang tepa sarira atau sikap etis mengenal diri sendiri yang berujung mengenal orang lainnya dan teranyamnya keberagaman ...
Read more 0

Khalifah fi al-Ardhi dan Diri-Diri yang Terkebiri

Khalifah fi al-Ardhi dan Diri-Diri yang Terkebiri
Suara Kita
Gustavo Gutierrez, Hasan Hanafi, Farid Esack, adalah beberapa nama pemikir dan aktifis yang pernah melambungkan apa yang dikenal sebagai “teologi pembebasan” (liberation theology). Memang sumbangsih Karl Marx sangat besar di sini, paling tidak ia menginspirasi sejumlah intelektual untuk memandang tauladan dan tradisi keagamaan yang dianutnya secara dinamis. Di hari ini tak usah jauh-jauh mengulik masalah ketakadilan ekonomi dan sosial untuk sekedar melihat upaya sistematis untuk mengebiri kedirian. Dalam pergaulan sehari-hari ...
Read more 2

Kantuk yang Tak Berujung Lelap: Liminalitas Dalam Kebudayaan Jawa Tradisional

Kantuk yang Tak Berujung Lelap: Liminalitas Dalam Kebudayaan Jawa Tradisional
Suara Kita
Tan samar pamoring suksma Sinuksmaya winahya ing asepi Sinimpen telenging kalbu Pambukaning warana Tarlen saking liyep layaping aluyup Pindha pesating sumpenan Sinimpen ing rasa jati —Serat Wedhatama Pada awal 2000-an, saya sempat berdiskusi dengan seorang yang dikenal sebagai pakar budaya Jawa, (alm.) Prof., Dr. Damardjati Supadjar. Kala itu saya baru pertama kali menginjakkan kaki di Jogja untuk memulai kuliah di fakultas filsafat UGM. Di salah satu rumahnya yang sederhana, di ...
Read more 0

UU Desa dan Radikalisme di Akar Rumput

UU Desa dan Radikalisme di Akar Rumput
Suara Kita
Tak banyak orang tahu bahwa desa di masa sekarang berbeda dengan desa di masa silam, meski ia pun bersumber dari masa yang lebih silam lagi. Pada masa keraton (Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta), kita mengenal yang namanya desa perdikan. Seperti di kota kelahiran saya, Ponorogo, terdapat 9 desa perdikan yang merupakan warisan Kasunanan Surakarta. Karena kontribusi mereka pada raja atau keraton, beberapa desa di masa silam dijadikan tanah perdikan. Mereka ...
Read more 0
Translate »