Berebut Keaslian ‘Panji Hitam’ (bag 2)

Berebut Keaslian ‘Panji Hitam’ (bag 2)

- in Wacana
6211
0

Jika dicermati secara lebih teliti, penyematan label ‘Panji Hitam’ untuk kelompok yang di dalamnya terdapat khalifah Allah yang mendapat pentunjuk [al-Mahdi] –sebagaimana terdapat pada hadis tersebut– juga masih harus diperdebatkan. Sebab, dhamir atau kata gantinya berbeda. Kalimat ar-raayaat as-suud pada pernyataan awal menggunakan dhamir jamak/plural, yaitu yuqatiluunakum. Sedangkan pada kalimat terakhir dhamir atau kata ganti yang digunakan itu tunggal, yaitu ‘hu’.

Jika memang yang dikehendaki oleh hadis tersebut adalah ‘Panji Hitam’ merupakan bagian dari al-Mahdi, mestinya dhamir atau kata ganti yang digunakan itu plural bukan tunggal, yaitu ‘hum’ bukan ‘hu’. Dus, penyematan predikat ‘Panji Hitam’ kepada kelompok yang mengaku berada di kubu al-Mahdi tentu harus dipertanyakan.

Bahkan jika diperhatikan dari sudut pandang berbeda, hadis tersebut menggambarkan ‘Panji Hitam’ sebagai kelompok yang malah ‘membunuh’ para keturunan khalifah. Indikasinya adalah kalimat yuqatilunakum, yang artinya mereka “hendak membunuh kalian”.

Jika kita bayangkan saat-saat kemunculan hadis tersebut, Nabi mengeluarkan hadis tersebut tentu ketika sedang berada di tengah-tengah para sahabat, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar. Jelas bahwa kata ‘kum’ yang berarti ‘kalian’ pada kalimat yuqatiluunakum tersebut mengarah pada mereka para sahabat dan keturunannya yang notabene khalifah. Jadi, bisa dikatakan bahwa ‘Panji Hitam’ justru sebagai pihak yang ‘menebar teror’ dengan membunuh, bukan bagian dari al-Mahdi.

Bagaimanapun, sangatlah kontradiksi jika al-Mahdi yang secara sederhana berarti “yang mendapat petunjuk ilahi” justru disematkan kepada mereka yang suka membunuh. Kita tahu bahwa perbuatan membunuh adalah perbuatan yang paling keji. Alih-alih mendapat petunjuk, membunuh adalah perbuatan yang dibenci Allah dan sangat bertentangan dengan alqur’an maupun hadits Nabi.

Terlepas dari segala polemik pemahaman atas teks hadits tersebut, hadits ini rawan sekali dijadikan tendensi atau bahkan tipu muslihat oleh orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya, melakukas segala hal demi keuntungan pribadi atau kelompoknya.

Islam Adalah Kedamaian dan Kemaslahatan

Kalaupun kita percaya bahwa tegaknya Islam dapat membawa keadilan dan kesejahteraan bagi umat, baldatun thayibatun warabbun ghafur, diiringin dengan kibaran bendera hitam, tentu saja bukan bendera hitam yang menebar ketakutan dan ancaman seperti yang kita jumpai saat ini.

Jika mereka [kelompok ‘Panji Hitam’] mengaku sebagai pasukan elit Islam atau tentara Allah yang dengan teguh menegakkan kebenaran namun dengan cara kekerasan seperti menteror dan membunuh, tentu hal ini sangatlah ironis. Bagaimana tidak, Islam yang notabenenya merupakan syari’at dari Allah tentu sejalan dengan semangat kemanusiaan dan ketuhanan, bukan sebaliknya.

Islam adalah rahmat bagi semesta Alam, tidak hanya untuk muslim, tetapi untuk seluruh alam. hal ini termaktub jelas dalam Q.S. al-Anbiyaa’ [21]: 107. Sebagaimana arti dasarnya, rahmat itu berarti kasih sayang. Maka orang yang mengaku Islam tentu menyebarkan kasih sayang, bukan kemalangan.

Tulisan ini tidak berpretensi mengajak pembaca untuk percaya atau  ingkar terhadap kebenaran kelompok “panji Hitam”. Tulisan ini ingin mengajak kita untuk bersikap kritis kepada siapapun yang menggunakan simbol “panji hitam”.

Jelaslah bukan kelompok “panji Hitam” sebagaimana dimaksud oleh Rasulullah jika kelompok terebut bergerilya untuk mendirikan sebuah negara Islam dengan mengangkat senjata, menghilangkan nyawa, dan bahkan melanggar Hak Asasi Manusia. Tentu mereka bukan thaifah manshurah walaupun mereka kibarkan ribuan bendera hitam.

“Islam sedang diserang dari berbagai arah, namun para pemeluk Islam hanya diam saja. Maka kami tampil untuk membela Islam. Kami tampil untuk mengusung kebenaran Islam. Kamilah para ‘Panji Hitam’ yang berada di garda terdepan!” kalimat inilah sering kali digaungkan oleh bereka yang tidak percaya diri dengan visi dan kapasitas mereka.

Pertanyaannya adalah kebenaran seperti apa yang mereka usung dan perjuangkan? Syari’at apa yang mereka elu-elukan untuk dipaksa-kehendak-kan agar menjadi sebuah sistem negara bangsa? Konsep negara Islam yang bagaimana yang mereka dambakan?

Sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita renungkan: Islam datang sebagai rahmat bagi alam, bahkan secara sederhana kata Islam juga memiliki arti keselamatan, kedamaian dan kemaslahatan. Secara lebih spesifik juga dijelaskan bahwa tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad Saw adalah sebagai pengemban risalah Tuhan untuk persoalan moral (morality repair), sebagaimana disabdakan: li-utammima makarimal akhlaq, bukan medirikan sebuah negara agama.

Karenanya, parameter keislaman itu bukan semata-mata diukur hanya dengan simbolisasi dan formalisasi. Akan tetapi terwujudnya kesalehan sosial dan kemaslahatan bagi seluruh alam. Wallahu A’lam.

(habis…)

About the author

Imam Malik
Adalah seorang akademisi dan aktifis untuk isu perdamaian dan dialog antara iman. ia mulai aktif melakukan kampanye perdamaian sejak tahun 2003, ketika ia masih menjadi mahasiswa di Center for Religious and Sross-cultural Studies, UGM. Ia juga pernah menjadi koordinator untuk south east Asia Youth Coordination di Thailand pada 2006 untuk isu new media and youth. ia sempat pula menjadi manajer untuk program perdamaian dan tekhnologi di Wahid Institute, Jakarta. saat ini ia adalah direktur untuk center for religious studies and nationalism di Surya University. ia melakukan penelitian dan kerjasama untuk menangkal terorisme bersama dengan BNPT.

Related Posts

Facebook Comments