Obiturari KH. Agus Sunyoto: Dari Atlas Wali Songo untuk Dakwah Islam Ramah Perbedaan

Obiturari KH. Agus Sunyoto: Dari Atlas Wali Songo untuk Dakwah Islam Ramah Perbedaan

- in Suara Kita
1305
0
Obiturari KH. Agus Sunyoto: Dari Atlas Wali Songo untuk Dakwah Islam Ramah Perbedaan

Di tengah hikmatnya umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadan, KH. Agus Sunyoto, penulis buku “Atlas Walisongo” meninggal dunia (27/4). Umat Islam di Indonesia tentu saja berduka karena kehilangan putra terbaik bangsa yang mampu menjelaskan secara terperinci sejarah betapa Islam datang ke nusantara dengan penuh damai melalui strategi kultural. Yang mana, pemikiran-pemikirannya tersebut seperti oase yang sungguh sangat dibutuhkan di tengah dahaga umat Islam di Indonesia atas model dakwah yang santun. Mengingat, trend dakwah yang berkembang sekarang ialah trend dakwah yang sering mengkafirkan dan memukul orang-orang yang berbeda. Jauh dari kesan damai.

Pendekatan Islam Kultural

Dalam buku Atlas Walisongo disebutkan, Islam berkembang di Nusantara melalui saudagar Arab mulai 674 masehi. Namun, pemeluk agama Islam saat itu hanya saudagar Arab dan Cina, belum ada penduduk pribumi yang memeluk Islam. Pada 1292 ekspedisi Marcopolo di pesisir Malaka menemukan tiga kelompok penduduk. Yakni, keturuan Cina beragama Islam, keturunan Arab beragama Islam dan penduduk pribumi yang menyembah roh, batu dan pohon. Lebih lanjut, Laksamana Cheng Ho berlabuh ke Pulau Jawa pada 1405 hingga 1433 juga menemukan tiga komposisi kelompok penduduk yang sama dengan Marcopolo. Artinya, penyebaran Islam belum diterima secara luas sebelum Wali Songo menjalankan model dakwah yang ramah kultur masyarakat: menyembah berhala dan batu.

Pada 1440 Sunan Ampel datang ke Jawa. Menyebarkan agama Islam mulai metode pendekatan sufistik dan kultural masyarakat setempat. Sunan Ampel melihat jejak agama tauhid yang tersisa di Jawa, yakni agama Kapitayan. Yakni, agama yang memuja Dewa tertinggi Sang Hyang Taya artinya kosong atau tak terdefinisikan. Melalui pendekatan agama Kapitayan, Sunan Ampel menyebarkan Islam. Termasuk menggunakan istilah yang digunakan agama Kapitayan. Seperti menggunakan sembahyang untuk beribadah. Pemuka Kapitayan menggunakan tempat ibadah yang sanggar berupa bangunan segi empat beratap tumpang tiga. Setelah masuk Islam tempat ibadah disebut langgar. Dan, untuk memanggil orang sembahyang juga menggunakan bedug.

Metode pendidikan agama Islam pun menggunakan pendekatan Kapitayan. Yakni, mendirikan pesantren yang mengadopsi padepokan tempat mendidik calon pemuka agama Kapitayan. Islam berkembang pesat karena banyak penduduk pribumi adalah penganut Kapitayan. Sedangkan mayoritas agama Hindu dan Buddha hanya dianut oleh anggota kerajaan.

Penyebaran agama Islam tak dilakukan sendirian oleh Sunan Ampel. Pada 1470-an dibentuk Wali Songo yang terdiri dari para sunan yang terikat kekerabatan. Mereka berbondong-bondong menyentuh jalur kultural untuk menyebarkan dakwah. Bahkan, tak jarang mereka menggunakan jalur seni seperti wayang untuk menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan dalam Islam. Tak heran, catatan Tome Pires seorang Portugis yang datang ke pantai selatan Jawa pada 1515 menyebut, pesisir selatan Jawa dipimpin Adipati beragama Islam selama 800 tahun namun sulit mengislamkan penduduk pribumi, tapi Wali Songo selama 85 tahun berhasil menyebarkan Islam (Eko Widianto, 2019).

Islam yang Ramah

Dari penjelasan tersebut, sungguh jelas bahwa Islam datang dengan ramah. Tidak marah-marah. Tidak mudah menyalahkan atau mengkafirkan sesama sekalipun berbeda. Berbeda dengan jalan dakwah sekarang yang cenderung keras dalam menyikapi perbedaan. Padahal, keberbedaan (bhinneka) merupakan fitrah nusantara yang harus dirawat dan dijaga bersama agar tetap aman, tentram serta nyaman untuk dihuni.

Dakwah Islam yang ramah inilah yang sungguh mudah diterima oleh publik. Hal ini karena agama dapat dilihat sebagai entitas yang tidak menyeramkan dan menakutkan, tapi justru dapat dipahami bahwa agama itu sesuatu yang dekat dengan manusia itu sendiri. Dan, bahkan sangat dibutuhkan.

Sebaliknya, model dakwah yang sering menyalahkan, mengkafirkan dan mem-bid’ah-kan sesama atau bahkan menempuh jalur kekerasan justru akan membuat agama terlihat kotor karena hanya berisi ancaman. Tidak sarat kemanusiaan. Dan, disadari atau tidak, dakwah semacam inilah yang justru mudah disusupi oleh paham-paham radikalisme dan ekstrimisme. Yang mana, hingga kini masih kita perangi karena mengganggu kedamaian nusantara.

Lagipula, dalam Alquran, Allah Swt. secara jelas menyebut, “Tidaklah Aku mengutusmu (Muhammad) kecuali menebar rahmat bagi semesta” (Al-Anbiya’: 107). Maka itu, tinggalkanlah dakwah yang penuh kekerasan dengan dakwah yang ramah perbedaan sebagaimana dakwah Wali Songo yang termaktub lengkap dalam catatan penelitian KH. Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo. Akhirnya, sugeng tindak KH. Agus Sunyoto. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Swt. Dedikasi pemikiran sejarah perkembangan Islam akan kami jadikan teladan dan pelajaran: betapa metode dakwah Islam yang penuh kasih sayang sungguh penting untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang sarat kemanusiaan. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Facebook Comments