Perempuan sebagai Katalisator Literasi

Perempuan sebagai Katalisator Literasi

- in Suara Kita
421
0

Tepat tanggal 21 April ini kita kembali memperingati hari Kartini. Peringatan hari kartini tersebut menjadi momen agar perempuan di Indonesia tidak hanya fokus mengurusi masalah formal prosedural, yakni sumur, dapur dan kasur. Sebagai seorang perempuan di era digital, perempuan dituntut mampu mengemban tugas laki-laki. Karenanya, menjadi sangat relevan apabila seorang perempuan menjadi sal satu agen perubahan, setidaknya dalam dunia digital.

Hingga saat ini, perkembangan digital di Indonesia sangat luar biasa. Menurut data yang dipublikasikan oleh asosiasi penyelenggara Jasa Internet Indonesia, sebanyak penduduk 262 juta penduduk Indonesia, 50 persen atau 143 juta orang telah terhubung ke internet. Bahkan, hampir 50 persen pengguna internet adalah mereka yang berusia antara 19-34 tahun. Sedangkan 16,68persen generasi yang berusia 13 hingga 18 tahun. Ini artinya, orang tua sebagai pihak paling dekat dengan anak-anaknya mengemban tanggung jawab pendidikan literasi digital. Tujuanya sangat jelas, agar anak-anak yang candu digital tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten negatif seperti radikalisme.

Harus diakui, masyarakat yang hidup sekarang adalah masyarakat digital. Dunia digital menjadi prasyarat utama agar perempuan tidak diibaratkan pelengkap laki-laki.  Perjuangan emansipasi dan kesetaraan wanita yang dipelopori oleh Raden Ajeng (RA) Kartini patut menjadi nyala yang luar biasa membangkitkan spirit perempuan untuk memperoleh hak yang layak. Lahirnya sosok Kartini telah mengilhami betapa pentingnya kesertaan bagi masa depan kaum perempuan.

Selain itu, hingga lintas generasi emansipasi wanita yang diperjuangkan oleh RA Kartini telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan pendidikan perempuan. Hal ini sejatinya tidak terlepas dari regenerasi sosok Kartini yang terus berupaya memperjuangkan masa depan pendidikan bagi anak bangsa. Mereka lah sosok guru yang mendidik dengan ikhlas sepenuh hati tanpa mengharap balas jasa. Di pelosok negeri ini masih banyak guru yang tulus mendidik meskipun digaji tidak setimpal. Demi memperjuangkan masa depan anak bangsa, banyak pengorbanan yang telah mereka lakukan hingga mengantarkan anak bangsa sebagai manusia yang sejati yaitu manusia yang berpendidikan dan berbudi pekerti luhur.

Saat ini banyak kita jumpai perempuan yang berhasil mengisi profesi strategis yang kerap diidentikkan sebagai profesi laki-laki, misalnya arsitek, dokter, polisi, dan lainnya. Selain itu, yang menarik adalah perempuan saat ini mampu menduduki posisi strategis di pemerintahan. Ini artinya, perjuangan panjang RA Kartini telah berhasil membuang sekat-sekat diskriminasi pendidikan bagi kaum perempuan. Lalu bagaimana sosok Kartini di era digital?

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang ini patut kita renungkan bagaimana sosok Kartini (guru) dalam mendidik siswa-siswanya. Setidaknya ada hal penting yang harus dilakukan oleh guru dalam mendidik siswa-siswanya di era kecanggihan digital.

Salah satu bidikan paling urgen adalah ikhtiar menyelamatkan peserta didik dari masifnya ajaran radikalisme yang bertebaran di dunia maya melalui pendidikan literasi digital. Anak-anak yang bersentuhan secara langsung dengan gadget akan mudah terkontaminasi oleh ajaran radikal yang menjalar lewat internet. Melalui artikel yang memuat berita hoax, game online, dan film animasi anak yang mengarah pada radikalisme secara masif mendoktrin mental anak-anak.  Realitas tersebut harus mampu mendorong para pendidik untuk menangkal ajaran radikalisme di kalangan anak-anak sejak dini. Hal ini dapat dilakukan dengan mengaktualisasikan pendidikan literasi digital di sekolah.

Salah satu strateginya adalah peserta didik harus diajak berdiskusi, membangun rasa keingintahuan mereka dan didorong untuk berfikir kritis dalam menyikapi berbagai konten berbau radikalisme yang mereka jumpai saat mengakses internet. Sehingga tugas guru tidak sekedar mengajari peserta didik untuk membaca, menulis, menghitung, dan mengerjakan soal secara drilling.

Hal tersebut sangat urgen untuk diaktualisasikan di era kecanggihan digital sekarang ini. Dalam rangka meneruskan amanat RA Kartini dan relevansi ajarannya dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada nasib anak bangsa, para pendidik harus terus mengupayakan yang terbaik bagi peserta didik. Karena persoalan pendidikan yang saat ini kita hadapi bukan lagi sekedar diskriminasi, namun lebih pada menjaga anak bangsa agar tidak terseret oleh ajaran radikalisme yang dapat meruntuhkan nasionalisme bangsa Indonesia.

Facebook Comments