Minggu, 5 Desember, 2021
Informasi Damai
Archives by: Fredy Torang WM

Fredy Torang WM

0 comments

Fredy Torang WM Posts

Milenial di Tengah Budaya Kematian

Milenial di Tengah Budaya Kematian
Suara Kita
Mendadak kita dikejutkan dengan informasi bahwa peristiwa pemenggalan kepala terhadap guru sekolah di Perancis, sejatinya dilatari oleh informasi bohong. Di awali oleh informasi bohong mengenai karikatur dan penghinaan yang sengaja dikarang oleh seorang siswa karena khawatir dengan skorsing yang ia terima akan mendapatkan hukuman dari orang tuanya, membuat seorang guru akhirnya harus dibunuh. Ini tentu sebuah kejutan yang sangat menyedihkan dan tak dapat dianggap sebagai sebuah kejadian tunggal dan terpisah ...
Read more 0

Menanggalkan Intoleransi: Pembelajaran Sederhana Kearifan Masyarakat Perairan

Menanggalkan Intoleransi: Pembelajaran Sederhana Kearifan Masyarakat Perairan
Suara Kita
ketika tersebutkan Kata toleransi, mungkin hanya akan membawa bayangan kita pada ruang saling menghargai antara satu pemeluk agama dengan lainnya, meskipun pada gilirannya, tafsiran menghargai sendiri kemudian punya keragaman tersendiri. Dalam beberapa kesempatan, kata ini seolah sangat eksklusif, sebab identik dengan keberagaman agama dan ritus-ritusnya yang menuntut untuk dihargai. Sekilas, kata toleransi seolah sangat berjarak dari kehidupan manusia langsung pada umumnya. Sehingga menarik, bila kemudian mencoba mengulik implementasi kata ini ...
Read more 0

Antara Agama dan Pancasila: Mendeteksi Perspektif Intoleransi

Antara Agama dan Pancasila: Mendeteksi Perspektif Intoleransi
Suara Kita
Baru-baru ini kembali mencuat kasus menghebohkan banyak kalangan dan sangat kental bernuansa intoleransi. Kasus tersebut adalah adanya sekolah negeri yang mewajibkan penggunaan jilbab bagi semua siswi perempuan tanpa terkecuali, di wilayah padang, Sumatera Barat. Komentar yang hadir pun tentunya berwarna-warni, ada yang melihatnya dan merespon dengan menghadirkan friksi, namun ada pula yang mencoba mengafirmasi hal tersebut dari sudut pandang kelokalan dan mengatakan bahwa hal tersebut mestinya dihormati semua pihak dan ...
Read more 0

Memahami Secuil Kerentanan Demokrasi, Membentengi Keberagaman Dari Radikalisme

Memahami Secuil Kerentanan Demokrasi, Membentengi Keberagaman Dari Radikalisme
Suara Kita
Belakangan ini kondisi sosial dan politik bangsa ini tengah menghangat. Tentu saja kerentanan terhadap kondisi yang ada menghadirkan kekhawatiran tersendiri, sebab selain derasnya narasi hoax, beriringan pula dengan kencangnya intrusi kekuatan yang ingin mendomplengi panggung kebebasan berdemokrasi hari ini. Beberapa pihak yang dulunya bahkan kencang secara langsung mau pun sembunyi-sembunyi meneriakkan narasi intoleransi, penggantian sistem pemerintahan hingga penggantian ideologi, belakangan ini hadir dan berteriak dengan mengatasnamakan kebebasan berdemokrasi. Mereka hadir ...
Read more 0

Kesetiakawanan Sosial dalam Himpitan Pandemi

Kesetiakawanan Sosial dalam Himpitan Pandemi
Suara Kita
Tak lama lagi peringatan Idul Adha akan menghampiri. Umat muslim di seluruh dunia jelas memiliki perasaan tersendiri menjelang peringatan ini, terlebih lagi di periode pandemi Covid-19 ini tengah berlangsung. Perasaan berbeda menerpa pemikiran, sebab tradisi yang biasa terjadi di tahun sebelumnya terasa berbeda atau bahkan menghilang karena kondisi yang ada. Sunguh berat memang, namun tuntutan beradaptasi menjadi hal yang mendesak dan tak dapat terelakkan. Belum lagi himpitan kehidupan sosial dan ...
Read more 0

