Bulan Ramadhan Bukan Bulan Bunuh Diri

Bulan Ramadhan Bukan Bulan Bunuh Diri

- in Keagamaan
2430
0

Dunia kembali dikagetkan dengan aksi bom bunuh diri yang digetarkan oleh ledakan bom yang menghancurkan kehidupan dan persaudaraan di Turki pada selasa malam tanggal 28 Juni 2016. Ledakan tersebut terjadi di bandara Ataturk Turki yang menewaskan sedikitnya 50 orang dan 147 orang korban luka, bom bunuh diri itu sendiri dilakukan oleh 3 orang.

Aksi bejat dan kejahatan kemanusiaan tersebut terjadi pada saat kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia sedang melakukan ibadah puasa, sholat malam, tadarrus dan tadabbur al Quran serta i’tikaf sebagai wujud kedekatan diri kepada Allah swt.

Diketahui bersama bahwa bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang penuh ampunan, bulan melatih dan menempa diri untuk ikut merasakan secara fisik rasa lapar, haus  dan dahaga bagi orang beriman; bulan untuk membentuk watak dan pribadi yang memiliki empati kepada sesama makhluk Tuhan.

Bulan Ramadhan bukan bulan untuk melakukan segala macam bentuk kejahatan, lebih-lebih melakukan aksi teror dengan aksi bom bunuh diri. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw., menyatakan bila bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu sorga dibuka sementara pintu-pintu nerakan ditutup, serta para syaithon dirantai dan dibelenggu. Riwayat itulah yang menjadi jaminan bagi setiap orang beriman untuk melaksanakan segala macam ibadah dalam bulan yang penuh ampunan ini.

Sejak awal bulan Ramadhan hingga menjelang hari raya idul fitri, umat Islam di seluruh dunia sibuk dan sekaligus bergembira dengan memperbanyak ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah swt., serta berharap secercah ampunan dan harapan akan maghfirah dari Yang Maha Penerima taubat.

Berbeda dengan pelaku bom bunuh diri yang beraksi di Turki, bila mengamati perilaku yang tidak humanis dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan itu, jauh bertentangan dengan pesan-pesan yang terdapat dalam syariat puasa serta penjelasan para ulama yang menyatakan bahwa puasa itu melatih manusia beriman untuk mempertajam rasa kepekaan, kebersamaan, dan rasa kepedulian di antara sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Sejatinya watak yang lahir dan terbentuk dari proses tazkiyah-penyucian diri dalam bulan Ramadhan tidak menciptakan keonaran, kejahatan, terutama aksi bom bunuh diri yang tidak mencerminkan watak dan prilaku orang yang berpuasa.

Aksi pelaku bom bunuh diri tak lain hanyalah sosok makhluk manusia yang berwatak iblis atau syetan yang menjelma sebagai manusia yang memiliki watak, pikiran dan prilaku yang melebihi ulah iblis. Makhluk Allah swt yang terkutuk dan terusir dari sorga adalah iblis, ia lantas meminta dispensasi dari Tuhan untuk menggoda manusia dalam waktu yang tidak terbatas.

Namun pada kenyataannya prilaku manusia sudah melebihi iblis, bahkan seolah iblis tidak lagi dapat menggoda manusia karena belum lagi manusia digoda oleh iblis untuk berbuat kejahatan termasuk bom bunuh diri, manusia sudah jauh lebih cepat beraksi menghancurkan tatanan kehidupan, tatanan persaudaraan.

Peristiwa bom bunuh diri di Turki menjadi cerminan dan pelajaran bagi bangsa Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dini – early warning and early respon – agar seluruh bangsa Indonesia prihatin kepada para korban dan sekaligus ikut mengutuk aksi kejahatan luar biasa tersebut. Secara historis, bangsa Indonesia telah banyak mengalami aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh oknum yang tidak memahami konsep dasar jihad secara komprehensif yang berakibat pada lahirnya asumsi yang menuding ajaran Islam mengajarkan aksi teror.

Jika  saja para kelompok pelaku bom bunuh diri dan  kelompok yang bersimpati dengan aksi kejahatan kemanusiaan dan aksi kejahatan lintas negara tersebut, memahami secara komprehensif, holistik dan pluralis konsep jihad, maka semangat militansi tersebut dapat diarahkan pada jalan yang lebih humanis, membumi dan membawa suasana yang lebih damai dan mendamaikan.

Konsep jihad ditujukan pada kesiapan diri untuk menghadapi tantangan hidup, mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang menuju terminal terakhir dari kehidupan manusia, jihad bukan ditujukan kepada pihak yang galau, oknum yang mengemas birahi politiknya mewujudkan ilusi negara Islam yang tidak memiliki dasar, jihad dipersiapkan bagi umat manusia terutama yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jihad ditujukan pula bagi orang Islam yang sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, menahan rasa lapar dan dahaga, serta memiliki rasa seolah tidak berpunya agar dapat merasakan nasib manusia lainnya yang kurang beruntung yang sepanjang hidupnya merasakan derita kelaparan dan dahaga kehausan.

Kebon Sirih, 29 Juni 2016.

Facebook Comments