Menangkal Pemikiran Radikal Dengan Kearifan Lokal

Menangkal Pemikiran Radikal Dengan Kearifan Lokal

- in Keindonesiaan
3105
0

Sebagai makhluk yang dilengkapi dengan akal dan budi yang baik, manusia memiliki kemampuan untuk dapat selalu menciptakan sesuatu. Salah satu hasil ciptaan manusia yang memiliki arti sangat penting adalah kebudayaan dan kearifan lokal. Dengan budaya manusia memperindah dirinya, dan dengan kearifan lokal manusia memperbaiki dirinya. Sehingga dengan kebudayaan dan kearifan lokal, manusia –meskipun tidak pernah sempurna—mampu tampil sebagai makhluk tuhan yang paling baik.

Meski demikian, tantangan terbesar juga dihadapi oleh manusia, tantangan tersebut berupa kecenderungan untuk melakukan kekerasan terhadap sesama, baik melalui sikap maupun perbuatan. Kita semua mengerti bahwa kekerasan tidak pernah berujung pada kebaikan, karenanya kekerasan tidak bisa dibenarkan. Namun demikian kekerasan masih selalu ada, bentuknya dapat beraneka ragam, namun intinya tetap sama; menimbulkan kerusakan. Telah banyak tokoh dan ahli yang menyatakan bahwa ruang lingkup kehidupan manusia, kekerasan memiliki sejarah yang sama tuanya dengan sejarah manusia itu sendiri.

Dalam cerita-cerita keagamaan dijelaskan bahwa kekerasan bahkan telah ada sejak jaman nabi Adam, dimana dua anak laki-lakinya saling berlaku aniaya untuk memperebutkan calon istrinya. Kisah itu masih sering kita dengar, seolah kita sedang diingatkan bahwa kekerasan adalah barang usang, sudah tidak pantas lagi ada di masa sekarang. Namun nyatanya, kekerasan masih tetap ada di mana-mana, ia pun seolah mengalami perkembangan hampi dalam tiap aspeknya. Mulai dari alasan hingga bentuk-bentuk kekerasan yang tentu saja semakin meresahkan.

Salah satu jenis kekerasan yang paling sering terjadi belakangan ini adalah yang berlatar belakang pamahaman keagamaan, di mana kelompok-kelompok tertentu muncul dengan klaim-klaim kebenaran yang tidak bisa dilawan. Berbagai cara dilakukan oleh kelompok-kelompok ini untuk menunjukkan betapa kebenaran yang mereka yakini tidak dapat diganggu gugat. Mereka pun dengan sangat mudah mengartikan perbedaan sebagai permusuhan, maka tidak heran semangat keagamaan mereka lebih didominasi oleh keinginan melakukan peperangan ketimbang menebar perdamaian.

Hal ini tentu tidak dapat dibiarkan, khususnya karena kita semua percaya dan mengalami bahwa agama tidak pernah mengajarkan kekerasan. Mereka yang mengklaim melakukan kekerasan karena diperintah agama tentu sedang mengada-mengada, karena agama adalah pusatnya kebaikan dan kedamaian, sehingga tidak ada sedikitpun ruang untuk kekerasan.

Di sisi lain, sebagai bangsa yang besar, masyarakat Indonesia sejatinya memiliki ‘senjata’ terbaik untuk mengatasi segala jenis potensi kekerasan. Senjata tersebut ada dalam kearifan lokal masyarakat kita. Beberapa tokoh yakin bahwa muncul dan langgengnya kekerasan, khususnya yang ada di Indonesia ini, disebabkan oleh fakta bahwa kearifan lokal kita sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya mulai ditinggalkan sebagaian masyarakat.

Dalam kearifan lokal, salah satu hal yang dijunjung tinggi adalah musyawarah. Dimana setiap komponen masyarakat bersedia dan terbuka untuk menyingsingkan perbedaan-perbedaan demi menjaga dan melanggengkan perdamaian dan persaudaraan. Jika pun ada perbedaan yang sifatnya mendasar, maka hal itu akan disikapi sebagai sebuah berkah dalam kehidupan.

Jika kita tengok sedikit kebelakang, keengganan sebagaian masyarakat untuk kembali pada kearifan lokal memang nyata dirasakan. Budaya musyawarah mufakat semakin sulit kita jumpai. Alih-alih melakukan dialog, mereka yang memiliki perbedaan justru terlalu girang untuk mengumbar hinaan dan klaim-klaim penghakiman yang tidak berdasar.

Kita semua tentu tidak ingin hal ini terus berlanjut, karena bangsa ini besar bukan karena anti terhadap perbedaan, justru di negeri ini perbedaan diagungkan sebagai sebuah kekayaan dan kekuatan bersama untuk membangun Indonesia. Karenanya tentu, kekerasan bukan bagian dari diri kita; manusia yang baik. Mari bersama-sama kembali ke jati diri kita masing-masing, yakni dengan anti terhadap barang usang bernama kekerasan. Segala sesuatu pasti dapat dimusyawarahkan, karena kekerasan tidak pernah bisa menjadi jawaban.

About the author

Dr. Hj. Andi Intang Dulung
Kepala Sub Direktorat Kewaspadaan di Kedeputian 1 bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT. Meraih gelar doktor dalam bidang Hukum Islam di UIN Makasar. Saat ini aktif melakukan kegiatan-kegiatan pencegahan radikalisme dan terorisme bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang berada di bawah sub direktoratnya di 32 Provinsi di Indonesia.

Related Posts

Facebook Comments