Sebuah Kisah Sederhana

Sebuah Kisah Sederhana

- in Wacana
2639
2

Memiliki kemampuan dan kesempatan untuk melakukan hal besar adalah impian banyak orang. Sesuatu yang ‘besar’ mampu memberikan efek yang besar baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Demikian pula dengan ibadah yang juga memiliki kategori ‘besar’, yaitu ibadah yang dinilai dengan bobot pahala besar yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Beberapa diantara contoh ibadah besar adalah melaksanakan kurban dan menunaikan ibadah haji. Tidak semua orang mampu membeli binatang ternak untuk kurban. Tak semua pula dapat mengumpulkan uang untuk membayar biaya haji, plus bersabar antri hingga bertahun-tahun menunggu giliran pemberangkatan.

Namun perlu diingat bahwa sesuatu yang besar selalu bermula dari hal-hal kecil. Bayangkanlah sebuah bangunan super besar nan mewah yang hanya berawal dari sepotong batu bata. Ini artinya, sesuatu yang besar tidak akan pernah ada tanpa kumpulan kecil. Dalam hal ibadah, ternyata Allah punya ‘ukuran’ sendiri terhadap ‘besar’ dan ‘kecil’. Boleh jadi apa yang selama ini dianggap kecil pada hakikatnya adalah sesuatu yang besar di mata Allah, begitu pula sebaliknya.

Sejumlah kisah teladan di masa silam membenarkan informasi di atas. Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad  pernah merekam kisah Syeikh Abu Bakar Asy-Syibli yang menceritakan pengalamannya lewat mimpi. Dalam mimpi yang diterima oleh salah seorang muridnya tersebut, Asy-Syibli menceritakan pengalamannya saat bertanya kepada Allah yang membalas amalan hidupnya dengan Surga. “Apa gerangan yang membuat Engkau mengganjarku dengan kenikmatan Surga?,” begitu kira-kira tanya Asy-Syibli kepada Allah.

Saat itu, Asy- Syibli mengira hanya amal saleh dan ketulusan beribadahnyalah yang menjadi sebab utama ia masuk surga. Ternyata dugaan itu salah. Allah menjawab bahwa ganjaran yang Ia berikan kepada Asy-Syibli berupa Surga adalah lantaran kasih sayang dan ketulusan yang ia berikan kepada seekor Kucing kecil yang terlantar di jalanan kota Baghdad. Saat itu, ia diceritakan mengangkat dan mengamankan Kucing itu di balik jubah yang ia gunakan. Sementara kondisi Kucing saat itu dalam keadaan terlantar dan kedinginan.

Demikian pula dengan kisah yang lain, dimana Allah membebaskan dosa seorang pekerja seks perempuan lantaran ia memberi minum seekor Anjing yang kehausan. Tak hanya diampuni, ia pun lekas dimasukkan ke dalam Surga. Kasih sayang perempuan itu terhadap seekor Anjing mengantarkannya pada kasih sayang Tuhan di Akhirat, meski perempuan itu dipandang hina di tengah masyarakat.

Kisah di atas menunjukkan bahwa dalam hal kebaikan tidak ada urusan kecil atau besar. Urusan kecil sekalipun boleh jadi sebab utama keselamatan di Akhirat. Rasa kasih sayang kepada makhluk, termasuk binatang, terbukti bisa menjadi sebab datangnya kasih sayang Tuhan. Surga yang merupakan ‘kampung halaman’ setelah kematian tak cukup ditebus hanya dengan amal ibadah semata. Ketulusan dan kasih sayang itulah yang bisa menjadi pelengkap meminta belas kasih Allah. Karena Surga dan Neraka adalah hak prerogatif Allah, siapapun yang Dia kehendaki bisa berada di dalamnya. Wallahu a’lam.

Facebook Comments