Islam Mengedepankan Persaudaraan

Islam Mengedepankan Persaudaraan

- in Suara Kita
323
2
Islam Mengedepankan Persaudaraan

Kehadiran agama, sebagai penggerak ketidakadilan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Seperti halnya Islam, kehadirannya sebagai bentuk perlawanan terhadap kehidupan pada waktu itu yang tidak seimbang. Lambat laun agama diperalat demi kepentingan individu. Seperti hanya terorisme membuktikan bagaimana agama diperalat demi kepentingan individu tanpa kepentingan bersama.

Ketika agama dan teroris disandingkan, di lain sisi agama memiliki peran sebagai terbentuk sebuah moral yang beradab. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang meledakkan bom atau kekerasan bernama teroris mengatasnamakan agama untuk melakukan kekerasan (dilihat dari kaca mata materialistis). Kasus-kasus yang beredar di media, mengatakan bahwa agama tidak berpengaruh besar terhadap perilaku umatnya, terutama dalam perilaku teroris.

Seperti halnya agama Islam, merupakan sebuah sistem ajaran yang begitu kompleks. Berjalannya waktu, ajaran yang begitu sempurna semakin memudar. Dan beberapa orang yang menganggap dirinya penganut Islam yang taat, tidak memperlihatkan ajaran Islam itu seperti apa, melainkan memperburuk Islam sendiri. Kita bisa lihat bagaimana ajaran Islam bahkan ayat-ayat suci diperalat demi keuntungan pribadi.

Dengan etika beragama semacam itu, akhirnya Islam, dipandang sebuah agama yang negatif. Agama yang mengajarkan kekerasan. Tidak bisa dipungkiri, beberapa penganut agama Islam membantah bahwasanya ajaran Islam tidaklah mengajarkan hal demikian. Kenyataannya, mereka yang melakukan kekerasan menggunakan simbol-simbol yang mengarah kepada penganut Islam itu sendiri.

Baca juga : Menguatkan Spirit Persaudaraan Negara Bangsa (Nation State)

Tindak hanya itu, mereka yang mengatasnamakan Islam dalam melakukan aksi, secara terang-terang menganggap kebudayaan lokal adalah kebudayaan yang tidak baik. Mereka menganggap kebudayaan lokal harus diganti dengan kebudayaan Arab. Atau, yang tidak ada di kitab suci, suatu kebudayaan dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Ambil contoh tradisi tahlilan, di secara teks tidak ada yang mengajarkan dan tradisi tahlilan hanya ada di Indonesia. Ini memperlihatkan Islam di suatu daerah memiliki rasa yang berbeda satu sama lain.

Kehadiran Islam di pelbagai negara mempunyai keanekaragaman dalam hubungan dengan hakikat dan jejak kebudayaan masyarakat di masing-masing negara. Seperti halnya pemikiran Toshihiko Izurtsu yang memiliki ciri kas dari daerah-daerah lainnya. Toshihiko Izutsu merupakan pakar keislaman Jepang yang karya-karyanya banyak dirujuk dan menginspirasi dalam studi Islam, terutama dalam studi al-Quran, tasawuf, dan filsafat.

Menurut Toshihiko Izutsu al-Qur’an bisa didekati dengan sejumlah pendekatan yang beragam, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, neurologi, fisiologi, biologi, filsafat analitis, logika simbolik, matematika, elektronik, dan masih banyak lagi, tidak terkecuali semantic, studi tentang makna. Diantara sekian banyaknya pendekatan yang ada, Toshihiko Izutsu konsisten menggunakan pendekatan linguistik khususnya semantik al-Qur’an.

Toshihiko Izutsu juga menyatakan bahwa ditilik dari sudut fakta, ayat al-Qur’an itu ditakdirkan berkembang tidak hanya sebagai suatu agama belaka tetapi sebagai kebudayaan dan peradaban. Oleh karena itu, kandungan al-Qur’an diakui sebagai suatu yang teramat agung dalam lapangan etika sosial yang berisikan konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari bagi orang banyak di dalam masyarakat.

Secara garis besar, memahami Islam mengikuti alur pemikiran Toshihiko Izutsu, setidaknya ada dua hal yang dapat diambil secara garis besar. Pertama, Toshihiko Izutsu memperkenalkan metode cara menafsirkan kitab suci al-Quran. Toshihiko Izutsu menggunakan metode Semantik. Menurut Toshihiko Izutsu, Semantik merupakan kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian.

Konseptual weltanschauung (pandangan dunia) masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, tidak hanya sebagai alat bicara dan berfikir, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah pengkonsepan dan penafsiran dunia yang melingkupinya. Penerapan metode semantik terhadap al-Qur’an berarti berusaha menyingkap pandangan dunia al-Qur’an melalui analisis semantik atau konseptual terhadap bahan-bahan dalam al-Qur’an sendiri, yakni kosa-kata atau istilah-istilah penting yang banyak dipakai oleh al-Qur’an.

Selanjutnya Izutsu mulai menganalisa struktur kata atau kalimat yang sedang dikaji. Ia mencari makna dasar dan makna relasional dari suatu kata. Menurut Izutsu kategori semantik dalam sebuah kata biasanya cenderung sangat kuat dipengaruhi oleh kata-kata yang berdekatan yang termasuk dalam daerah pengertian yang sama. Dan jika frekuensi penggunaan kata tersebut dengan dihadapkan pada kata yang berlawanan sering ditemukan.

Secara semantik kata tersebut perlu memperoleh nilai semantik yang nyata dari kombinasi spesifik ini. seperti kata kafir yang mempunyai dua makna ketika dihadapkan dengan kata yang berbeda. Ketika berhadapan dengan kata syakir, ‘seseorang yang berterima kasih’, maka kafir tersebut bermakna ingkar terhadap nikmat Tuhan. Akan tetapi jika kafir dalam suatu kalimat berlawanan dengan kata mu’min, makna yang diperoleh mengarah pada kafir teologis atau mengarah pada mengingkari keesaan Tuhan.

Kedua, Izutsu menjelaskan pandangan keduniaan yang dimiliki Al-Qur’an. Dan ini adalah langkah terakhir dan paling utama dalam kajian semantik. Dalam langkah ini Izutsu mengajak kita mempertanyakan tentang bagaimana al-Qur’an memakai kata itu dan bagaimana hubungan kata itu dengan kata-kata yang lain, di manakah posisinya, fungsinya, pengaruhnya dan sebagainya.

Izutsu cenderung menyetujui teori pluralistic yang menyatakan bahwa pandangan suatu bangsa mengenai apa yang baik dan buruk atau benar dan salah, berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu. Juga berbeda secara fundamental bukan dalam tingkatan suatu skala kesatuan perkembangan kultural yang dapat dijelaskan sejauhnya mengenai rincian hal yang remeh temeh. Akan tetapi berbeda dalam divergensi-divergensi kultural yang lebih mendasar yang akar-akarnya tertanam dalam kebiasaan-kebiasaan bahasa dari masing-masing komunitas individual.

Dari pemikiran Izutsu ini kita bisa memperlihatkan bagaimana Islam lahir dan besar karena keterbukaan terhadap kebudayaan serta cara berpikir yang berbeda. Setiap daerah memiliki pemahaman yang berbeda, tetapi meninggalkan ajaran inti agama Islam itu sendiri. Sebab inti ajaran Islam adalah Tuhan, Manusia serta alam.  Ketiganya adalah inti ajaran Islam secara perenial yang mencakup al-dunya wa ma fiha (dunia seisinya, termasuk manusia) dan Penciptanya.

 

Facebook Comments