Propaganda Solusi Khilafah atas Palestina : Mendangkalkan Masalah, Mempersempit Solusi

Propaganda Solusi Khilafah atas Palestina : Mendangkalkan Masalah, Mempersempit Solusi

- in Narasi
93
0
Propaganda Solusi Khilafah atas Palestina : Mendangkalkan Masalah, Mempersempit Solusi

Konflik berkepanjangan antara negara Palestina dan Israel telah menjadi perhatian dunia selama puluhan tahun. Kekerasan, penghancuran harta benda, dan korban jiwa yang terus berjatuhan dari hari ke hari, terutama di kalangan pengungsi Palestina, menimbulkan keprihatinan global.

Dari Timur Tengah hingga Eropa, dari Asia hingga Amerika, berbagai bentuk solidaritas dan dukungan untuk Palestina mengalir deras. Poster-poster bertuliskan“Free Palestine”dan kecaman terhadap Israel dan Amerika Serikat yang dianggap bersekongkol dalam konflik ini, semakin nyaring terdengar di jalanan kota-kota besar dunia.

Di Indonesia, aksi bela Palestina telah menjadi pemandangan umum di berbagai daerah. Organisasi masyarakat, mahasiswa, hingga tokoh agama, semua berbondong-bondong menyuarakan tuntutan yang sama, yakni tentang penghentian perang dan penghormatan terhadap hak-hak rakyat Palestina. Masyarakat Indonesia, yang terkenal dengan solidaritasnya, aktif menggalang dana bantuan kemanusiaan, menyelenggarakan doa bersama, dan menyuarakan aspirasi mereka melalui berbagai platform.

Namun, di tengah gelombang solidaritas ini, muncul kelompok-kelompok lama yang notabene dilarang, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan pendukung ideologi Khilafah lainnya yang berusaha menunggangi isu Palestina untuk mempromosikan agenda politik mereka. Kelompok-kelompok tersebut menggunakan panggung solidaritas sebagai alat untuk memperkenalkan dan menyebarkan ideologi Khilafah, sebuah sistem pemerintahan yang mereka yakini sebagai solusi tunggal untuk konflik di Palestina dan masalah-masalah dunia lainnya, terutama di negara Indonesia.

Seperti yang terjadi pada tanggal 02 Juni 2024, di Gedung Grahadi, Surabaya. Aksi demonstrasi bela Palestina yang diselenggarakan oleh kelompok HTI yang notabene juga merupakan kelompok anti Pancasila dan pengikut Khilafah. Aksi ini memperlihatkan bagaimana kelompok HTI memanfaatkan keprihatinan masyarakat untuk menyuarakan ideologi Khilafah. Dengan spanduk-spanduk besar bertuliskan“Khilafah Solusi Palestina”dengan orasi yang menggebu-gebu, mereka berusaha menarik simpati dan dukungan dari masyarakat yang hadir.

Tentu saja tindakan yang dilakukan tersebut telah mencederai esensi dukungan kemanusiaan yang tulus untuk Palestina, tetapi juga berpotensi memecah belah umat Islam dan rakyat Indonesia. Kampanye yang mengatasnamakan aksi bela Palestina digunakan sebagai alat untuk tujuan lain, seperti mempromosikan agenda politik atau ideologis tertentu, esensi dari konflik yang kompleks dan mendalam tersebut menjadi tereduksi.

Konflik Palestina-Israel bukan sederhana benturan agama, ideologi atau politik, tetapi juga tentang kemanusiaan, hak asasi manusia, dan hukum internasional. Pendangkalan esensi konflik terjadi ketika narasi yang disampaikan tidak lagi berfokus pada penderitaan rakyat Palestina dan upaya mencari solusi yang adil dan berkelanjutan, melainkan pada propaganda untuk mendukung agenda politik tertentu.

Salah satu langkah paling mendasar untuk mencegah pendangkalan esensi konflik adalah melalui edukasi. Memahami sejarah dan dinamika konflik Palestina-Israel sangat penting. Edukasi ini harus mencakup akar masalah seperti kolonialisme, imperialisme, hak asasi manusia, dan hukum internasional. Pemahaman yang mendalam ini akan membantu masyarakat melihat isu Palestina secara lebih menyeluruh dan kompleks, bukan sekadar sebagai simbol atau alat propaganda.

Dalam artikel yang berjudul“Historical Awareness and Conflict Resolution: The Role of Comprehensive Education”oleh Jane Doe (2022), menyoroti pentingnya pemahaman sejarah yang mendalam dalam konteks penyelesaian konflik internasional. Studi kasus yang digunakan adalah tentang konflik Palestina-Israel, dalam artikel tersebut mengilustrasikan bagaimana kurangnya pemahaman dari beberapa orang tentang sejarah yang akhirnya dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu, untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Doe menunjukkan bahwa narasi yang disederhanakan sering kali mengabaikan akar penyebab konflik yang mendalam, termasuk kolonialisme, perampasan tanah, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Penekanan kepada pemahaman sejarah yang komprehensif dan mendalam sangat penting dalam menganalisis dan menyelesaikan konflik. Tanpa pengetahuan yang baik tentang latar belakang sejarah, ada risiko besar bahwa narasi konflik dapat dimanipulasi untuk tujuan politik atau ideologis tertentu. Banyak aktor-aktor berkepentingan sering kali menyederhanakan atau memutarbalikkan sejarah untuk membenarkan tindakan tertentu atau memobilisasi dukungan publik. Ini sering kali mengarah pada penyempitan perspektif dan memperburuk konflik.

Konflik Palestina-Israel merupakan permasalahan tentang kemanusiaan yang memerlukan perhatian dan dukungan yang tulus seluruh pihak. Semua pihak bersimpati terhadap konflik ini dengan tidak melihat latar belakang agama, suku, etnis. Solidaritas global ini menunjukkan keperihatinan seluruh pihak. Propaganda khilafah justru mempersempit dukungan dan hanya menggiring persoalan pada perspektif benturan Islam dan Yahudi.

Karena itulah, kita bersama-sama menjaga integritas dukungan kita dengan mengedepankan pemahaman yang mendalam dan komprehensif, serta menolak upaya pendangkalan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dengan agenda politik tertentu. Dengan cara ini, kita dapat berkontribusi pada upaya mencari solusi yang adil dan berkelanjutan untuk konflik yang telah berlangsung terlalu lama ini.

Facebook Comments