Berlindung di Balik Isu Agama dan Pancasila

Berlindung di Balik Isu Agama dan Pancasila
Suara Kita
Belakangan sempat hadir sejumlah aksi massa yang menyatakan diri menolak rancangan undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Dengan mengatasnamakan pemahaman ke-Islaman tertentu, suara kencang mereka teriakkan untuk menolak rancangan undang-undang tersebut. Tentunya perdebatan mengenai urgensitas hadirnya regulasi tersebut bisa saja menjadi perdebatan. Namun rasanya ada hal yang tidak kalah menarik ketika menyaksikan aksi massa tersebut. Hal itu adalah adanya sejumlah pihak dari kelompok ini yang dulunya menyuarakan penggantian Pancasila dengan ideologi ...
Read more 0

Relasi Pandemi dan Radikalisme: Pembelajaran anti-Diskriminasi

Jika sampai saat ini petugas medis masih banyak yang bertaruh nyawa untuk menghadirkan kesembuhan bagi penderita Covid-19 dan dan ilmuwan yang bekerja di laboratorium masih terus mengupayakan hadirnya vaksin untuk dapat melawan virus covid-19, maka sudah selayaknya juga masyarakat bersama tokoh masyarakat dan aparat yang ada untuk terus mengupayakan kondisi damai guna menjaga harmoni keberagaman yang ada. Hal demikian mendesak untuk diupayakan, sebab dampak dari kondisi sosial yang tidak baik sangat kuat menunjang hadirnya opini populisme. Yang pada gilirannya rentan untuk semakin memporak-porandakan kondisi sosial ekonomi yang coba untuk dibenahi dampak dari Pandemi yang ada. Pandemi yang ada jelas tak dapat hanya ditilik dari satu sudut pandang semata. Pandangan multi demensi jelas harus diketengahkan untuk hal ini, sebab ekses dari hal ini telah menyentuh semua aspek kehidupan manusia. Telah banyak ulasan yang bisa dinukil dari sejumlah media guna melihat bagaimana relasi pandemi yang ada terhadap kondisi sosial masyarakat kita. Yang pada gilirannya - bila penanganannya tidak tepat guna dan tidak tepat waktu, hanya akan melahirkan kerentanan terhadap kondisi sosial yang ada. Contoh sederhana adalah meningkatnya angka pengangguran, kriminalitas dan seterusnya. Bila berkaca dari realitas dari negara-negara luar, keadaan yang ada sosial ekonomi yang tidak menentu sangat berpotensi melahirkan kelompok-kelompok radikalis dalam hal ideologi dan tindakan. Yang bagi bagian dari kelomok ini, kekerasan hanyalah menjadi perangkat sederhana yang dapat dipilih kapan pun untuk mewujudkan keinginannya. Lahirnya kelompok militan macam Baader-Meinhoft pada 1970-an di wilayah Jerman - yang kemudian menjadi salah satu panutan kelompok-kelompok pecinta tindakan anarkis, bisa dilihat sebagai salah satu contohnya. Contoh lainya lagi adalah bagaimana kelompok para-military Al-Qaidah di wilayah Afghanistan sempat menjadi momok mengkhawatirkan baik bagi negara itu sendiri maupun aktor internasional lainnya. Eksistensi mereka tak dapat dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi - yang meskipun saat itu tidak ada pandemi seperti yang hari ini terjadi, namun justru menghadirkan ancaman bagi kehidupan. Berangkat dari realitas historis semacam itu dan melihat ke dalam kondisi yang ada hari ini, kita pun mestinya wajib berfikir untuk mampu keluar dari ancaman tersebut. Bila para tenaga medis saja rela mengorbankan diri, waktu dan banyak hal lainnya untuk mengupayakan penyelamatan raga yang lain tanpa memandang identitas tertentu, maka mestinya praktik baik tersebut bisa menjadi contoh bagi kita semua. Kesungguhan mereka dalam mengupayakan penyembuhan bagi semua pihak, layak dan pantas menjadi teladan bagi semua kalangan. Terlebih lagi untuk pihak-pihak yang selama ini gemar mengumandangkan paradigma eksklusif dan diskriminatif terhadap pihak yang berbeda. Misalnya saja seperti tingkah dan pemikiran diskriminatif para tokoh yang tak jarang diskriminatif terhadap etnis tertentu dan agama tertentu. Tak dapat dipungkiri, kondisi seperti ini sejatinya rentan untuk ditunggangi oleh hadirnya pihak-pihak yang gemar bermain politik identitas dan menyuarakan semangat intoleran terhadap minoritas. Tantangan yang berat dan serius benar-benar hadir di hadapan kita saat ini, sebab realitas Indonesia yang beragam dan pasang-surutnya gesekan identitas khususnya terhadap minoritas hadir mewarnai kehidupan bangsa ini. Tentu kejadian-kejadian diskriminatif macam yang terjadi kepada mendiyang George Floyd di Amerika Serikat - yang pada gilirannya menimbulkan kemarahan dan gerakan anti-diskriminatif di seluruh dunia, tidak kita inginkan untuk terjadi di negara ini. Sebab kita pasti masih ingat bagaimana konflik identitas yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hanya meninggalkan rasa perih dan ketakutan yang belum juga pulih sempurna. Sudah sejak lama ruang inkluturasi antar sejumlah budaya/agama terjadi di negara ini. Sehingga mestinya semua pihak mulai menyadari bahwa pemikiran dan paradigma eksklusif sejatinya adalah sebentuk kekerdilan berfikir semata. Berpayungkan paradigma semacam itu, hanya akan membuat kita menghadirkan kebencian terhadap pihak lain, terlebih lagi di masa-masa pendemi semcam ini. Sehingga bila sejak awal para founding fathers/mothers negeri ini sudah berhasil menghadirkan benih-benih hidup yang inklusif dalam dasar negara, yaitu pancasila, lantas untuk apa gunanya memaksakan paradigma eksklusif yang sejatinya tidak menghadirkan manfaat bagi bangsa ini? Apalagi sampai ingin menggantinya dengan dasar paradigma dan ideologi yang lain.
Suara Kita
Jika sampai saat ini petugas medis masih banyak yang bertaruh nyawa untuk menghadirkan kesembuhan bagi penderita Covid-19 dan dan ilmuwan yang bekerja di laboratorium masih terus mengupayakan hadirnya vaksin untuk dapat melawan virus covid-19, maka sudah selayaknya juga masyarakat bersama tokoh masyarakat dan aparat yang ada untuk terus mengupayakan kondisi damai guna menjaga harmoni keberagaman yang ada. Hal demikian mendesak untuk diupayakan, sebab dampak dari kondisi sosial yang tidak baik ...
Read more 0

