Melihat Lebih Dekat Simpul-Simpul Keagamaan di Gaza

Melihat Lebih Dekat Simpul-Simpul Keagamaan di Gaza

- in Narasi
44
0
Melihat Lebih Dekat Simpul-Simpul Keagamaan di Gaza

Konflik di Gaza seringkali dinarasikan hanya sebagai konflik antar-agama saja. Banyak yang melihat seakan-akan konflik tersebut terjadi antara dua kelompok keagamaan yang homogen: Palestina hanya Islam, Israel hanya Yahudi. Pemahaman yang terlalu menyederhanakan (reduksionis) seperti ini kemudian membuka kesempatan bagi kelompok-kelompok ekstremis untuk menghanyutkan masyarakat dalam narasi-narasi yang memarginalkan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang terkandung di dalam Pancasila.

Padahal, hal ini malah mempersempit dan justru sedang meremehkan penderitaan orang-orang Palestina di sana dengan beragam pengalamannya. Pandangan yang reduksionis itu melupakan bahwa penderitaan orang-orang di Gaza tidak tunggal, melainkan beragam, bhineka sebagaimana Indonesia. Dengan begitu, kita sebagai masyarakat Indonesia dapat memahami lebih dekat penindasan yang sedang terjadi di sana. Untuk itu, artikel ini akan menunjukkan ragamnya dimensi pengalaman penduduk Gaza dan berbagai simpul keagamaan yang turut berjalinan dalam penderitaan mereka.

Kebhinekaan Gaza

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa faktor agama turut bermain di panggung konflik ini. Di berbagai sudut media sosial dapat kita perhatikan betapa kentalnya narasi keagamaan yang digunakan oleh pendukung kedua belah pihak. Berbagai narasi dan argumen keagamaan digunakan untuk menyatakan opini mereka masing-masing tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan untuk meresponi konflik yang sedang terjadi.

Namun, ternyata tidak hanya tradisi Islam saja yang berjalin di sana. Banyak juga orang-orang dan organisasi dari berbagai agama yang turut merasakan, menentang, dan berjuang melawan penindasan terhadap orang-orang di Gaza. Ragamnya latar belakang agama yang ikut bereaksi di sini menunjukkan juga betapa ragamnya lapis penderitaan yang ditimbulkan oleh konflik tersebut. Dengan demikian, Gaza tidak dapat kita lihat sebagai sebuah pengalaman yang semata-mata seragam.

Pertama, di antara orang-orang Muslim di sana ternyata tidak semua menganut aliran yang sama. Di antara penduduknya ada juga jemaat Syiah dan aliran lain yang juga hidup di Gaza oleh karena adanya kampung-kampung Syiah di sana sejak tahun 1920-an. Dengan begitu, walaupun kaum Sunni lebih banyak secara jumlah, sekarang kita sadar dan perlu mengingat juga bahwa kaum Muslim yang dimaksudkan tidaklah seragam.

Selain populasi Islam, ada juga umat Kristen yang tinggal di Gaza. Sekitar seribu orang yang tinggal di sana merupakan jemaat Kristen Ortodoks dan Katolik. Tercatat bahwa pada 19 Oktober 2023 lalu, ada belasan orang Kristen terbunuh Gereja Santo Porphyrius. Demikian, penindasan yang dialami di sana tidak eksklusif. Penderitaan orang-orang Islam di Gaza juga dirasakan oleh orang-orang Kristen di sana.

Selain itu, ada pula organisasi Kairos Palestine. Organisasi ini, menurut lamannya di kairospalestine.ps, merupakan gerakan Kristen Palestina yang mengadvokasi masyarakat Palestina dan melawan pendudukan Israel terhadap Palestina. Tidak hanya alasan kemanusiaan, mereka memahami gerakan advokasi terhadap Palestina ini sebagai gerakan spiritual dengan narasi kasih, doa, dan pengharapan dalam iman Kristen. Gerakan ini tidak terlepas dari kerjasama umat Kristen internasional, termasuk di Indonesia, yang semakin menunjukkan bahwa perjuangan melawan penindasan di Gaza sebagai gerakan yang melampaui identitas keagamaan.

Dari beberapa contoh ini dapat kita lihat bahwa permasalahan di Gaza bukanlah masalah yang terisolasi hanya pada umat Islam saja. Ia bukan konflik agama Yahudi melawan agama Islam, apalagi agama Kristen melawan agama Islam. Konflik di sana merupakan pergulatan bersama orang-orang dari berbagai tradisi agama.

Kesadaran Keragaman Memperdalam Simpati

Itulah alasan mengapa kita perlu berhati-hati dalam narasi keagamaan. Jangan sampai kita dijebak oleh kelompok-kelompok fundamentalis agama yang sedang berusaha mempersempit pandangan kita dengan meyakinkan kita seakan-akan konflik ini semata-mata konflik agama. Dua alasannya: (1) paham tersebut mempersempit pengalaman penderitaan orang-orang di Gaza karena mengabaikan keragamannya; (2) paham tersebut dimanfaatkan oleh kaum ekstremis dan intoleran untuk menimbulkan polarisasi berlebih di antara masyarakat, sehingga simpati kita menjadi sekadar permainan politik orang-orang yang mengaku agamis.

Pandangan yang reduksionis sebenarnya justru sedang memudarkan penderitaan yang sedang dihadapi di sana. Dengan mengira bahwa hanya orang-orang Muslim yang menjadi korban, maka penderitaan orang Palestina yang beragama Kristen sedang diabaikan. Dengan mengira bahwa hanya orang-orang Sunni yang mengalami penindasan, maka penderitaan orang-orang Syiah dan aliran lainnya sedang dilupakan. Padahal, tidak ada penderitaan yang boleh kita abaikan. Keragaman pengalaman seperti inilah yang justru harus kita gapai agar kita dapat betul-betul memahami penderitaan orang-orang di sana.

Lebih lagi, perlu kita ingat bahwa agama itu sendiri tidak dapat berkonflik; yang sedang berkonflik di sini adalah sesama manusia. Agama merupakan salah satu saja narasi yang digunakan oleh orang-orang tertentu untuk membangkitkan aspek emosional tertentu. Memang, agama adalah salah satu alat yang paling mudah dan sering digunakan untuk memancing aspek emosional, termasuk simpati. Tidak dapat disalahkan juga kalau ada orang-orang yang memupuk simpatinya dan memberangkatkan wawasannya tentang peristiwa di Gaza ini dari narasi-narasi keagamaan. Namun, walaupun simpati bertumbuh dari narasi keagamaan, ia tidak boleh berhenti di sana karena permasalahannya jauh lebih luas dari agama semata. Sebagai orang Indonesia yang bertumpu pada pengalaman keragaman, simpati kita pada korban kekerasan di Gaza harus mengikutkan juga faktor kebhinekaan yang turut berjalinan dalam penderitaan mereka.

Facebook Comments