Lailatul Qadar: Hikmah Malah Seribu Berkah

Lailatul Qadar: Hikmah Malah Seribu Berkah

- in Keagamaan, Wacana
2079
0

Dari Aisyah, ia berkata bahwa Nabi Saw ketika memasuki sepuluh malam terakhir [di bulan Ramadhan], beliau mengencangkan perutnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kisah di atas memberi gambaran betapa Rasul begitu mengutamakan malam lailatul qadar; Ada banyak rahasia yang terkandung didalamnya hingga tidak mudah untuk diungkap dengan kata-kata. Namun satu hal yang jelas, Rasul begitu menggebu memburu malam ini bukan tanpa alasan. Alquran diturunkan pertama kali tepat pada malam penuh kemuliaan ini, sehingga dengannya ada banyak pelajaran yang dapat diambil, karena Allah tidak akan memilih suatu malam untuk peristiwa penting tanpa alasan dan tujuan tertentu.

Berdasarkan pengamatan dan pembelajaran dari para tokoh muslim terkemuka, malam lailatul qadar memang menyimpan banyak hikmah yang dapat menjadi pelajaran dan pegangan untuk kita bersama. Ada terlalu banyak pelajaran dan hikmah yang dapat diambil dari peristiwa tahunan ini, berikut adalah beberapa diantaranya;

  1. Menempatkan Alquran Dalam Kehidupan

Salah satu sebab dimuliakannya malam lailatul qadar diantara malam-malam yang lain adalah bahwa di malam ini Allah menurunkan alquran. Sebuah mukzizat terbesar yang pernah Allah berikan kepada kekasihnya. Dalam konteks kehidupan modern, malam lailatul qadar merupakan pengingat betapa Allah telah menurunkan alquran bukan saja sebagai bahan bacaan, tetapi juga pegangan dan panduan hidup manusia. Karenanya malam yang dimuliakan ini dapat digunakan sebagai momen untuk melihat kembali bagaimana diri kita selama ini menempatkan alquran dalam kehidupan sehari-hari; apakah ia benar telah menjadi tuntunan atau masih sekedar sebagai bacaan?

  1. Momen Intropeksi Diri

Secara bahasa, qadar memiliki persamaan arti dengan kata takdir, yakni ketentuan atau ketetapan tuhan atas diri kita. Beberapa ulama mengartikan kaitan takdir dengan malam lailatul qadar sebagai bagian dari proses pemberian ketetapan. Di malam ini Allah melakukan semacam evaluasi atas ketetapan yang ia berikan kepada kita. Ketetapan baik dan buruk yang diberikan Allah kepada kita dievaluasi kembali pada malam ini, karenanya rasul memerintahkan kita untuk melakukan ibadah di malam ini agar Allah melihat kita sebagai hamba yang ‘pantas’ atas ketetapan yang baik untuk diri kita, dan agar Allah menjauhkan kita dari ketetapan buruk.

  1. Titik Balik Menuju Diri yang Lebih Baik

Pada malam yang memiliki kemuliaan melebihi 1000 bulan ini, Allah menurunkan berbagai kebaikan dan kemuliaan kepada setiap hambanya yang meminta. Karenanya malam ini menjadi momen yang sangat tepat untuk berserah diri kepada Allah dengan mengakui segala kekurangan dan bahkan mungkin kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya.

Malam ini adalah malam terbaik untuk memohon ampunan kepada-Nya dan kemudian meminta pertolongan agar selalu dibimbing untuk menjadi manusia yang lebih baik. Momentum penurunan alquran di bulan ini juga merupakan simbol tentang diangkatnya manusia dari keadaan penuh kegelapan menuju kondisi terang benderang. Allah menyatakan hal ini secara jelas dalam ayat yang berbunyi, “Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS: 14:1)

  1. Mempertebal Semangat Menebar Perdamaian

Konsekuensi langsung dari kerelaan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah adalah konsistensi untuk memperbaiki diri. Meninggalkan segala keburukan yang pernah dilakukan dan memperbanyak kebaikan. Sebagai umat dari agama yang mengedepankan keselamatan (salam) dan perdamaian, merupakan kewajiban kita semua untuk memastikan bahwa ajaran-ajaran kedamaian yang ada dalam Islam tidak hanya terjepit kaku dalam tumpukan buku; kita harus menjadikan ajaran-ajaran tersebut sebagai landasan dan gaya hidup.

Hal ini dapat dimulai dari diri sendiri, yakni dengan mulai belajar untuk berbuat adil baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Maka dengan cara itulah kita semua dapat hidup sebagai muslim yang sebenarnya, yang selalu dapat memberikan rasa aman, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain di sekitar kita.

Sebentar lagi bulan ramadhan akan beranjak pergi, merupakan sebuah kerugian besar jika bulan penuh kemuliaan tersebut pergi begitu saja tanpa meninggalkan ‘bekas’ pada pola pikir dan sikap hidup kita. Karenanya sebelum bulan ini benar-benar pergi, mari segera melakukan intropeksi dan belajar untuk selalu memperbaiki diri.

Bulan ramadhan kali ini harus terasa beda!

Facebook Comments