Menyelami Kedalaman Makna Allahu Akbar

Menyelami Kedalaman Makna Allahu Akbar

- in Keagamaan
3501
0

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Allahu Akbar: Mengangungkan atau Menghajar”, fakta bahwa kalimat sakral Allahu Akbar kerap disalahgunakan sebagai legitimasi tindak kekerasan tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri, baik bagi masyarakat Indonesia maupun masyarakat di seluruh jagat ini. Bahkan sangat mungkin, kekhawatiran tersebut juga terjadi pada makhluk Allah di planet lainnya. Tentu makhluk Allah yang terdapat di planet lain memiliki caranya sendiri dalam mengagungkan asma Allah SWT, yang pasti semua makhluk di jagat raya ini –baik yang di planet yang sudah berhasil diidentifikasi oleh manusia atau belum– bersujud dan bersimpuh di hadapan kebesaran dan keagungan Allah SWT sebagai pencipta seluruh makhluk-Nya.

Sudah sepantasnya bagi kita sebagai makhluk ciptaan-Nya untuk menyembah dan mengagungkan asma-Nya sebagai wujud terima kasih dan puji syukur kepada Sang Khaliq. Meski perlu juga dipahami bahwa seluruh persembahan dan pengabdian hamba Allah tidak akan bisa mempengaruhi keagungan-Nya, sehingga jikapun seluruh makhluk di jagat raya ini menyembah dan mengagungkan-Nya, hal itu tidak menambah kebesaran Allah SWT yang sudah kadung maha besar itu. Demikian pula sebaliknya, bila seluruh makhluk-Nya tidak menyembah, tidak mengabdi dan tidak mengagungkan asma Allah, kekuasaan dan keagungan dan kemuliaan-Nya tidak akan berkurang sama sekali.

Tuhan tidak membutuhkan sesuatu pun dari hamba-Nya, justru seluruh makhluk dan hamba-Nya lah sangat berkepentingan dan bergantung kapada-Nya. Namun tidak jarang, manusia merasa dirinya sangat berkuasa terhadap sesama manusia, terutama bila diberi sebagian kecil kewenangan untuk menjalankan amanat dari masyarakat. Cukuplah Fir’aun yang diabadikan namanya dalam Alquran sebagai manusia tersombong yang memproklamirkan diri sebagai Tuhan, “Akulah Tuhanmu paling Tinggi” (QS. al-Nazi’at ; 24).

Agak ironi memang menyaksikan keangkuhan Fir’aun di zaman bahula masih juga ditiru sebagian manusia hingga sekarang, hal itu bisa dilihat antaranya dari sikap picik untuk mempertuhankan jabatan, materi, pangkat dan takhta. Tidak sedikti pula yang secara terang-terangan mempertuhankan nafsu amarahnya. Ironinya, mereka masih pula membawa-bawa nama Tuhan untuk menutupi kerakusan itu, berharap Tuhan akan memaafkan kesalahan yang berulang kali mereka lakukan hanya karena mereka tidak pernah lupa menyebut nama-Nya. Mereka lupa, kejahatan tidak akan bisa menyenangkan Tuhan.

Dalam memahami kedalaman makna kalimat Allahu Akbar, tentu kita harus terlebih dahulu mengakui bahwa akal pikiran manusia tidak dapat menjangkau makna keseluruhannya (beyond mind), Tuhan sendiri menegaskan bahwa Diri-Nya tidak serupa dengan apapun, ‘Laisa Kamitslihi syaiun’. Meski demikian, illustrasi singkat berikut mungkin dapat menggambarkan keagungan Allah SWT: jika kita berdiri di tengah Padang pasir tandus yang luasnya sejauh mata memandang, ambillah segenggam pasir, kemudian dalam genggaman pasir tersebut, pilih sebutir pasir. Sebutir pasir itulah planet bumi, dan dalam sebutir pasir itulah kita semua ciptaan-Nya berada.

Tuhan berada dalam realita yang tidak terpikirkan (unthinkable), karenanya kita sering mengucap ‘laa haula wa laa quwwata illaa billaah’, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT. Dalam setiap ibadah yang kita lakukan, pengakuan akan keagungan Tuhan itu selama pertama kali kita lafazkan.karena segalanya tidak akan ada artinya; semua menjadi kecil tak berdaya di hadapan Allah SWT.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sholat adalah ibadah yang disebut sebagai mikrajnya orang-orang yang beriman kepada Allah SWT (Assolatu mi’rajul mu’miniin). Dalam bahasan peristiwa isra’ dan mi’raj, Rasulullah Muhammad SAW melakukan Isra’ perjalanan dari masjid Haram di Mekkah, menuju masjid Aqsa di Palestina, kemudian bermi’raj memenuhi undangan Allah SWT menerima perintah Sholat langsung dari Allah SWT.

Jadi bila kita tetap istiqamah menegakkan sholat yang diperintahkan, terutama sholat lima waktu dalam sehari semalam, maka kita bermi’raj dan berkomunikasi secara bathin kepada Allah SWT. Sebuah pembuktian batin yang dilaksanakan dengan gerakan fisik dalam mengagungkan kebesaran-Nya. Demikian ilustrasi sederhana dalam membahasakan kedalaman makna yang terdapat dalam kalimat Allahu Akbar.

Sebenarnya tiada kata maupun kemampuan untuk menggambarkannya, hanyalah orang yang beriman dapat merasakan kedalam makna tersebut, karena di antara syarat orang yang beriman percaya adalah kepada yang ghaib, yu’minuuna bil ghaibi. Hanya saja, kata ghaib selalu dikonotasikan kepada makhluk ghaib dari alam lain yang digambarkan sebagai hantu yang menakutkan.

Beberapa orang yang percaya bahwa Tuhan tinggal di alam yang sama dengan alamnya para hantu bahkan mengira bahwa nama Tuhan dan hantu memiliki kesamaan, terutama jika nama tersebut diucapkan berluang-ulang; tu-han-tu-han-tu. Padahal keduanya tentu saja berbeda, hantu menakutkan dan tiada manusia yang mau mendekatinya, sementara Tuhan semakin kita takut kepadanya, justru semakin dekat diri kita kepada-Nya.

Arah kehidupan manusia adalah menuju kepada Allah SWT (Innaa Lillahil wa Innaa Ilaihi Rojiuun), mengucapkannya dengan lidah, meyakini dengan hati, dan membuktikannya dengan kebaikan yang tidak pernah henti kita tebarkan. Jika pemahaman makna Allahu Akbar terpatri dalam tiga dimensi di atas, maka tidak akan ada lagi orang yang menyalahgunakan nama Tuhan untuk berbuat kasar.

Facebook Comments