Gus Baha dan Andil Ulama Pesantren dalam Dakwah Islam Wasathiyah

Gus Baha dan Andil Ulama Pesantren dalam Dakwah Islam Wasathiyah

- in Suara Kita
813
0
Gus Baha dan Andil Ulama Pesantren dalam Dakwah Islam Wasathiyah

Membahas dakwah Islam wasathiyah (moderasi) tidak lepas dari peran Ulama dari pesantren. Di Indonesia sangat banyak Ulama pesantren yang mumpuni dalam dakwah Islam wasathiyah. Salah satu Ulama sekarang yang sangat digemari dalam dakwah Islam wasathiyah yaitu beliau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Gus Baha menjadi idola kaum penimba ilmu agama dari semua kalangan.

Terkait belajar wasathiyah dari Al-Qur’an Gus Baha menyatakan, “Mulai dari ilmu-ilmu agama, tafsir, bahasa Arab, ilmu tajwid, asbabun nuzul, nasikh dan mansukh, makkiyah dan madaniyah dan banyak lainnya. Bahkan disebutkan Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan bahwa untuk menguraikan Al-Qur’an diperlukan 80 cabang ilmu, atau yang disebut dengan Ulumu Qur’an (Ilmu-Ilmu Al-Qur’an)”. Jadi, tidak sederhana menjadi pendakwah yang moderat seperti Gus Baha.

Gus Baha adalah putra dari pasangan KH. Nur Salim dan Hj. Yuhanidz Nursalim, pengasuh pesantren Al-Quran di Kragan, Narukan, Rembang. KH. Nur Salim adalah murid dari KH. Arwani Kudus dan KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati. Gus Baha belajar dengan ayahnya dan berguru pada KH. Maimoen Zubair. Tapi soal keluasan ilmunya Gus Baha tidak kalah dengan lulusan Timur Tengah.

Gus Baha digemari para santri karena dakwahnya santun, penuh guyonan, gaya yang sederhana serta ilmu yang luas. Keluasan ilmu Gus Baha menjadi modal berdakwah Islam wasathiyah. Konten-konten dakwah Gus Baha yang diupload dalam channel youtube penuh ilmu yang moderat yang bisa jadi tuntunan ber-Islam wasathiyah. Ilmu yang moderat menjadi solusi umat dalam menjalani kehidupan secara senang tanpa melanggar hukum negara dan agama.

Baca Juga : Mengenalkan Islam Rahmat untuk Generasi Milenial

Gus Baha memiliki kegiatan tours mengajar ngaji dari pesantren satu ke pesantren lain. Ulama kelahiran 1970 memulai karir di Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 Gus Baha menyewa rumah di Yogyakarta. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

Di Yogyakarta Gus Baha mendirikan Pondok Pesantren Izzati Nuril Qur’an di Bedukan, Pleret, Bantul. Ketika ayahnya wafat pada 2005, Gus Baha harus kembali ke Kragan, tetapi pengajiannya di Yogyakarta tetap berlangsung sebulan sekali. Para muhibbin Gus Baha di Yogyakarta hanya memiliki waktu belajar 3 hari setiap bulannya. Gus Baha juga mengampu pengajian tafsir di Bojonegoro. Atas permintaan KH. Sahal Mahfudh, Gus Baha juga mengajar ushul fiqih di Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati.

Tanpa rekayasa media, termasuk di lingkungan NU, Gus Baha keliling dari satu pesantren ke pesantren lain, memberikan paparan tentang tafsir dan hadits. Misalnya di Pesantren Sidogiri, ia mengisi “Pengaruh Israiliyat Terhadap Penafsiran Alquran”. Gus Baha menyampaikan paparan dalam seminar tafsir dan hadits di Pesantren Fathul Ulum, Kwagean, Kediri. Di Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda ia mengkaji “Kontekstualisasi Ayat-Ayat Perang dalam sebuah Muhadhoroh ‘Ammah (kuliah umum)”.

Di Yogyakarta Gus Baha juga membentuk “Kajian Kematian” bersama para doktor dan profesor di Kampus Universitas Islam Indonesia. Karena hidup di dunia yang sebentar saja dipersiapkan begitu serius, maka kehidupan akhirat yang jauh lebih lama, tentu harus dibahas dan dikaji lebih serius lagi. Kini Gus Baha di Yogyakarta juga memiliki pengajian di Pondok Pesantren Krapyak dan di Kampus UGM. Semakin populernya Gus Baha banyak permintaan untuk mengajar ngaji di pondok pesantren, kampus dan masjid.

Ciri khas Gus Baha dalam mengaji itu syaratnya harus khatam. Misalnya pondok pesantren mengajukan untuk diampu maka dikasih pilihan kitab apa yang ingin dipelajari sampai selesai. Gus Baha tidak mau ngaji setengah-setengah. Di antara kitab yang diajarkan Gus Baha meliputi; “Kajian Tafsir Jalalain, Arbain fi Ushuliddin, Hayatus Shohabah, Musnad Ahmad, Nashoihul Ibad, al-Hikam dan masih banyak lagi”. Penguasaanya ilmunya khas pesantren, tidak hanya alim di satu bidang, tapi lintas bidang, tafsir, fikih dan ushul fikih, hadis  tentunya tasawuf. Ini berbeda dengan sarjana kampus, baik dari Barat ataupun Timur.

KH. Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) menjuluki Gus Baha adalah sosok ulama unik jaman ini. “Gus Baha ini adalah tipe sosok sahabat Abu Bakar As-Siddiq jaman ini, karena ketika kita memandang Gus Baha maka kita akan langsung ingat akhirat. Gus Baha memang tipe ulama akhirat,” tegas Gus Ghofur.

“Sosok Abu Bakar ini selalu memandang sesamanya dengan penuh kasih sayang. Ini pula yang dilakukan Gus Baha saat ini. Lihat saja, begitu nikmatnya ngaji bersama Gus Baha. Semua diajak menuju surga, karena setiap muslim punya potensi kebaikan sebagai jalan terbaiknya menuju surga,” tambah Gus Ghofur dalam suatu forum majelis ilmu.

Banyak kesan dari para muhibbin atau fans Gus Baha, mengikuti pengajiannya itu menyenangkan. Islam menjadi terasa begitu mudah dan lapang. Ger-geran menjadi bagian tak terpisah kan dari isi ceramahnya yang mendalam dan luas. Keilmuan Gus Baha menjadi modal dakwah beliau dalam memaparkan Islam itu penuh moderasi. Sebab dengan moderasi Muslim tidak mudah terpengaruh ekstrimisme dan radikalisme yang berujung tindakan terorisme.Keleluasan Gus Baha menempatkan dirinya dalam peta intelektual muslim Indonesia, sesuai karya dan kepakarannya. Gus Baha bersama KH. Quraish Shihab menerbitkan tafsir Al-Qur’an yang diterbitkan Kampus UII. Berkat kepakarannya Gus Baha pernah dikhabarkan pernah menolak gelar Doktor Honoris Causa yang ditawarkan UII. Pilihlah guru agama seperti Gus Baha yang jelas sanad keilmuannya. Jangan pilih pendakwah ustaz yang baru mualaf , tentu ilmunya kurang moderat dalam menghadapi kasus umat yang kompleks. Hal ini penting untuk mewujudkan Muslim yang wasathiyah.

Facebook Comments