Satu Tekad Menjaga Kebhinnekaan

Satu Tekad Menjaga Kebhinnekaan

- in Editorial
524
0

Merajut kebhinnekaan dalam satu simpul negara kesatuan bukan persoalan mudah. Butuh pengorbanan egoisme sektoral, sekterian dan kepentingan diri demi menggapai kemaslahatan kolektif yang lebih besar. Ternyata, rumitnya merajut harmoni kebhinnekaan, tidak sebanding dengan mudahnya merusak kebhinnekaan.

Indonesia boleh berbangga dengan kekayaan kebhinnekaan yang dimiliki. Namun siapa sangka apabila kebhinnekan yang kita miliki selama ini bukan bangunan kokoh yang menjulang tinggi, tetapi hanya tumpukan jerami. Hanya butuh pemantik api kecil bernama provokasi yang mampu membakar tumpukan jerami kebhinnekaan yang telah tersusun lama.  Kebhinnekaan kita mudah terbakar karena hasutan.

Derasnya arus provokasi, hasutan, fitnah dan penanaman kebencian terhadap yang lain menandai munculnya desain yang ingin memanfaatkan kebhinnekaan sebagai muara perpecahan. Masyarakat tidak terbiasa lagi untuk saling menghormati dalam perbedaan, sopan santun terhadap sesama, dan bermusyawarah dalam memecahkan persoalan. Masyarakat digiring untuk saling curiga, saling mencaci maki, saling menuduh, dan saling menyalahkan.

Media sosial menjadi ruang alternatif untuk menumpahkan kecurigaan, hasutan, cacian, bahkan umpatan yang yang menggilas norma dan etika. Dunia maya menjadi seutuhnya rimba yang menempatkan diri kita sebagai binatang buas untuk memangsa yang lain yang tidak sepaham, sependapat dan seide dengan cara kita memiliki pandangan.  Informasi dari internet menjadi candu baru masyarakat modern. Semua memahami tidak semua berita dari internet adalah benar, tetapi semua juga tidak bisa mengelak untuk menganggapnya sebagai kebutuhan primer.

Dalam kondisi seperti ini masyarakat seakan tidak lagi tahu mana lawan dan mana kawan. Semuanya diukur dalam batas kepentingan pribadi dan kelompok. Masyarakat menjadi sangat sensitif dengan nuansa perbedaan. Mungkin tidak berlebihan apabila Seorang Panglima TNI telah mengingatkan bahwa Indonesia sedang mengalami desain besar proxy war; perang yang mengadu domba antar masyarakat yang dilakukan pihak luar.

Desain besar itu semakin nampak kelihatan dengan cara membuat kegaduhan. Menyibukkan masyarakat dengan berbagai konflik internal dan permusuhan. Menguras energi untuk bertarung bukan untuk membangun peradaban yang unggul. Mengutip ucapan Ketua Umum PP Muhammadiyah: “mengumpulkan orang demo memang lebih mudah berbeda dengan mengajak orang ke perpustakaan atau mengembangkan ilmu pengetahuan”.

Indonesia harus belajar dengan berbagai sejarah kehancuran bangsa. Kebhinnekaan memang modal, tetapi sekaligus menjadi sumber bencana. Beberapa negara Timur Tengah yang relatif homogen saja bisa diadu domba dengan isu sekterian. Nasionalisme menjadi urutan kesekian dibandingkan dengan perasaan kelompok. Masyarakat terbelah, menampakkan rupa perang bersaudara.

Bayangkan, betapa mudahnya negara menjadi gagal dan hancur karena isu sekterian dan kepentingan. Indonesia dengan ragam perbedaan menjadi sangat potensial untuk dibenturkan dalam kubangan konflik bernuansa perbedaan. Masyarakat akan dikuras energinya untuk selalu saling curiga, menghasut, membenci dan menyerang satu dan lainnya.

Dalam kondisi seperti itulah, masyarakat Indonesia harus bangkit. Seluruh elemen bangsa ini harus menyadari bahwa kegaduhan, perpecahan dan konflik adalah alat utama untuk mencabik-cabik keutuhan NKRI. Kebhinnekaan akan selalu menjadi alat pemantik api perpecahan di tengah masyarakat. Konflik dan perang saudara akan menjadi pintu masuk bagi intervensi untuk merusak tatanan negeri.

Persoalan bangsa ini tidak bisa diselesaikan oleh satu kelompok. Indonesia juga bukan milik segelintir orang dengan agama tertentu, etnis tertentu, suku tertentu, atau keyakinan terentu. Indonesia adalah milik kita bersama. Karena itulah, hanya kesatuan dan persatuan yang akan merawat dan menjaga kebhinnekaan untuk mewujudkan Indonesia berdaulat dan disegani bangsa-bangsa.

Indonesia butuh kerja nyata, bukan sekedar kata berbusa. Indonesia butuh kedamaian, bukan sekedar keramaian. Indonesia butuh satu komitmen dan tekad nyata untuk Indonesia damai.

Facebook Comments