Inilah 3 Ciri Penjual Agama untuk Kepentingan Politik yang Perlu Diwaspadai!

Inilah 3 Ciri Penjual Agama untuk Kepentingan Politik yang Perlu Diwaspadai!

- in Narasi
559
0
Inilah 3 Ciri Penjual Agama untuk Kepentingan Politik yang Perlu Diwaspadai!

Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa menjelang tahun politik 2024, banyak orang atau bahkan kelompok yang melakukan segala daya dan upaya untuk meraih simpati masyarakat dengan berbagai cara, termasuk menjual agama untuk kepentingan politik.

Hadirnya kelompok yang menggunakan politik identitas sebagai sebuah cara untuk meraih simpati dan menjatuhkan lawan politik tentu saja menjadikan hajatan politik tidak sehat. Pemilu yang seharusnya menjadi suksesi kepemimpinan nasional guna menghasilkan pemimpin yang bersih, jujur dan kompeten, justru didistorsi oleh kelompok yang tak bertanggung-jawab.

Oleh karena itu, penting kiranya masyarakat menolak keras segala aktivitas politik yang dibangun atas dasar memanfaat identitas (agama) untuk memecah-belah masyarakat, menebar kebencian dan permusuhan.

Namun yang menjadi persoalan adalah, seringkali masyarakat terkecoh oleh narasi-narasi yang sengaja diproduksi oleh kelompok tertentu untuk memecah-belah bangsa. Walhasil, banyak masyarakat justru terpengaruh sehingga turut menyuburkan narasi kebencian dan intoleransi tersebut.

Agar masyarakat tidak terkecoh oleh penjual agama untuk kepentingan politik jangka pendek, perlu kiranya mengidentifikasi ciri-ciri kelompok yang menjual agama itu seperti apa. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan literasi masyarakat sekaligus menghindari kelompok yang dengan sengaja menjual agama untuk kepentingan politik.

Ciri-ciri Penjual Agama untuk Kepentingan Politik

Tidak mudah dan tidak juga sulit untuk mengidentifikasi kelompok yang menjual agama untuk kepentingan politik. Namun, 3 ciri di bawah ini bisa membantu masyarakat mengenali para penjual agama untuk kepentingan politik sehingga kita tidak turut menjadi “pembelinya”.

Pertama, mempolitisasi ayat-ayat al-Qur’an.

Mempolitisasi ayat-ayat al-Qur’an sejatinya bukanlah hal yang baru terjadi dalam ranah kontestasi politik. “Bisnis agama” untuk kekuasaan itu sudah pernah menodai bumi pertiwi sejak dahulu kala.

Sejak orde lama, bahkan orde baru, praktek menjual agama sudah terjadi. Salah satu bentuknya adalah mempolitisasi QS. al-Baqarah ayat 35: “Dan janganlah kamu dekati pohon ini agar kamu tidak tergolong orang-orang yang dhalim”.

Kata “syajarah” yang berarti pohon khuldi, pernah dipolitisi oleh pendukung partai tentu sehingga bermakna “Dan janganlah kamu dekati Golkar agar kamu tidak termasuk golongan orang dzalim.”

Tidak hanya itu, masih menggunakan gaya yang sama, yakni mengutip suatu ayat al-Qur’an untuk menjelekkan partai lain. Kali ini yang pernah menjadi korban adalah PDIP. Pada QS. al-Baqarah ayat 67, yang artinya: “Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya: sesungguhnya Allah memerintah kalian untuk menyembelih sapi”.

Kata “sapi” dalam ayat ditas diplesetkan menjadi banteng, sehingga maknanya bebelok menjadi: “sesungguhnya Allah memerintah kalian untuk menyembelih PDI.”

Kedua, berpenampilan menarik, sesungguhnya munafik.

Para penjual agama untuk kepentingan politik jangka pendek penampilannya sangat menarik, bahkan narasinya seolah-olah melakukan perbaikan, padahal sejatinya mereka merusak agama Allah.

Itulah yang kemudian disebut al-Qur’an sebagai orang munafik. Dalam QS. Al-Munafiqun ayat 4, Allah menggambarkan orang munafik sebagai berikut:

Dan apabila kamu melihat mereka (orang munafik), tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

Lebih jauh lagi, dalam QS al-Baqarah ayat 11-12, Allah menjelaskan bahwa ada kaum yang mengklaim bahwa dirinya melakukan perbaikan, namun sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Seakan fenomena belakangan ini menjelang tahun politik 2024, ayat di atas menemukan relevansinya. Bagaimana tidak. Kita lihat di berbagai tempat umum, baik di mimbar-mimbar dakwah, channel youtube, beranda media sosial dan lai sebagainya ustadz-ustadz atau da’i yang dengan bangga mengutip ayat suci tetapi ia gemar mengkafirkan sesama muslim, hanya karena tidak mendukung calon tertentu.

Ketiga, suka mengulik identitas. Orang yang menjual agama untuk kepentingan politik lazimnya menjadikan identitas sebagai komoditas. Karena identitas memang menjadi aspek yang paling sensitif sehingga ketika aspek ini diulik dibumbui dengan politik, akan mampu membangkitkan sentimen masyarakat.

Politik identitas dengan menjual agama akan menjadikan demokrasi tidak sehat. Celakanya lagi, kondisi tersebut sangat rawan dimasuki oleh kelompok radikalis-teroris sehingga bisa menciptakan masyarakat yang terkotak-kotak dan intoleran.

Facebook Comments