Menyelami Samudera Toleransi Bulan Suci di Desa Pringombo

Menyelami Samudera Toleransi Bulan Suci di Desa Pringombo

- in Kebangsaan
560
0
Menyelami Samudera Toleransi Bulan Suci di Desa Pringombo

Puasa dan Paskah tahun ini berbarengan, seolah jadi isyarat bahwa umat beragama harus senantiasa hidup beriringan. Toleransi harus jadi makanan sehari-hari, bukan saja dipahami sebagai sebuah teori tanpa aksi, atau sekadar sebagai jargon kampanye tanpa implementasi yang jelas. Meski toleransi sudah diterapkan sejak zaman nenek moyang, namun ia tetap relevan dengan kondisi masyarakat era modern yang makin berbhinneka.

Di bulan suci yang penuh berkah ini, seketika memori saya menyelam pada kenangan kunjungan lima tahun yang lalu ke sebuah desa di lereng perbukitan di Magelang, namanya desa Pringombo. Desa ini cukup unik, karena dari 709 jiwa yang tercatat di BPS tahun 2020 lalu, 94 di antaranya merupakan penganut agama Kristen Protestan.

Berpuasa tidak menjadi halangan untuk kedua pemeluk agama ini saling menghormati. Tak ada yang gila hormat, karena mereka semua paham bahwa “hormat” adalah sebuah kata kerja, sehingga saling menghormati adalah kewajiban seluruh umat manusia.

Nuansa yang saya rasakan ketika mengunjungi dusun ini tenang dan damai. Tak ada pertikaian menggelora, sekalipun politisasi agama, hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi menggema menyambut tahun politik 2019 kala itu. Saya takjub, tak ada warga yang menggubrisnya.

Jika kita melihat di peta, jarak antara Masjid dengan Gereja sangat dekat. Hanya kurang lebih 60 meter saja. Jalan kaki berapa menit pun sampai. Uniknya, dua rumah ibadah ini dibangun dengan antusiasme bersama, dibangun gotong-royong lintas agama. Tak ada penolakan, pun juga tak ada yang mempermasalahkan IMB hanya karena mayoritas penduduknya Muslim. Sebab mereka sadar betul, rumah ibadah adalah kebutuhan masing-masing umat beragama.

Di serambi Masjid Baiturrahman, saya mengobrol dengan para sesepuh dusun. Mereka menceritakan kisah di kala 1965 isu pembantaian PKI merajalela. Dikisahkan bahwa pada tahun itu, tradisi saling jaga di desa ini menguat. Mereka merasa ada ancaman terhadap harmonisasi sosial di Indonesia. Sehingga mereka inisiatif untuk saling menjaga sesamanya.

Misalnya ketika bulan Ramadan umat Islam beribadah di Masjid Baiturrahman, umat Kristen lah yang bertugas menjaga pos ronda dan menyisiri penjuru rumah supaya tetap aman.

Demikian pula pada saat isu teroris gencar di media, warga Muslim yang siap siaga menjaga keamanan Gereja dan perayaan Natal umat Kristen di sana. Harmonis sekali.

Sampai saat ini, tradisi luhur tersebut masih terus dilestarikan. Salah seorang warga desa menuturkan bahwa selama satu bulan penuh Puasa Ramadhan, warga Kristen melakukan giat pengamanan desa hingga ibadah tarawih selesai. Demikian pula pada saat perayaan Natal dan hari-hari besar lainnya.

Dua kisah kasih ini menyiratkan sebuah pelajaran berharga kepada kita, bahwa lingkungan toleran dibangun dari perspektif yang inklusif antar kelompok masyarakat. Toleransi bukanlah istilah asing, ia sebenarnya telah menyatu dengan kalbu masyarakat kita sejak dahulu kala.

Masuknya budaya asing ke dalam budaya masyarakat Indonesia membuat perlahan toleransi itu pudar. Sehingga seperti kita lihat, banyak yang anti terhadap kelompok atau umat beragama lain, menutup diri terhadap perbedaan, hingga melakukan sejumlah tindakan intoleransi bahkan teror terhadap kelompok yang berseberangan. Inilah budaya asing yang harus kita tinggalkan karena mengundang perpecahan dan permusuhan.

Dari desa Pringombo, desa samudera toleransi, ada banyak hal yang ingin saya dalami. Namun sayangnya waktu begitu cepat berlalu. Semoga di lain kesempatan saya bisa kembali untuk mengunjungimu.

Facebook Comments