Kamis, 29 September, 2022
Informasi Damai
Archives by: Imam Santoso

Imam Santoso

0 comments

Imam Santoso Posts

Mengenang Azzumardi Azra saat Menentang Penyesatan Proyek Khilafah Nusantara

Mengenang Azzumardi Azra saat Menentang Penyesatan Proyek Khilafah Nusantara
Faktual
Kabar mengejutkan dan menyedihkan tentunya salah satu intelektual muslim terbaik negeri ini, Prof Azyumardi Azra, dipanggil ke rahmatullah. Namun, kepergiaannya tidak akan menghilangkan jasa dan pemikirannya bagi bangsa ini khusunya dalam merawat Islam dalam kebhinekaan. Saya tertarik sekali mengenang almarhum ketika menjadi salah satu cendikiawan yang vocal saat para pengasong khilafah mencoba memainkan-lebih tepatnya-memutarbalikkan sejarah. Pertengahan tahun 2020 ada proyek film berjudul “Jejak Khilafah Nusantara” yang sejatinya bagian dari upaya ...
Read more 0

Allah Tidak Melarangmu untuk Berbuat Baik, Kenapa Kamu Menolak Gereja Mereka?

Allah Tidak Melarangmu untuk Berbuat Baik, Kenapa Kamu Menolak Gereja Mereka?
Faktual
Indonesia dahulu dikenal sebagai Negara yang menjunjung nilai toleransi yang tinggi. Keragaman suku, budaya, Bahasa dan agama memiliki hak yang sama meskipun di daerah yang mayoritas agama tertentu. Tidak ada alasan mengatasnamakan mayoritas di sini adalah agama tertentu, lalu melarang aktifitas atau hak beribadah yang lain. Hal itu tidak mencerminkan budaya nusantara dan tentunya ajaran Islam yang sebenarnya. Baru-baru ini tengah viral kabar Walikota cilegon bernama Helldy Agustian yang ikut ...
Read more 0

Manuver Hacker Bjorka: Antara Kejahatan, Terorisme Siber atau Pahlawan?

Manuver Hacker Bjorka: Antara Kejahatan, Terorisme Siber atau Pahlawan?
Faktual
Hacker bernama Bjorka berhasil menjadi buah bibir masyarakat akhir-akhir ini. Beberapa netizen mengelu-elukan bak pahlawan karena membongkar data-data rahasia negara dan pemerintah. Bahkan, kono sang hacker juga berhasil membongkar yang menjadi kasus dalang pembunuhan Munir Said Thalib yag merupakan seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang dibunuh di dalam pesawat pada 7 September 2004. Seorang Pahlawankah? Tidak berhenti di situ. Semakin dikenal semakin menjadi-jadi. Bjorka juga mengklaim berhasil membobol data ...
Read more 0

Waspada Dua Gerbong yang Memperdagangkan Isu Islamofobia di Indonesia

Waspada Dua Gerbong yang Memperdagangkan Isu Islamofobia di Indonesia
Narasi
Sungguh ironis, negara yang mayoritas muslim, bahkan terbanyak sedunia, justru seringkali dihampiri dengan isu yang sangat berisik, islamofobia. Bayangkan negara-negara Timur Tengah notabene negara Islam kagum terhadap Islam Indonesia. Kesantunan, toleransi, dan gotong royong tercermin dalam sikap umat Islam. Namun, di dalam negara justru tercipta arus islamofobia. Betulkah ada islamofobia? Harus diakui bahwa isu islamofobia sejatinya bukanlah hal baru. Secara global, isu ini muncul akibat perlakuan diskriminatif terhadap umat Islam ...
Read more 0

Ketika Negeri dengan Ribuan Masjid Dianggap Kafir?

Ketika Negeri dengan Ribuan Masjid Dianggap Kafir?
Narasi
Memang ada segelintir orang yang memiliki warisan paham yang menganggap Indonesia sebagai negara kafir, thagut dan tidak Islami. Narasi ini sangat berbahaya karena implikasinya mendudukkan negara ini sebagai negeri perang. Tidak jarang pada akhirnya muncul terorisme dengan cita-cita ideologis mengganti dasar negara. Mungkin tidak perlu saya debatkan secara ideologis tentang dasar negara ini islami atau tidak. Pentolan mantan ideologi kelompok radikal terorisme, Abu Bakar Ba’asyir, ada akhirnya mengakuti keselarasan antara ...
Read more 0

Jangan Hidupkan Fosil Pemikiran Khawarij dalam Memandang Negara Indonesia

Jangan Hidupkan Fosil Pemikiran Khawarij dalam Memandang Negara Indonesia
Narasi
Masih ingatkah pada satu kelompok yang mudah mengkafirkan saudaranya semuslim dengan berbekal tiga ayat dalam al-Quran. Tiga ayat tersebut terdapat dalam surat Al Maidah yang secara berurutan menegaskan bahwa “Barang siapa yang tidak menjalankan hukum Allah maka ia termasuk orang-orang kafir (QS Al-Maidah: 44) dan “ Barang siapa yang tidak menjalankan hukum-hukum Allah maka ia termasuk orang-orang Dzalim (QS Al-Maidah: 45) dan “ Barang siapa yang tidak menjalankan hukum-hukum Allah ...
Read more 0

