Mendeteksi Narasi “Ulama” yang Hobinya Membenturkan Agama dan Negara

Mendeteksi Narasi “Ulama” yang Hobinya Membenturkan Agama dan Negara

- in Suara Kita
812
0
Mendeteksi Narasi “Ulama” yang Hobinya Membenturkan Agama dan Negara

Posisi ulama memang sangat strategis dalam memberikan bimbingan kepada ummatnya, sebagai panutan dan figur pencerah. Ulama sebagai pelanjut pengemban risalah para nabi, otomatis harus menjadi sosok yang mampu memberikan jalan keluar setiap umat ada persoalan. Mengingat akhir-akhir ini persoalan kebangsaan yang semakin komplek dan rumit, tidak lain tentu sangat membutuhkan peran ulama sebagai win win solution. Muncul pertanyaan menggelitik di hati penulis yakni, mengapa akhir-akhir ini banyak bermunculan ulama yang hobinya membenturkan agama dan negara? Lantas bagaimana pula caranya kita mendeteksi infiltrasi narasi ulama model seperti itu? tentu pertanyaan ini sangat menarik untuk kita ulas secara mendalam dan komprehensif.

 Adanya ulama yang hobinya membenturkan agama dan negara ini memang sudah diprediksi oleh nabi Muhammad saw, lewat hadis beliau; Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas umatku adalah para pemuka agama yang menyesatkan (HR. Abu Daud). Ulama yang suka membuat gaduh dan suka memecah belah ini disebut ulama su’ (buruk). Model ulama beginian sering membenturkan agama dengan negara. Seolah agama ini pisah dari negara, dan terus mengumbar semangat jihad dengan mengusung ideologi khilafah Islamiyah. Model ulama su’ sudah diprediksi nabi lewat hadisnya; ada yang paling aku khawatirkan ketimbang Dajjal, beliau kemudian ditanya, apa itu wahai Rasulullah? beliau menjawab, ulama su’.

Dalam pandangan al Ghazali, ulama su’ (buruk) ini memiliki beberapa kharakteristik; pertama, menggunakan ilmunya untuk memperoleh simpati atas kedudukannya. Kedua, menggunakan ilmunya untuk dijadikan mesin kapitalisasi agama. Ketiga, sangat berkeyakinan bahwa dirinya mendapatkan posisi spesial di hadapan Allah, karena kepandaiannya dan jumlah ummatnya yang banyak. Nah kita semua tentu setelah mengenal model ulama yang beginian harus selalu kritis dan hati-hati jangan mudah terprovokasi dengan narasi janji surgawinya yang semu dan menipu.

Mewaspadai Narasi Ulama su’ di Indonesia

Belum lama ini pemerintah telah membubarkan ormas intoleran radikal karena dianggap sebagai sarang dan embrio bagi berkembangnya radikalisme di Indonesia. HTI dan FPI telah dibubarkan oleh pemerintah karena terus mengusik eksistensi pancasila sebagai idologi bangsa yang sudah final dan mengikat. Tentu kita sebagai generasi muda tidak boleh dan apatis akan adanya tantangan yang maha dahsyat ini.

Kita semua harus mengenali model narasi yang disusupkan oleh ulama su’ di negeri ini, antara lain; pertama, membenturkan agama dan negara. Narasinya ialah seolah orang ketika beragama harus tidak begitu loyal atau bahkan diperbolehkan menentang negara. Dengan narasi bahwa hukum negara kurang Islami dan mereka akan membentuk NKRI bersyariah. Tentu kesemuanya ini hanyalah kedok belaka, yang intinya ingin mengganti pancasila menjadi sistem khilafah Islamiyah. Padahal jika kita telisik ajaran Rasulullah dalam mendirikan peradaban Madinah, lewat perjanjian Madinah, semua elemen baik suku, agama, ras dirangkul diajak bermusyawarah untuk menemukan kalimah sawa’ (titik temu nilai), sehingga terbentuklah peradaban Madinah di mana semua orang bisa hidup bersama dalam perbedaan secara harmonis dan damai.

 Kedua, membenturkan ulama pemerintah dan ulama luar pemerintah. Coba belum lama ini kita lihat beberapa ulama su’ penebar kebencian ditangkap pemerintah atas ujaran kebencian (hate speech). Ketika mereka ditangkap bergembor-gembor lagi bahwa negara telah mengkriminalisasi ulama. Bayangkan sekelas kiai Said Aqil, Habib Lutfie, dengan mudahnya mereka ejek di dunia maya. Padahal esensi ulama itu mengajak umatnya untuk mengenal dan mendekat kepada Allah. Jika negara sudah adil dan damai seperti Indonesia, tentu ulama akan memposisikan dirinya sebagai penasehat pemerintah, memberi masukan dan saran. Seperti sejarah walisongo dalam suksesi kerajaan Demak Bintoro, sejarah Ulama NU dan Muhammadiyah yang dari dulu sudah intim bergandengan mendirikan dan membangun negara ini.

 Ketiga, negara tidak berlaku adil dan tidak bisa memberi kesejahteraan kepada rakyatnya sehingga berhak untuk dilawan. Nah model narasi beginian ini tentu sangat berbahaya, jika ditelan oleh generasi muda yang masih awam dan labil tentu sangat mudah terpincut akan narasi yang mereka bangun. Padahal faktanya negara terus hadir di setiap sudut relung masyarakat. Contoh bantuan yang begitu banyak digelontorkan kepada masyarakat menjadi bukti bahwa negara ini hadir dan mengayomi rakyatnya.

Keempat, sangat mudah mengkafirkan golongan lain dan setiap yang kafir seolah harus dimusuhi. Mereka lupa bahwa dalam Islam diajarkan kafir itu ada dua, kafir harbi, yakni golongan non Islam yang boleh diperangi karena mengganggu dan bikin onar melawan negara, kedua kafir dzimmi, golongan non Islam yang taat dan tunduk kepada negara. Padahal di Indonesia ini semua golongan non Islam tunduk dan patuh kepada negara. Sehingga narasi itu tidak relevan dan tidak perlu diikuti.

Dengan begitulah kita semua harus berhati-hati, jangan sedikitpun simpati atau bahkan tertarik menjadi pengikut golongan ulama su’. Karena mereka itu hanya akan mengajak kepada kerugian di dunia dan kesesatan di akhirat kelak. Kita semua harus terus istiqomah nderek (ikut) kepada dawuh (nasehat) ulama nusantara, yang sudah terbukti setia mengawal NKRI sampai sekarang. Waallahu a’lam..

Facebook Comments