Kamis, 25 April, 2024
Informasi Damai
Archives by: Ngarjito Ardi

Ngarjito Ardi

0 comments

Ngarjito Ardi Posts

Merdeka dari Terorisme

Merdeka dari Terorisme
Narasi
Terorisme telah menjadi ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan global, termasuk di Indoensia. Terbaru, Densus 88 telah menangkap diduga seorang terorisme yang merupakan pegawai BUMN. Fenomena ini telah menciptakan ketidakstabilan di banyak negara, mengancam nilai-nilai demokrasi, serta mengambil nyawa ribuan orang tak bersalah. Oleh karena itu, upaya merdeka dari terorisme harus menjadi prioritas utama bagi seluruh komunitas internasional. Merdeka dari terorisme bukan hanya tentang mengatasi kelompok teroris, tetapi juga tentang ...
Read more 0

Mewaspadai Transformasi Ideologi NII di Era Sekarang

Mewaspadai Transformasi Ideologi NII di Era Sekarang
Narasi
Negara Islam Indonesia atau lebih terkenal NII sudah dibubarkan sejak pada 2 September 1962. Meskipun demikian, NII harus menjadi perhatian negara dan masyarakat sampai era sekarang ini. Banyak Embrio-embrio simpatisan NII masih tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Yang terbaru, Ponpes Al Zaytun yang ditenggarai mengajarkan ajaran sesat dan menistakan agama dan secara historis pesantren ini diyakini mempunyai hubungan historis dengan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Namun, membantah terhadap berbagai tudingan ...
Read more 0

Pesan Penting Khutbah Haji Perpisahan Rasulullah: Kemanusiaan dan Kesetaraan

Pesan Penting Khutbah Haji Perpisahan Rasulullah: Kemanusiaan dan Kesetaraan
Narasi
Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang dianggap sebagai manusia sempurna dan teladan bagi setiap insan. Beliau memiliki karakteristik dan sifat-sifat yang luar biasa, yang menjadikannya sebagai contoh yang patut diteladani oleh umat Muslim. Teladan paliang utama adalah menjadi sosok yang sangat mencintai Allah dan memiliki hubungan yang erat dengan-Nya. Ia adalah utusan Allah yang dipilih untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia. Ketekunan dan kepasrahan beliau terhadap Allah merupakan teladan bagi ...
Read more 0

Hijrah Kebangsaan: Membangun Peradaban dan Persaudaran

Hijrah Kebangsaan: Membangun Peradaban dan Persaudaran
Narasi
Hijrah tidak sekedar menjadi tindakan kolektif personal yang memberikan kesadaran terhadap pentingnya agama dalam kehidupan manusia. Kini, hijrah menjadi gerakan dakwah secara komunal. Gerakan yang mendorong seseorang tidak hanya memperbaiki akhlak, tetapi menjadi gerakan mengarah kepada ideologi tertentu. Gerakan hijrah ini banyak digerakan para kalangan generasi milenial, yang kemudian menjadi melahirkan puluhan komunitas hijrah tingkat nasional dan lokal. Fenomena ini juga diikuti beberapa tokoh figur para artis dan selebritis yang ...
Read more 0

Toleransi: Jalan Damai Menjaga Indonesia

Toleransi: Jalan Damai Menjaga Indonesia
Narasi
Bulan Agustus telah datang kembali. Bulan bersejarah dalam masa kemerdekaan Indonesia. Bulan ini, hampir 76 tahun kemerdekaan Indonesia diikrarkan bersama. Di tahun ini, suasana kemerdekaan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bila tahun kemarin, diawal bulan sudah nampak hingar-bingar perlombaan, serta banyaknya masyarakat menghiasa jalan kampung dengan aneka kreasi. Kini, kita hanya bisa merayakan dalam kesunyian dan menjaga jarak, lantaran wabah belum usai. Meskipun di bulan kemerdekaan nampak berbeda, tetapi spirit perjuangan ...
Read more 0

