Bukan membela BNPT dan Abdurrahman Ayyub

Bukan membela BNPT dan Abdurrahman Ayyub

- in Keindonesiaan
4214
0

Saya tertarik menanggapi sebuah tulisan yang diposting di sebuat sosmed, pemilik akun atas nama Millitan dengan tema “Peran Anjing-Anjing BNPT dalam menipu ummat dan menjauhkan umat dari tauhid dan jihad” . Tema ini menarik diklarifikasi karena dua kata kunci dalam pernyataan dimaksud yaitu Abdurrahman Ayyub dan BNPT sangat penting. Abdurrahman Ayyub adalah salah satu mantan terroris yang cukup lama bergelut dalam jaringan tersebut sementara BNPT adalah sebuah badan pemerintah yang mendapat mandat untuk menanggulangi terorisme di tanah air.

Tahun lalu tepatnya Oktober 2015 saya sempat mendengar ceramah Ustadz Abdurrahman Ayyub dalam sebuah acara yang diselenggarakan BNPT di Jogja dimana yang bersangkutan menjadi salah satu narasumber pada acara dialog yang juga didampingi oleh salah satu pentolan terorisme yaitu Nassir Abbas. Saya jug sempat berbincang-bincang dengan yang bersangkutan setelah acara selesai dan bertukar pikiran tentang Islam itu sendiri.

Beberapa ayat dan hadis yang dikutip oleh yang bersangkutan dan menjadi rujukan utama kelompok radikal terorisme dalam menjalankan keyakinannya memang pada dasarnya sangatlah keliru karena memahaminya secara tekstual. Jika pemahaman tersebut dibentangkan dihadapan ulama-ulama di manapun di dunia ini di berbagai Universitas tentulah mereka akan tertawa melihat cara pandang radikalisme terorisme dalam memahami ayat dan hadis-hadis Rasullullah Saw.

Beberapa buku yang juga ditulis oleh Abdurrahman Ayyub dimana menyebutkan beberapa ayat dan hadis serta logika yang digunakan radikalisme terorisme dalam memahami ayat dan hadis sesungguhnya sangatlah disayangkan. Karena itu, menurut persepsi kami bahwa apa disampaikan oleh Abdurrahman Ayyub dalam setiap kegiatan BNPT sangatlah tepat dan bukanlah menjual ayat-ayat Allah untuk kepentingannya. Akan tetapi menurut pandangan saya bahwa sebenarnya yang bersangkutan justru telah kembali ke jalan yang benar sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Swt dalam firmannya:

ثم اورثنا الكتاب الذين اصطفيناه من عبادنا فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد ومنهم سابق بالخيرات بإذن الله

Artinya: “bahwa sesungguhnya Allah Swt telah mewariskan kitab ini yakni Alquran kepada hamba-hambanya yang telah dipilih, diantara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, ada yang sederhana atau moderat dan juga ada yang berlomba-lomba dalam kebajikan atas izin Allah’

Dalam ayat ini Allah Swt membagi tiga hambanya yang telah menerima Alquran yaitu; pertama; mereka yang menganiaya dirinya sendiri, artinya mereka telah menyelewengkan nas-nas Alquran, menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan mewajibkan apa yang telah disunnahkan oleh Nabi dan Rasulnya dan sebaliknya mereka inilah disebut sebagai kelompok yang Zhalimon linafsihi. Kedua: mereka yang moderat atau mengambil sikap seimbang dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan kepadanya dan menjalankan sunnah-sunnah yang telah sunnahkan dan menghindari apa yang telah diharamkan kepadanya, mereka inilah yang dikategorikan sebagai orang yang muqtasid : ketiga mereka yang berlomba-lomba ke jalan Allah atas izinnya artinya mereka secara sungguh-sungguh menjalankan perintah Allah dan menjauhi seluruh larangannya dan melakukan kebajikan-kebajikan lain yang diperintahkan, mereka inilah yang disebut sebagai Sabiqun bilkhaerat.

Saya menilai apa yang dilakukan oleh Ustadz Abdurrahman Ayyub yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan pencerahan tentang Islam di kalangan masyarakat tidak lebih dari apa yang diperintahkan Allah kepadanya untuk mengajak umat Islam memahami perintah-perintah Allah secara benar dan syah serta sesuai dengan intisari Islam itu sendiri dan inilah yang dimaksud dengan Sabiqun bilkhaerat artinya berlomba-lomba di jalan Allah. Sementara apa yang dilakukan oleh kelompok radikal terorisme justru lebih condong kepada kelompok pertama, yaitu Zhalimon Linafshi atau menganiaya diri sendiri karena telah berlebihan dalam memahami perintah-perintah Allah dan menafsirkaan ayat dan hadis lebih dari tujuan hakiki dari hadis dan ayat Allah akibatnya menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah. Dan menjalankan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah.

Wallahu A’lam

Facebook Comments