Manusia Ironis Anti Radikalisme

Manusia Ironis Anti Radikalisme

- in Editorial
1740
0

Karena kebenaran adalah milik dari kalimat-kalimat, dan karena kalimat bergantung keberadaannya pada kata-kata, dan karena kata-kata adalah buatan manusia, maka begitu pula dengan kebenaran…

Richard Rorty

 

Istilah manusia ironis secara konsep dikenalkan oleh Richard Rorty, seorang filsuf dari Amerika Serikat. Pemikiran manusia ironis yang dimasksud Richard Rorty adalah orang atau diri sendiri yang menyadari bahwa pandangan dunia, kepercayaan-kepercayaan dan keyakinan-keyakinan diri sendiri yang paling mendalam sekalipun bersifat kebetulan. Manusia ironis itu bukan berarti ia tidak dapat sungguh-sungguh meyakini sesuatu, skeptis total, dan bukanlah orang tanpa keyakinan, Rorty menegaskan bahwa manusia ironis adalah orang yang dapat meyakini sesuatu namun tidak harus fanatik dan eksklusif bersedia mengakui bahwa orang lain bisa saja mempunyai pandangan dan keyakinan yang berlainan, yang tidak mesti “kurang benar”.

Aksi radikalisme dan terorisme yang saat ini berkembang hampir di seluruh negara, tanpa terkecuali Indonesia, kini semakin berkembang. Pola konvensional yang dilakukan pelaku radikalisme dan terorisme yang mulanya hanya dilakukan dengan cara-cara rekrutimen langsung melalui komunitas tertentu, kini berganti menggunakan teknologi informasi di dunia maya (internet). Pola rekruitmen ini dilakukan melalui hasutan, penyebaran kebencian dan penyebaran paham radikal dan terorisme.

Bahkan menurut data institute for economic and Peace, Indonesia masuk urutan ke-33 sebagai korban terorisme sejak 2002 hingga 2014. Total Indonesia kehilangan 466 jiwa karena 226 aksi terorisme. Ratusan kejadian itu juga membuat 1302 orang luka-luka dan 392 bangunan rusak. Itu belum termasuk beberapa kejadian teror terbaru, seperti peristiwa Bom Thamrin yang memakan korban hingga 34 orang.

Melihat fenomena aksi radikalisme dan terorisme ini, muncul pertanyaan; apa sebetulnya yang melatar belakangi seseorang berprilaku radikalisme dan terorisme? secara definisi, radikalisme adalah suatu paham yang dibuat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Namun bila dilihat dari sudut pandang keagamaan, paham itu dapat diartikan sebagai paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar, disertai dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari paham / aliran tersebut menggunakan kekerasan kepada orang yang berbeda paham / aliran untuk mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianut dan dipercayainya untuk diterima secara paksa.

Seorang penganut radikalisme dan terorisme memiliki watak dan sifat merasa benar sendiri, merasa suci, anti terhadap perubahan, anti terhadap perbedaan, anti terhadap tradisi dan nilai-nilain lain yang dianggap bukan nilai yang dianutnya, tertutup, penuh kebencian dan prasangka terhadap orang lain, dan berlebihan dalam pandangan agamanya (ghuluw). Dalam perbuatan, penganut paham ini cenderung kejam dan bengis. Lihat saja di internet bagaimana kelompok semacam ISIS melakukan penyebaran video-video kekejaman. Menurut Rorty, Kekejaman adalah puncak dari kejahatan manusia, kekejaman mengalahi semua aspek kejahatan yang ada di muka bumi. Kelompok penganut radikalisme dan terorisme justru menjadikan kekejaman sebagai identitas, karakter dan nilai-nilai kelompoknya. Tidak sedikit perilaku kejam ini dibahasakan atas nama agama dan nama Tuhan.

Karenanya Rotry secara definitif menyatakan konsep manusia ironis patut diusung. Ironis bukan berarti relatifis, ironis diartikan bahwa perilaku seseorang tidak fanatik dan fundamentalis. Kebenaran bukanlah kata dan kalimat.

Radikalisme dan terorisme mengusung kata dan kalimat dengan menggunakan ayat-ayat Tuhan, dan menafsirkan secara tunggal sebuah ayat. Menafsir dengan mengikuti hawa nafsunya, menafsir dengan keterbatasan pemikirannya. Jika begini, bukankah radikalisme terorisme berupaya menjadikan isi di kepala sebagai Tuhannya??

Menjadi ironis berarti menjadi terbuka dan toleran, melihat secara luas makna-makna di sekitar kehidupan. Ada sebuah solidaritas untuk tetap menjaga keberagaman kehidupan manusia di muka bumi.

 

Facebook Comments