Hasyim Asy’ari: Ulama Pemersatu Umat

Hasyim Asy’ari: Ulama Pemersatu Umat
Narasi
Persatuan merupakan konsekuensi logis yang harus dibangun di Indonesia, bahkan dalam landasan beragama merupakan hal penting harus dijaga. Dalam agama Islam konsep persaudaraan dikenal dengan ukhuwah, konsep dasar ini dilandasi dari tindakan Nabi Muhammad dalam melakukan integrassi antara kaum Ansor dengan kaum Muhajirin. Dari landasan dasar ini, konsep persaudaraan dibangun atas dasar iman. Dalam konteks berbeda, persaudaraan di Indonesia dibangun melakukan konsep keimanan, dimana masyarakat dipersatuan dalam Pancasila. Dalam konsep ...
Read more 0

Nasionalisme Keagamaan Sebagai Filter Radikalisme

Nasionalisme Keagamaan Sebagai Filter Radikalisme
Narasi
Beberapa hari ini, di sosial media dihebohkan dengan potongan video cerah salah satu ustadz yang mengatakan bahwa tidak usah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dalam cerama ini, ustadz tersebut menjawab pertanyaan dari jamaahnya yang merasa resah saat disuruh menyanyikan lagu kebangsaan setiap pagi. Pertanyaan dan Jawaban dari ceramah tersebut, merupakan bibit hilangnya rasa nasionalisme dalam diri seseorang. Bila bibit ini tidak dihilangkan dari dalam masyarakat, hal ini akan menjadi gulma yang ...
Read more 0

Merawat Pancasila, Meruntuhkan Nasionalisme “Tribal”

Nasionalisme pada dasarnya memiliki pemaknaan yang baik, bahkan harus dimiliki setiap warga negara agar mencintai negaranya. Secara arti, nasionalisme merupakan paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, tanpa memandang dia dari suku, agama dan kebudayaan tertentu; masyarakat yang mencintai bangsanya juga ikut berperan andil dalam menjaga kehidupan yang adil dan damai. Nasionalisme menjadi barang rapuh ketika nasionalisme didasari pada sifat kesukuan (tribal). Maksudnya Nanaslime tribal merupakan berasal dari kesadaran dari sukuisme yang diperluas dengan komitmen untuk menyatukan semua orang yang memiliki darah yang sama atau asal-usul rohani yang sama (agama) untuk menandai pembeda “bangsa” di atas semua yang lain. Nasionalisme tribal akan mengakibatkan negara hanya mengayomi masyarakat mayoritas dan menindas masyarakat minoritas. Ironinya lagi, ketika agama tertentu dijadikan alasan nasionalisme tanpa melihat bahwa sifat nasionalisme harus dimiliki semua masyarakat tanpa terkecuali, maka akan mudah terjadinya peperangan atas nama kelompok bahkan agama tertentu. Meningkatnya nasionalisme “tribal” sangat kita rasakan saat kampanye akhir-akhir ini, di mana para politisi secara agitasi para politisi. Bahkan meraka memanfaatkan masyarakat yang memiliki nasionalisme “tribal” untuk kepentingan-kepentingan mereka sendiri, bahkan secara nyata para politisi ini mengabaikan kepentingan negara ini, terlebih negara ini merupakan negara kesatuan dari beberapa suku, agama dan ras. Agitas-agitasi yang menggunakan nasionaslime tribal telaah menciderai dasar negara Indonesia, Pancasila, di mana dasar negara telaah mengayomi semua masyarakat tanpa melihat siapa dirinya. Sebab Pancasila menerapkan prinsip kemanusiaan dan musyawarah; dua titik poin ini merupakan nilai yang tidak bisa diubah dalam menjalankan kehidupan berbangsa Indonesia. Kita tengok awal berdirinya Negara Indonesia, para pendiri bangsa tidak mementingkan nasionalisme “tribal”, ini sangat terlihat di mana pergulatan menganai sila pertama; apa harus menggunakan tujuh kata yang lebih mengarah kepada agama tertentu atau tidak. Dengan pertimbangan segala kepentingan, para pendiri lebih mengutamakan musyawarah dan kemanusiaan, di mana sila pertama yang bisa mengayomi semua masyarakat tanpa melihat apa keyakinannya tersebut. Tindakan para pendiri bukan bukan sebuah kekalahan melainkan titik awal kemenangan dalam ajaran Islam itu sendiri. Sebab ajaran Islam pada dasarnya adalah keselamatan kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Saat ajaran agama, melukai sedikit pun dalam kehidupan, bahkan melukai binatang, maka cara beragama patut dipertanyakan. Penulis tidak perlu menunjukkan dalil atau sejenisnya, sebab dalam beberapa literatur al-Quran dan Hadits menunjukkan bahwa keutamaan Islam adalah menjaga persaudaraan dan perdamaian. Dengan kehadiran Pancasila dengan mengedepankan rasa kemanusiaan, mengayomi semua perbedaan tetapi nilai-nilai Pancasila berlandaskan pada Ketuhanan yang Maha Esa. Landasan ini sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Karena, Tuhan ada kebenaran yang sejati, kebenaran yang murni. Mencapai kebenaran dalam kehidupan umat manusia sangat terlihat, salah satunya tanda adalah kebenaran itu dapat mengayomi semua perbedaan, tanpa melihat siapa dia, agamanya, sukunya serta bentuk wajahnya. Para pendiri menyadari bangsa Indonesia tidak hanya dibangun dan diperjuangkan satu suku semata, tetapi negara Indonesia diperjuangkan semua masyarakat dengan semangat kemerdekaan yang sama. Kita tidak bisa membayangkan, bila sila pertama dengan tujuh katanya tetap dipertahankan maka negara Indonesia bukan lagi menjadi negara yang demokrasi tetapi negara yang berdasarkan kepada agama atau suku tertentu. Selepas itu, di masa tenang dalam kampanye pemilu yang melelahkan ini, mari kita merawat dan menguatkan Pancasila pada setiap individu masyarakat terkecuali. Yang terpenting dalam merawat Pancasila adalah adanya suri tauladan para elitik negara, mereka harus memberikan contoh bagaimana kehidupan berbangsa yang mengayomi semua masyarakat tanpa suku atau agamanya. Para elite negara merupakan cerminan bagaimana kehidupan masyarakat yang dibawahnya, bila mereka mengendepankan nasionalisme tribal dalam menjalankan negara, maka masyarakat akan menjadi terkotak-kotak. Bila hal ini terjadi maka akan mudahnya terjadi konflik yang diterjadi karena kesenjangan sosial. Oleh karena itu, merawat Pancasila tetap menjadi ideologi Negara Indonesia, maka sama halnya menjadi merawat Indonesia tetap majemuk dan damai dalam perbedaan.
Narasi
Nasionalisme pada dasarnya memiliki pemaknaan yang baik, bahkan harus dimiliki setiap warga negara agar mencintai negaranya. Secara arti, nasionalisme merupakan paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, tanpa memandang dia dari suku, agama dan kebudayaan tertentu; masyarakat yang mencintai bangsanya juga ikut berperan andil dalam menjaga kehidupan yang adil dan damai. Nasionalisme menjadi barang rapuh ketika nasionalisme didasari pada sifat kesukuan (tribal). Maksudnya Nanaslime tribal merupakan berasal dari kesadaran ...
Read more 2

