Bulan Suci, Pekan Suci, dan Toleransi

Bulan Suci, Pekan Suci, dan Toleransi

- in Narasi
447
0
Bulan Suci, Pekan Suci, dan Toleransi

Iman adalah suatu hal yang sepertinya selalu mengelak dari jeratan nalar. Dan filsafat, celakanya, hidup karena jeratan itu, kategorisasi. “Berpikir adalah mengkategorisasi,” ucap Aristoteles. Atas dasar itulah kemudian sejarah agama adalah juga sejarah tentang membilang yang tak terbilang, membentuk yang tak berbentuk.

Alasan orang berlapar-lapar dan berdahaga ria di bulan Ramadhan konon adalah dalam rangka mendidik diri, bahwa terdapat kenyataan beserta segala konsekuensinya yang berlebih dari sekedar kenyataan dan kenikmatan yang di sini dan kini. Dan konon pesan bahwa ibadah puasa adalah melulu “untukmu” mendapatkan kewijangannya.

Arti dari individualitas ibadah puasa itu adalah bahwa kita sendirilah yang pada akhirnya menjadi penentu tentang manfaat, akibat, ataupun kerugian dan keuntungannya. Maka, dapat dimengerti kenapa dalam khazanah agama Islam ibadah puasa itu, dilihat dari segi implikasi, tak dibutuhkan oleh Tuhan. Orang mau berpuasa atau tidak, pada dasarnya, bukanlah urusan Tuhan. Tuhan, konon, sama sekali tak menjadi berkurang ataupun bertambah oleh ketaatan ataupun pembangkangan orang.

Pada Ramadhan kali ini benarlah bahwa ibadah puasa ternyata tak semata untuk umat Islam (Ramadhan dan Jiwa-Jiwa yang Toleran, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org). Seusai beriringan dengan ibadah Nyepi, Ramadhan tahun ini juga beriringan dengan Pekan Suci atau Hari Raya Paskah. Kedua ritus non-Islam itu berkaitan pula dengan aktifitas mengontrol “nafsu,” yang dalam agama Islam dimaknai pula sebagai “diri.”

Sebagaimana Ibadah Nyepi yang untuk sementara waktu berpantang dari segala kenikmatan inderawi dan total untuk fokus pada kejaten, Paskah pun juga berputih ria dalam ittiba’ Yesus yang dalam spiritualitas Islam identik dengan optimalisasi diri muthmainnah dalam surat al-Fajr. Di sinilah kemudian orang akan sampai pada pemahaman bahwa masing-masing jalan itu ternyata memiliki muara yang sama: adab seorang hamba pada Tuhannya. Atau secara khusus, dalam perspektif spiritualitas Islam, dalam ibadah puasa—dengan berbagai bentuknya—orang dilatih untuk mengukur keridhaan Tuhan dengan keridhaan dirinya.

Batas yang diberikan Tuhan pada makhluknya, dengan demikian, adalah seturut dengan penerimaan orang pada batas-batas yang telah ia capai. Maka, karena batas masing-masing orang berbeda, dapat dipahami kenapa sampai ada berlaksa marga di dunia ini untuk menuju kepadaNya. Ibadah Nyepi, ibadah di bulan Ramadhan, dan ibadah dalam Hari Raya Paskah, hanyalah beberapa marga di antara marga-marga itu.

Orang yang kemudian meributkan marga-marga atau jalan-jalan itu adalah laiknya orang yang meributkan ukuran-ukuran pakaian atau ageman yang ternyata semuanya memang sudah dipersiapkan untuk tubuh-tubuh yang akan memakainya. Dengan demikian, intoleransi jelas-jelas adalah sikap dan perilaku konyol yang ternyata suka meributkan hal-hal yang belum tergelar, atau dalam kenyataannya belum terwujud, seperti meributkan pakaian dengan berbagai ukuran di gerai-gerai penjualan.

Facebook Comments