HUT RI 77 Tahun “Ojo Dibandingke”: Kembalinya Pesta Rakyat dan Kebudayaan Nusantara

HUT RI 77 Tahun “Ojo Dibandingke”: Kembalinya Pesta Rakyat dan Kebudayaan Nusantara
Narasi
Peringatan hari kemerdekaan di Istana Negara pada tanggal 17 Agustus kemaren yang digelar secara hikmat sekaligus meriah memunculkan aura kegembiraan yang luar biasa. Viral bocah Bernama Farel Prayoga yang berhasil “menggoyangkan” seluruh isi istana dengan lagu berbahasa Jawa “ojo dibandingke”. Para peserta dengan pakaian adat nusantara larut dalam kegembiraan. Peringatan HUT RI 77 Tahun telah kembali menjadi pesta rakyat dan pameran keragaman kebudayaan yang sangat luar biasa. Peringatan kemerdekaan kembali ...
Read more 0

77 Tahun HUT RI : Tiga Langkah Merdeka dari Intoleransi dan Radikalisme

77 Tahun HUT RI : Tiga Langkah Merdeka dari Intoleransi dan Radikalisme
Narasi
Sudah 77 tahun bangsa ini menghirup udara kemerdekaan setelah beratus tahun hidup dalam suasana penjajahan. Tentu saja ini adalah sebuah anugerah dan nikmat yang harus terus disyukuri oleh seluruh anak bangsa. Tanpa lupa kita harus selalu memberikan penghormatan dan penghargaan terhadap para pahlawan yang telah memberikan bakti dan jasanya untuk negeri ini. Namun, apakah usia 77 tahun sudah menjadi usia matang untuk mewujudkan bangsa yang maju dan berdaulat? Banyak yang ...
Read more 0

Esensi Hijrah : Keluar Dari Suasana Permusuhan Menuju Persaudaraan

Narasi
Momentum hijrah adalah titik balik kejayaan peradaban Islam yang akhirnya ditetapkan menjadi awal tahun dalam kalender hijriyah. Sebuah pilihan dan ijtihad yang tepat untuk mengawali setiap awal tahun dalam kalender Islam dengan semangat hijrah. Lalu apa sebenarnya yang bisa diambil dari semangat hijrah? Belakangan istilah hijrah mengalami popularitas kea rah makna yang luas tetapi justru menyempit. Memang benar, hijrah dimaknai pada makna maknawi bukan lagi perubahan atau pergeseran fisik. Namun, ...
Read more 0

