Esensi Haji Ialah Persatuan

Esensi Haji Ialah Persatuan

- in Narasi
535
0
Esensi Haji Ialah Persatuan

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa saat ini umat Islam di dunia telah selesai melaksanakan ibadah haji. Selesainya fase mabid di Mina merupakan puncak akhir dari ibadah haji. Jumlah jamaah haji secara keseluruhan pada tahun 2023 ini mencapai 1,8 juta lebih dari 150 negara. Indonesia menjadi negara dengan jamaah terbanyak yang mencapai 203.320 jamaah reguler dan 17. 680 jamaah haji khusus (red; jamaah haji).

Ibadah haji bagi orang muslim mempunyai nilai sakral yang syarat dengan makna. Ia menjadi penyempurna rukun Islam mulai dari syahadat, sholat, zakat, puasa, dan terakhir haji. Bagi orang Islam, akan paripurna rukun Islamnya jika sudah menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah. Ibadah haji merupakan ibadah agung dengan penuh makna yang bisa dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi seseorang sekalipun oleh suatu negara.

Banyaknya jamaah haji dari berbagai negara mengindikasikan bahwa keberagaman suku, ras dan antargolongan mampu menyatu dalam mencapai suatu tujuan. Ibadah haji mengajarkan tentang bagaimana Islam sebagai agama persatuan, bukan memperdebatkan paham agama yang pada akhirnya hanya menyebabkan perpecahan.

Jika ditelisik lebih jauh ke belakang, dalam catatan sejarah Amerika, dikenal Malcom X, seorang tokoh Nation of Islam yang sangat rasis terhadap kulit putih. Gerakannya acapkali dicurigai sebagai rasialis muslim. Namun ketika ia melaksanakan ibadah haji, tokoh yang memiliki nama lengkap Al-Hajj Malik El-Shabazz seketika itu, mengubah pandangannya terhadap kulit putih. Hal ini tersirat dalam suara hatinya yang ia tuangkan dalam surat pribadi kepada asistennya (Aang Ridwan, 2021).

Dalam surat tersebut, Malcom X mengakui bahwa ia belum pernah menyaksikan keramahan yang tulus dan semangat persaudaraan sejati seperti yang dilakukan oleh jamaah haji di tanah suci. Bahkan ia terdiam dan terpesona selama seminggu lantaran indahnya fenomena haji yang syarat dengan perbedaan warna dan ras.

Kutipan surat Malcom X mengindikasikan secara jelas bahwa perjalanan ibadah haji yang dilakukannya telah berhasil mengubah pandangannya yang rasis menjadi egaliter. Menjadikan perbedaan sebagai upaya persatuan. Ibadah haji dengan keberkahannya telah mempengaruhi paradigma pemikiran Malcom X tentang esensi suku, ras dan antargolongan. Seketika itu juga ia menjadi ortodox lantaran ketulusan orang-orang yang melaksanakan ibadah haji tanpa mendiskreditkan warna kulit.

Ibadah haji mempunyai implikasi yang begitu kuat terhadap seseorang. Selain untuk menunaikan kewajiban, haji sejatinya berorientasi pada perubahan yang lebih baik. Perubahan dalam hal ini ialah cara pandang dalam menyikapi ragam perbedaan. Perbedaan dalam segala aspek, termasuk perbedaan dalam beribadah merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan.

Sementara jika merunut kepada Maklumat Nabi Muhammad saw yang disampaikan pada haji Akbar (Haji Perpisahan), isinya antara lain ialah 1) Persatuan dan Kesatuan umat manusia harus dipelihara, tiada perbedaan antara seseorang dengan lainnya kecuali atas dasar pengabdian; 2) Jiwa, darah, kehormatan, harta benda, harus dijunjung tinggi; 3) Orang-orang lemah, seperti wanita harus dibela; dan 4) Penindasan dalam bidang ekonomi harus dihapuskan.

Oleh karena itu, persatuan dan perdamaian dalam fenomena ibadah haji harus terus digelorakan dan diaplikasikan. Karena dalam sejarah keberagaman umat Islam, Ragam perbedaan terkadang menjadi bias potensi konflik yang mengarah pada perpecahan. Realita demikian telah menggoreskan tinta hitam perjalanan sejarah umat Islam. Padahal dalam beragama yang diajarkan dalam rangkaian ibadah haji, perbedaan merupakan hal yang harus dihormati dan dijunjung tinggi demi mewujudkan persatuan yang kokoh dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Facebook Comments