Resolusi 2021: Memberangus Sindrom Kebencian, Membumikan Kultur Toleran di Kanal Maya

Resolusi 2021: Memberangus Sindrom Kebencian, Membumikan Kultur Toleran di Kanal Maya

- in Suara Kita
1310
0
Resolusi 2021: Memberangus Sindrom Kebencian, Membumikan Kultur Toleran di Kanal Maya

Kebencian ialah akar semua kejahatan kemanusiaan. Demikian dinyatakan oleh Dalai Lama. Pernyataan itu kiranya bukan omong kosong belaka. sejarah mencatat, berbagai konflik sosial berdarah dan genosida manusia berawal dari benih kebencian yang bereskalasi menjadi kehendak untuk mengenyahkan kelompok yang dipandang sebagai pembawa ancaman. Genosida komunitas Yahudi oleh Nazi berawal dari kebencian rasialistik yang berkelindan dengan nasionalisme sempit serta glorifikasi mitos keagungan ras Arya. Demikian pula pembantaian massal yang terjadi sejak era purba hingga modern, hampir dipastikan semuanya berakar dari kebencian.

Di era modern-kontemporer, kebencian telah berevolusi sedemikian rupa dan dikomodifikasi oleh pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan ekonomi-politik. perbedaan ras, etnis, dan agama dipelintir sedemikian rupa menjadi sentimen kebencian. Di era yang disebut oleh Manuel Castels sebagai era masyarakat jaringan (network society), kebencian menjadi mudah diproduksi dan diamplifikasi melalui saluran internet dan media sosial. Hari ini kita menyaksikan sendiri bagaimana kebencian telah menjadi sindrom di dunia maya yang menimbulkan segregasi sosial bahkan mengancam keutuhan bangsa.

Jika menengok perjalanan bangsa ini setahun ke belakang, kita akan mendapati bagaimana sindrom kebencian telah menyebar di nyaris semua ranah, mulai dari politik, sosial dan agama. Di panggung politik, kebencian yang berakar dari fanatisme dukung-mendukung calon pemimpin (presiden atau kepala daerah) telah menjadi semacam tren baru dalam sistem demokrasi kita. Politisasi kebencian itu tidak pelak telah merusak tatanan demokrasi yang selama dua dekade era Reformasi kita bangun. Merujuk hasil riset Freedom House, capaiaan demokrasi Indonesia saat ini mengalami kemunduran (decline), salah satu sebabnya ialah maraknya ujaran kebencian terutama di dunia maya.  

Mewaspadai Lingkaran Setan Kebencian

Dalam konteks relasi sosial, sindrom kebencian mewujud pada semburan caci-maki dan cemoohan yang seolah telah menjadi bahasa keseharian kita, terutama di media sosial. Di ranah virtual, masyarakat seolah telah kehilangan budaya sopan-santun dan dikuasai oleh nalar arogan dan sarkasme yang melampuai batas. Demikian pula dalam konteks agama, dimana kebencian mengejawantah pada menguatnya eksklusivisme dan konservatisme beragama. Begitu mudahnya kelompok mayoritas menuding kaum minoritas sebagai kafir, sesat dan beragam label diskriminatif lainnya. Semua itu lantas saling berkait-kelindan membentuk sebuah labirin problem kemanusiaan yang tidak mengenal ujung.

Maruli CC Simanjuntak dalam buku Atas Nama Kebencian menyebut bahwa kebencian akan melahirkan perasaan trauma sekaligus dendam bagi para korbannya. Kaum minoritas yang kerap menjadi sasaran kebencian dan tindakan intoleran akan menyimpan dendam yang diwariskan secara turun-temurun. Mereka akan menduplikasi kebencian sehingga melahirkan lingkaran setan yang sukar diputus. Lingkaran setan dendam yang dilatari kebencian ini tentu tidak ideal dalam konteks bangsa Indonesia yang berkarakter plural. Di tengah pluralitas agama, etnis, budaya dan ras kebencian telah menjadi benalu yang mengganggu relasi sosial kebangsaan kita. Di titik inilah, kita membutuhkan upaya untuk memutus rantai kebencian di dunia dunia, yakni dunia virtual dan dunia nyata.