Khalifah Masa Kini, Merawat Pancasila Sebagai Ikatan Persaudaraan

Khalifah Masa Kini, Merawat Pancasila Sebagai Ikatan Persaudaraan
Narasi
Indonesia memiliki penduduk usia produktif yang lebih banyak dibandingkan lima negara Asia lainnya yang memiliki produk domestik bruto (PDB) besar seperti China, Jepang, India, dan Korea. Negara-negara itu, saat ini justru mulai memasuki fase aging population karena penduduk tuanya mulai mendominasi total jumlah penduduk. Indonesia memiliki penduduk usia muda yang besar yaitu 90 juta milenial (berusia 20-34 tahun), total fertility rate (angka kelahiran) 2,28 (per 1.000 orang per tahun), angka kematian anak ...
Read more 1

Memperkuat Teologi Kasih dalam Menangkal Teologi Teroris

Memperkuat Teologi Kasih dalam Menangkal Teologi Teroris
Narasi
//Apakah kita semua benar-benar tulus menyembah pada-Nya/Atau mungkin kita hanya takut pada neraka dan inginkan surga/Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya/Jika surga dan neraka tak pernah ada, masih kah kau menyebut nama-Nya/Bisakah kita semua benar-benar sujud sepenuh hati/Karena sungguh memang Dia, memang pantas disembah memang pantas dipuja.// Demiikan kira-kira bait-bait lagu Dewa 19 yang diilhami oleh syait-syair seorang sufi perempuan yang sangat masyhur, Rabiah Adawiyah. ...
Read more 1