Menjadi Toleran: Melihat Balik Model Informasi Radikal

Menjadi Toleran: Melihat Balik Model Informasi Radikal

- in Suara Kita
664
0

Kecanggihan teknologi, belakangan telah memberi banyak arti dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sejumlah persoalan kebangsaan yang hadir pun sedikit banyaknya merupakan partisipasi kecanggihan teknologi yang ada. Tak bisa dipungkiri bahwa naik turunnya dinamika kebangsaan beroleh pengaruh kuat dari perangkat yang kerap diklaim sebagai sesuatu yang modern ini. Pertanyaan yang sering hadir dalam sejumlah perdebatan baik lisan maupun tertulis adalah bagaimana sebenarnya melihat keradikalan sebuah media. Apakah hal tersebut sungguh dapat dirasakan? Setidaknya tulisan ini ingin mengajak kita semua untuk dapat melihat balik sejumlah ide dari media yang berseliweran dan berhasil menggiring cara berfikir masyarakat untuk terus menumbuhkan sikap intoleran kepada yang berbeda.

Dalam sebuah pengamatan yang sistematis dan tertuang dalam bentuk tulisan, Vraneski dan Richter melihat bahwa hubungan antara media massa dan konflik adalah saling mempengaruhi satu dengan yang lain(Vraneski dan Richter, 2003). Hal ini jelas memberikan penguatan bahwa sejatinya dualitas antara realitas konflik dan media merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Efek yang dapat dibawa bahkan dapat mengarah kepada hal yang mengerikan. Untuk mewujudkan hal tersebut, setidaknya penghembusan sejumlah model isu sangat penting untuk dilakukan dan dikelola.

Model persoalan yang pertama yang juga kerap digunakan adalah penghembusan sejumlah permasalahan yang dianggap telah mencederai umat Islam. Model persoalan ini memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menggiring opini massa (umat Islam) agar larut dalam keprihatinan. Bila keprihatinan tersebut dapat dikelola dengan optimal maka potensi pemunculan badai melalui aksi massa bukanlah hal yang mustahil.

Dalam bukunya, Amartya Sen menegaskan bahwa keberagaman yang direduksi dan kemudian dikelompokkan dalam satu identitas hanya akan menciptakan paradigma oposisi biner yang berhadap-hadapan secara nyata dan frontal (Sen, 2007). Sehingga bila kita coba mengkonteksualisasikan apa yang dikatakan oleh Amartya Sen tersebut, maka kita akan mendapati bahwa semakin kuatnya amplifikasi persoalannya maka semakin besar potensi melahirkan gerakan aksi massa. Model ini memiliki probabilitas yang besar untuk terjadi karena adanya sejumlah faktor pendukung yang solid dalam menegakkan hal tersebut.

Faktor pendukung yang pertama adalah arus reformasi yang telah terbuka, banyak membuat masyarakat kebingungan dalam memilih panduan dan pegangan dalam bersikap. Kehadiran kelompok radikal yang membawa spirit puritan menjadi tawaran yang menjanjikan untuk diikuti oleh masyarakat kita. Banyaknya masyarakat kita yang ingin mengikuti ajaran tersebut umumnya terdorong oleh minimnya pengetahuan agama sedari dasar membuat mereka mencari jalan pintas agar tetap berada di jalan yang diridhoi Tuhan. Sehingga tatkala mereka beroleh pegangan (ajaran puritan) dalam menjalani kehidupan, banyak di antara mereka yang akhirnya pasrah mengikutinya.

Faktor pendukung yang kedua adalah adanya spirit ukhuwah islamiyah yang digelorakan dengan sangat dahsyat ke arah yang pragmatis. Melalui narasi yang sangat pedih bahkan tidak jarang berlebihan, lalu dengan penambahan sejumlah gambar yang tidak jarang adalah hoax, semakin membuat perasaan para pembaca tergetarkan. Melalui narasi yang menggetarkan tersebut, pembaca kemudian digiring untuk masuk dalam koridor pemikiran untuk membenci pihak yang dianggap telah menyakiti umat Islam di berita tersebut. Bahkan tidak berhenti sampai di situ, seringkali melalui penghembusan semangat persaudaraan sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiyah) secara pragmatis, pembaca diajak untuk membenci pihak yang berbeda. Tidak perduli orang yang berbeda tersebut bersalah atau pun tidak. Semua yang berbeda dianggap bersalah.

Model persoalan yang kedua adalah dihembuskannya gagasan bahwa sejatinya apa yang dilakukan oleh sejumlah kelompok-kelompok radikal baik di indonesia maupun di luar Indonesia sebagai upaya perjuangan membebaskan masyarakat Muslim. Dalam beberapa narasi bisa kita dapati bahwa terdapat penyematan kata pejuang kepada para kelompok teroris tersebut. Penyematan kata pejuang terhadap kelompok-kelompok ini tentu memberikan efek penafsiran yang berbalik 180 derajat. Dari perspektif ini pembaca diajak untuk mengalihkan pandangan negatif kepada pihak yang diperangi dan malah berempati terhadap perjuangan para kelompok ini. Tentu untuk mengukuhkan gagasan ini, sejumlah narasi dari ajaran agama Islam pun diinstrumentalisir. Melalui cara ini, kelompok-kelompok penyebar informasi semacam ini berharap mendapatkan dukungan untuk setiap aksi mereka berikutnya.

Belajar dari fenomena di atas, mestinya kita bisa lebih bijak dalam memaknai setiap informasi. Kita mesti berhenti melihat perbedaan sebagai sekat. Sebab cara pandang demikian hanya membawa pada dikotomi “kita vs mereka”. Lalu kita mesti mulai menempatkan informasi sebagai informasi, bukan sebagai hukum yang utama apalagi sabda Tuhan yang mesti dipercayai atau bahkan dipatuhi.

Facebook Comments