Solidaritas dan Stabilitas di era New Normal

Solidaritas dan Stabilitas di era New Normal
Suara Kita
Bila momentum puasa harusnya dianggap sebagai langkah guna menghadirkan pelatihan dalam diri, maka mestinya semangat untuk menggedor pintu hati banyak pihak lewat bersolidaritas terhadap sesama harus terus dikumandangkan pula. Terlebih lagi dalam kondisi pandemi virus covid-19 yang hingga kini belum menunjukkan perubahan yang lebih baik. Penguatan nilai solidaritas dan praktik nyata terhadap sesama menjadi hal yang mendesak untuk tetap hadir. Sebab memasuki periode yang kerap disebut dengan new normal (kenormalan ...
Read more 0

Antara Fenomena Kerajaan dan Radikalisme

Antara Fenomena Kerajaan dan Radikalisme
Suara Kita
Bila belakangan ini masyarakat kita seperti tergiring dalam kehangatan isu mengenai kemunculan sejumlah pihak yang mendaku sebagai memimpin, pengikut atau pun bagian dari kerajaan tertentu, maka sepertinya pihak yang hari ini menyaksikan dan menonton hal tersebut mesti pula melakukan proses internalisasi diri. Sebab bukanlah hal yang mustahil bila kecenderungan yang ada hari ini potensial untuk menggiring dalam kerentanan yang sama. Hal demikian memungkinkan untuk mengetengah, sebab sejatinya bangsa ini memiliki ...
Read more 0

Menghadirkan Silaturahmi, Membangun Toleransi

Menghadirkan Silaturahmi, Membangun Toleransi
Suara Kita
Kembali kita mendengar terjadinya kasus intoleransi yang menghadirkan friksi mayoritas terhadap minoritas di bumi nusantara ini. Kasus yang dimaksud, sempat menggema di wilayah Kabupaten Dhamasraya dan Sijunjung, Sumatera Barat. Kasus tersebut adalah kasus penolakan sejumlah pihak terhadap rencana masyarakat yang beragama Katolik dan Kristen di situ untuk melakukan ibadah bersama merayakan Natal (VOA Indonesia, 2019). Bahkan penolakan yang ada bukan hanya semata untuk Natal saja, tapi juga untuk pendirian rumah ...
Read more 1