5 Alasan Kenapa Anak Muda Mudah Tersesat ke Jalan Teror?

Pemberitaan yang melibatkan seorang anak kecil dan juga generasi milenial yang terpapar dan memilih bergabung dalam jaringan dan aksi radikalisme bukanlah hal baru. Bahkan beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2018 seorang orang tua malah membawa turut serta anaknya dalam menjalankan aksi bom bunuh diri. Memang harus diakui bahwa, kelompok-kelompok radikalisme dan ekstremisme masih bergerak dan aktif melakukan rekrutmen di Indonesia. Kelompok-kelompok ini yang secara nyata berafiliasi ke ISIS atau jaringan teroris lainnya. Kelompok ini akan terus mencari anggota baru untuk melakukan kaderisasi dan memperbesar kekuatan mereka. Anak-anak dan pemuda dinilai sebagai bibit yang empuk. Kenapa memilih anak-anak dan pemuda? Melatih anak-anak dari kecil, militansi, rasa solidaritas dan kecintaannya terhadap kelompoknya akan membuat mereka kuat dan tidak mudah goyah. Sementara pemuda secara psikologis sering mengalami guncangan situasional yang membutuhkan jawaban tentang identitas dan kebersamaan. Itulah sebab mengapa banyak anak-anak maupun generasi muda banyak tersesat ke jalan teror. Fenomena ini terjadi karena, seorang anak atau generasi milenial rentan terhadap kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Banyak alasan memang mengapa anak kecil sampai generasi milenial memilih jalan terror untuk menjalani kehidupannya. Setidaknya ada 5 alasan: Pertama, sebagai korban dari ketidakadilan. Banyak dari anak-anak dan pemuda yang memilih jalan teror merupakan korban lingkungan baik keluarga, pertemenan dan lingkungan sosial. Banyak dari mereka yang dikucilkan menjadi korban bully sehingga merasa sendiri dan butuh pertemanan yang lebih nyaman. Mereka sudah menyimpan dendam dalam hatinya sehingga tidak merasakan nikmatnya kemerdekaan di negaranya dan rasa cinta tanah air bukanlah hal yang istimewa bagi mereka. Ketika di masa kecilnya mereka sudah merasakan persepsi ketidakadilan, ketika remaja mereka menggebu-gebu dengan semangat idealisme untuk perubahan. Karena itu organisasi yang merekrut teroris di seluruh dunia menggunakan ide perubahan secara revolusioner dengan ingin melakukan balas dendam sebagai dorongan untuk mendorong gairah di antara rekrutan mereka. Kedua, pencarian jati diri. Kasus terror yang melibatkan anak-anak serta generasi milenial mampu tumbuh subur seperti ini dikarenakan mereka relatif sedang dalam tahapan pencarian jati diri. Studi the United States Institute of Peace pada tahun 2010 bahwa 2.032 para pejuang asing (foreign fighter) jaringan al-Qaeda kalangan mahasiswa, pelajar dan remaja yang sedang mempertanyakan identitas dirinya. Persepsi ini tentu menjadi jawaban bahwa bukan sekedar karena tingkat Pendidikan rendah, tetapi proses seseorang mencari identitas dan jati diri dalam kelompoknya. Kelompok-kelompok teror sengaja menyasar kampus lantaran rata-rata mahasiswa masih dalam taraf mencari paradigma baru dalam memahami agama dan perubahan, sementara kurikulum di perguruan tinggi kurang memadai untuk memenuhi keingintahuan mereka. Karena itulah banyak mahasiswa yang mencari jawabannya di luar kampus atau ataupun jika mereka mencari di lingkungan kampus, biasanya melalui jalur informal, seperti alumni atau orang luar kampus buat kajian di dalam kampus. Selain itu, regenarasi keanggotaan mudah untuk dilakukan tanpa control dari institusi pendidikan. Ketiga, mereka yang membutuhkan perasaan kebersamaan. Kelompok teroris pandai memanfaatkan para remaja yang sedang galau terhadap kondisi emosionalnya. Intinya mereka ingin mencari kebersamaan keluarga yang kadang tidak mereka dapatkan di keluarga intinya. Contohnya, seorang anak dari kalangan keluarga kaya raya yang terfasilitasi semua kebutuhannya, namun komunikasi dengan orang tuanya sangatlah minim, sampai ia berfikir tidak ada yang berarti dalam hidupnya, tidak ada yang perlu di perjuangkan lagi. Dan ketika ia menjadi seorang mahasiswa, iapun berharap memiliki lingkungan yang bisa memperhatikannya. Di sinilah, organisasi teroris akan memberikan perhatian yang terbaik bagi dirinya sehingga si anak akan mau memberikan apapun yang ia miliki demi sebuah kebersamaan. Inilah menariknya organisasi teroris bagi sebagian masyarakat yang rentan karena mampu merangkul mereka dan seolah memberikan solusi kebahagiaan. Ada rasa afiliasi yang kuat ketika kaum muda bergabung di dalamnya dan menciptakan kebersamaan, karena setiap tindakan diawasi dan setiap tindakan dihargai. Setiap pembicaraan, setiap pemikiran dicari oleh para “sesepuh” di organisasi-organisasi ini. Seseorang yang tidak memiliki arti sebenarnya dalam hidup sekarang memiliki tujuan yang pasti. Keempat, mereka yang sedang mencari sensasi dan kegagahan. Terdapat sebuah studi yang dilakukan oleh Institut Perdamaian Amerika Serikat. Terdapat 2032 teroris muda yang diwawancarai, dan kurang lebih 100 orang di antaranya bergabung karena rasa bosan. Anak-anak muda, biasanya dari kalangan menengah ke atas yang kecanduan video game kekerasan dan cerita heroik peperangan. Pada akhirnya, anak-anak ini akan memutuskan untuk bergabung dengan organisasi untuk membunuh kehampaan mereka untuk tujuan yang mereka anggap adil. Rasa militansi dan heroisme serta ingin menjadi pejuang perubahan dalam bentuk yang gagah dan berani menjadi impian. Kelompok radikal terorisme secara cerdas memberikan pembenaran dan justifikasi ideologis dan dalil untuk mengangkat moral heroik para pemuda untuk tampil membawa senjata dan melakukan latihan militer. Itulah sebuah kebanggaan. Kelima, mereka yang menaruh simpati pada kelompok radikal-teroris melalui internet. Faktor terakhir ini tentu menjadi problem besar bersama. Banyak dari remaja yang menghabiskan waktu di media online bertemu dengan konten-konten yang memprovokasi dan menyebar kebencian. Narasi hasutan, provokasi, dan radikalisme dengan mudah bertebaran di dunia maya. Lima pintu masuk di kalangan generasi muda ini penting ditutup bersama oleh seluruh pihak. Harus ada desain untuk memberikan rasa nyaman, pemberian identitas serta kebangaan anak muda untuk menjadi seorang pejuang. Bedanya, semangat idealisme dan heroisme ini harus diarahkan kepada perjuangan menegakkan perdamaian, bukan kerusakan.
Narasi
Pemberitaan yang melibatkan seorang anak kecil dan juga generasi milenial yang terpapar dan memilih bergabung dalam jaringan dan aksi radikalisme bukanlah hal baru. Bahkan beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2018 seorang orang tua malah membawa turut serta anaknya dalam menjalankan aksi bom bunuh diri. Memang harus diakui bahwa, kelompok-kelompok radikalisme dan ekstremisme masih bergerak dan aktif melakukan rekrutmen di Indonesia. Kelompok-kelompok ini yang secara nyata berafiliasi ke ISIS atau jaringan ...
Read more 0