Masjid dan Pengeras Suara yang Semakin Sakit

Masjid dan Pengeras Suara yang Semakin Sakit

- in Keindonesiaan
2103
0

Tepat di sebelah rumah saya terdapat sebuah masjid yang menurut saya cukup unik, tentu dalam makna yang baik. Di masjid ini seluruh jamaahnya sepakat untuk tidak menggunakan pengeras suara, bukan karena mereka tidak mampu membelinya, tetapi karena mereka khawatir pengeras suara yang ada di masjid itu dapat mengganggu warga yang lain, khususnya para bayi dan warga beda agama.

Beberapa orang saya kira pasti menganggap masjid ini nyleneh, sebagain dari kita yang sudah sangat terbiasa teriak-teriak di mike masjid pasti juga mengira jamaah di masjid sebelah rumah saya aneh. Sebagian dari kita sudah terlalu yakin bahwa puja-puji khas Islam –tak peduli seberapapun bisingnya itu– layak didengar oleh siapa saja, termasuk bayi dan warga beda agama. Kegilaan untuk menyebar ajaran agama kerap membuat sebagaian dari kita lupa untuk menghormati hak-hak orang lain. Khususnya hak untuk membiarkan mereka tenang tanpa gangguan.

Islam di Indonesia harusnya merefleksikan semangat keberagamaan masjid itu, lebih mengedepankan rasa khawatir mengganggu, bukannya malah semangat mengganggu hanya karena merasa paling nomor satu. Rasa jumawa karena menjadi mayoritas kerap membuat sebagian dari kita mengumbar sikap-sikap kasar dan culas. Jangankan untuk menghormati, berhenti untuk menghina dan mengumbar cacian kepada sesama saja rasanya sudah terlalu sulit dilakukan.

Saya kasihan pada nasib si pengeras suara di masjid, tidak peduli seberapa nyaring ia menjerit, tetap saja ia dianggap kurang kenceng suaranya. Maka tidak heran rasanya jika belakangan kita mulai melihat pengeras suara yang diarak ke jalan-jalan, mereka dipasang begitu saja di atas truk-truk bak terbuka untuk digunakan sebagai alat mengumbar neraka kepada kelompok lain yang memiliki pandangan dan keyakinan yang berbeda. Pengeras suara yang sebelumnya khusus untuk memperdengarkan adzan di masjid, kini sudah berubah fungsi menjadi alat untuk mengumbar cacian dan kutukan oleh mereka yang otaknya sempit.

Kembali ke masjid sebelah rumah saya, hal lain yang menarik dari masjid ini adalah kepekaan dan kesetiaan para jamaahnya untuk selalu datang tepat waktu. Tanpa pekik adzan yang menggema, para jamaah tetap bisa datang untuk melaksanakan sholat secara bersama-sama, mereka tidak pernah terlambat. Hal ini setidaknya membenarkan anggapan bahwa ibadah itu perkara panggilan hati, bukan panggilan speaker di sepanjang hari.

Tanpa pengeras suara pun, tuhan nyatanya masih tetap bisa mendengar lantunan doa dan puja-puji para umatnya. Hal ini terlihat dari kesehatan dan kebahagiaan para jamaah yang selalu terpancar jelas tiap kali mereka berduyun-duyun memadati masjid. Bagi saya, pelajaran terbesar yang diambil dari kisah ini adalah tentang kesadaran untuk lebih mengedepankan sikap menghargai dan selalu khawatir kalau-kalau apa yang kita lakukan –meskipun diniati baik—bisa menganggu orang lain.

Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi demokrasi, sudah seharusnya bagi kita untuk berani fair: Jangan hanya bisa menyalah-nyalahkan pihak lain tanpa pernah mau berkaca pada tingkah polah diri sendiri. Umat dari agama lain mau mendirikan tempat ibadah dipersulit, kalaupun tempat ibadahnya sudah gagah berdiri, dirubuhin!

Saya lalu ingat kisah Gus Dur, dalam suatu kesempatan beliau berkata, “Kalau Anda ingin tahu kebesaran Islam Indonesia, lihatlah candi Borobudur. (Meskipun itu) tempat peribadatan umat Budha, tetapi di Indonesia yang mayoritasnya umat Islam, (candi itu) dirawat dengan baik dan menjadi pusat wisata dunia”.

Hal di atas setidaknya bermakna bahwa kita bisa menjadi besar justru karena kita mengasihi dan melindungi mereka yang tidak/belum besar. Bersikap ugal-ugalan, sekalipun dengan kepala dibungkus surban, tidak akan menunjukkan kebesaran Islam. Selama kita masih saja ‘beraninya’ gangguin minoritas, selama itu pula kita nggak pernah waras.

Menggunakan pengeras suara untuk kepentingan ibadah tentu boleh-boleh saja dilakukan, hanya saja kalau boleh usul, pihak masjid harus memastikan bahwa ‘suara’ yang akan diantar ke telinga masyarakat enak didengar, sehingga masyarakat juga adem pas mendengarnya. Mungkin bisa meniru kebijakan pemerintah Pakistan yang mewajibkan Muadzin (orang yang melantunkan adzan) untuk mengikuti pelatihan terlebih dahulu, sehingga adzannya bagus dan enak didengar.

Atau kalau mau, tidak usah pakai speaker saja sekalian, seperti masjid di sebelah rumah saya. Masyarakat yang ingin beribadah dapat tetap beribadah. Karena tanpa jeritan speaker pun, masyarakat juga sudah tahu saat-saat melaksanakan sholat, sementara adik-adik bayi dan masyarakat beda agama juga dapat tetap tenang dengan dunia mereka masing-masing.

Seorang teman Muslim asal pakistan suatu ketika merasa heran dengan ‘riuh’-nya suara masjid kita, saya pun bertanya, “emang di negara kamu masjid ga pake speaker?”.

“Oh, tentu pakai speaker juga. Hanya saja tidak semua orang boleh menggunakan speaker itu, harus diseleksi dan memiliki sertifikat”, jawab teman saya.

Facebook Comments