Di dunia nyata, pendidikan berperan sangat vital dalam memutus lingkaran setan kebencian. Pendidikan memegang peran dalam menanamkan spirit inklusivisme dan pluralisme sebagai cara pandang yang terbuka dan afirmatif terhadap perbedaan. Pendidikan idealnya menjadi proses mencetak individu-individu yang tidak hanya terpelajar (educated) dalam hal ilmu pengetahuan dan keterampilan, namun juga melahirkan manusia yang tercerahkan (enlightened) dalam hal paradigma sosial. Inkluvisme dan pluralisme tentu tidak bisa diajarkan semata melalui teori tekstual, melainkan harus diamalkan melalui praktik langsung.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan dari tingkat usia dini sampai perguruan tinggi idealnya membuka ruang seluas mungkin yang memungkinkan peserta didik berjumpa dan menjalin relasi dengan entitas yang berbeda. Pengalaman bergumul dengan keragaman itu akan masuk ke alam bawah sadar dan diharapkan dapat membentuk kesadaran untuk mengakui dan menghormati keberadaan liyan. Ironisnya, dunia pendidikan kita hari ini masih cenderung bercorak eksklusif, bahkan segregatif. Lembaga pendidikan justru kerap menebalkan sentimen anti-perbedaan di kalangan peserta didik. Hal ini tampak pada merebaknya fenomena intoleransi bahkan radikalisme di lingkungan institusi pendidikan, dari sekolah menengah hingga universitas.

Membangun Kultur Toleran di Dunia Maya

Sedangkan di ranah maya, lingkaran setan kebencian itu kiranya dapat diputus dengan upaya membumikan kultur toleran. Sebagaimana di dunia nyata, di dunia maya kita juga tidak bisa menghindari perbedaan, lantaran hal itu ialah sebuah keniscayaan. Di dunia maya, kita akan dengan mudah menemukan entitas yang memiliki pandangan dan opini yang berbeda. Upaya kita untuk menyeragamkan pandangan di dunia maya bisa dibilang merupakan hal yang utopis alias mustahil. Di sinilah pentingnya kita mengembangkan kultur toleran dalam sebagai fondasi relasi sosial daring. Dengan mengedepankan kultur toleran, kita akan terbiasa menghadapi perbedaan di dunia maya dengan nalar progresif, yakni menganggapnya sebagai bagian dari dinamika dan diskursus yang tidak perlu ditanggapi secara reaksioner.

Membumikan kultur intoleran di dunia maya dapat dilakukan dengan menciptakan diskursus yang sehat. Perbedaan pangan dan debat opini di kanal maya harus dikelola agar mengarah ke hal yang konstruktif, alih-alih destruktif. Di titik ini saya teringat pada momen perdebatan seputar isu agama dan sains yang terjadi di kanal Facebook beberapa waktu lalu. Debat itu melibatkan sejumlah nama besar dalam panggung keilmuan nasional saat ini. Mereka saling berbalas tulisan panjang dan mendalam. Menariknya, semua pihak hanya fokus pada tema perdebatan tanpa menyerang secara personal dengan logika ad hominem, sebagaimana lazimnya debat di medsos. Tulisan mereka pun jernih mengalir, menghadirkan sajian menarik sekaligus mencerahkan. Bahkan, tulisan-tulisan hasil debat itu kini telah dibukukan.

Debat produktif itulah yang harus kita tradisikan di kanal maya. Debat yang menjunjung tinggi etika komunikasi dan kaidah ilmiah, bukan debat kusir yang mengeksploitasi sentimen arogansi dan kebencian. Dengan membangun diskursus yang sehat dan konstruktif, maka kultur toleran akan dengan sendirinya berkembang di dunia maya. Momen pergantian tahun ini kiranya bisa menjadi kesempatan kita untuk mendekonstruksi kultur kanal maya kita yang belakangan dihegemoni oleh sindrom kebencian menuju relasi daring yang bertumpu pada kultur toleran.

Facebook Comments