Semangat Kebersamaan dalam Idul Fitri

Semangat Kebersamaan dalam Idul Fitri

- in Suara Kita
343
0
Semangat Kebersamaan dalam Idul Fitri

Idul Fitri merupakan sebuah momen besar bagi umat islam di seluruh dunia. Hari yang dianggap suci dan merupakan satu dari dua hari raya bagi umat islam yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. Menjadi sebuah perayaan untuk kembali berbuka setelah selama satu bulan kewajiban untuk berpuasa telah paripurna ditunaikan oleh kaum muslim. Tak terkecuali di tanah air tercinta kita, Indonesia. Umat islam di Indonesia selalu menantikan momen Idul Fitri sebagai sebuah tradisi tahunan yang mendarah daging.

Menurut pemahaman umum umat Islam Indonesia, Idul Fitri dipahami sebagai “kembali kepada kesucian.” Umat Islam yang berpuasa selama Ramadhan dan merasa diampuni dosa-dosanya, dinilai sebagai manusia yang memperoleh kembali status kesucian, sesuai kondisi natural dirinya yang terlahirkan dalam keadaan suci.

Jika pemahaman ini dibenarkan, umat Islam yang terlibat korupsi dan berbagai kejahatan lainnya, memperoleh justifikasi teologis sebagai manusia yang terlahirkan kembali kepada kesuciaan di hari raya Idul Fitri. Pemahaman ini salah, dan melalui momentum hari raya ini, perlu direnungkan kembali makna Idul Fitri yang benar.

Dalam The Foreign Vocabulary of the Qur’an (1938), Arthur Jeffery, memasukkan ‘id ke dalam kosakata asing, yang berasal dari bahasa Suriah, ‘ida, bermakna “hari raya” dan, lebih spesifik dalam tradisi Kristen, sebagai “hari raya liturgi” (a liturgical festival).

Dalam tradisi Kristen, istilah ‘id al-rusul dipakai untuk merujuk pada hari raya Santo Peter dan Paul; ‘id jami’ al-qiddisin untuk merujuk pada hari raya orang-orang suci (santo); ‘id al-fish untuk merujuk pada hari raya Paskah; dan, yang lebih penting lagi, ‘id al-milad untuk merayakan hari raya Natal, kelahiran Yesus. Dalam konteks inilah, istilah ‘id sudah biasa digunakan dalam tradisi hari raya agama monoteistik, seperti Kristen.

Keadaban ini jelas bergayut dengan kesadaran terhadap kemajemukan. Masyarakat majemuk dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok, strata sosial, ekonomi, suku, bahasa, budaya, dan agama. Di dalam masyarakat majemuk, setiap orang dapat bergabung dengan kelompok tanpa rintangan-rintangan sistemik yang mengakibatkan terhalangnya hak untuk berkelompok dengan kelompok tertentu.

Moto kemajemukan Bhinneka Tunggal Ika merupakan cantelan dalam berkehidupan bermasyarakat yang beradab dan bermartabat. Moto ini adalah cita-cita adiluhung bangsa Indonesia untuk terciptanya masyarakat yang beradab dan bermartabat. Upaya untuk mencapai kualitas hidup yang optimal untuk menjadi lebih sejahtera, berkeadilan, dan berkemakmuran, niscaya akan membawa masyarakat dapat duduk sama rendah serta tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain dunia.

Untuk itulah, diperlukan infrastruktur harmonisasi sosial dalam kehidupan bersama. Menghormati pluralitas harus sejalan dengan menghormati peradaban dan martabat. Tidak ada artinya pluralitas kalau yang dipertahankan adalah budaya primitif, keterbelakangan, dan hanya asal berbeda. Alasannya demi kemurnian penghormatan budaya lokal atau hak asasi manusia, tanpa mempertimbangkan hak manusia lainnya dalam sistem kehidupan bersama.

Sikap sadar kemajemukan berarti pula sikap sadar terhadap multikulturalisme. Artinya, sikap ini menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Konsep tersebut mengajak masyarakat dalam arus perubahan sosial, sistem tata nilai kehidupan dengan menjunjung tinggi toleransi, kerukunan, perdamaian, serta menghindari sejauh mungkin konflik atau kekerasan, meskipun terdapat perbedaan sistem sosial di dalamnya.

Dalam ajaran Islam, semangat perdamaian dan toleransi antar-umat memiliki landasan legitimasi yang kokoh sebab ajaran ini hadir dengan misi rahmatan lil alamin. Artinya menciptakan peradaban yang penuh kasih dan damai, tidak saja bagi umat manusia seluruhnya, tapi juga pada segala penghuni alam raya. Sekali lagi, bangsa Indonesia adalah warga yang hidup dalam suasana pluralitas dan multikultural sehingga terbiasa dengan berbagai perbedaan. Mereka menerima perbedaan tersebut dengan prinsip hidup berdampingan secara damai.

Jangan sampai dalam mengarungi arus modernisasi dan derap perubahan sosial yang demikian cepat, kedamaian yang sudah berlangsung lama itu terganggu kemunculan konflik-konflik sosial. Ini dipenuhi semangat pembedaan serta pembelaan etnik dan agama sehingga integritas keindonesiaan, kerukunan umat beragama yang pernah dibanggakan, diakui bangsa lain, menjadi luntur.

Untuk itu, perlu dikembalikan menjadi industri kecintaan yang diharapkan tercipta suatu kedamaian. Ada dua pilihan hidup di dunia ini, untuk menjadikan rahmat atau dihancurkan oleh globalisme. Supaya kita menjadi rahmat, maka harus saling mengakui pluralitas. Di antara tanda-tanda kebesaran Tuhan adalah penciptaan dunia, perbedaan lidah, dan bahasa. Demi itu semua harus mengembalikan integrasi dan kerja sama sesama kita.

Facebook Comments