Sportifitas Dalam Beragama: Belajar Jujur Dari Valentino Rossi

Sportifitas Dalam Beragama: Belajar Jujur Dari Valentino Rossi

- in Keagamaan
6803
1

Dalam beberapa hal, agama juga memiliki nilai yang dijunjung sama tingginya dalam dunia olahraga, nilai tersebut adalah sportifitas. Sebelum lebih jauh mengikuti dumelan saya ini, saya harus mengingatkan bahwa tulisan ini tidak hendak mempersamakan agama dengan olahraga; ini murni tentang saya yang kebetulan menyukai olahraga dan masih tetap beragama hingga saat ini. Saya hanya ingin mengajak pembaca untuk melihat agama dari sisi yang sedikit agak berbeda.

Beberapa hari ini perbincangan tentang tragedi senggolan antara Marc Marquez dan Valentino Rossi pada ajang balap moto GP di sirkuit Sepang beberapa hari yang lalu masih sangat membara, beragam pemikiran mulai bertumpahan memberikan analisa dan pendapat terkait dengan insiden itu. Mereka yang sejatinya tidak tahu menahu tentang olah raga balap motor pun ikut bersemangat untuk memberikan ulasan seputar kejadian yang tidak mengenakkan itu. Tentu ulasannya abal-abal, tapi hey, di situlah serunya! Karena analisa abal-abal, perdebatan tentang insiden Sepang semakin tebal.

Perbincangan pun, seperti yang bisa diduga dari awal, banyak yang mulai melenceng dari tema aslinya. Tentang balapan? tidak pernah lagi ia menjadi menu utama perbincangan. Isu seputar harga diri, integritas, dan sportifitas lebih sering muncul sebagai isu yang paling bernas. Perkara balapannya? Ah, itu hanya pelengkapnya saja.

Lalu, apa hubungan perbincangan seputar Moto GP dengan agama? Iya sabar, masih saya ketik.

Ramainya perbincangan yang justru disebabkan oleh kemelencengan isi perbincangan dari fokus utamanya nyatanya tidak hanya terjadi di dunia Moto GP, dalam ranah agama hal ini sudah pula terjadi, sejak jaman bahula malah. Ada banyak perbincangan tentang agama yang sebenarnya sudah tidak lagi sepenuhnya tentang agama, perbincangan mengenai khilafah, isu sunni syiah, dan jihad misalnya, terlalu sering melenceng dari tema utamanya; agama. Isu-isu di atas kerap ditampilkan secara jauh lebih membahana, sehingga agama hanya berfungsi sebagai bungkusnya saja.

Di jaman sekarang, kita juga dapat menyaksikan bukti kemelencengan ini dari munculnya kelompok-kelompok tertentu yang membawa-membawa atribut keagamaan tapi tidak pernah sekalipun mencerminkan sikap dan ajaran agama itu sendiri. Mereka berteriak Allahu akbar tapi kemudian berlaku onar, mereka juga memekikkan jihad tetapi bertindak jahat, mengaku berjuang untuk khilafah namun dengan membuat orang lain makin susah.

Layaknya Marc Marquez yang diawal insiden ‘sempat’ mendapat banyak dukungan –sementara rossi panen cacian–, kelompok-kelompok yang mengaku paling paham urusan agama ini juga merasakan euforia yang sama pada awal-awal kemunculannya. Banyak masyarakat yang ‘sempat’ mendukung kehadiran kelompok ini, mereka mengira bahwa kelompok ini benar-benar memperjuangkan agama. Titik-titik hitam di jidat plus keranjingan menggunakan bahasa yang dicampur-campur kosa kata Arab makin membuat masyarakat mantab bahwa kelompok ini bukan kelompok sembarangan. Seolah mereka ‘resmi’ utusan langsung dari tuhan.

Dilain sisi, kyai kampung yang kalem dan cenderung sudah sepuh dianggap terlalu lembek untuk ngeyel berkompetisi menebar ajaran-ajaran surgawi. Jauh sebelum hal tidak mengenakkan di sirkuit Sepang begitu mengganggu Rossi, para kyai sudah sangat tahu nyeseknya hati akibat dicurangi. Para ‘ustadz’ yang baru muncul kemaren sore itu sudah berani berulah; sedikit-sedikit mencap suatu ritual sebagai praktik bid’ah, sedikit-sedikit bilang jihad, sedikit-sedikit bilang kafir, ah kafir kok sedikit-sedikit!

Untungnya euforia ini tidak terjadi lama,,,

Sama seperti Marquez yang belakangan mulai kehilangan respect dari masyarakat, para ‘ustadz’ ini pun mulai banyak yang ditinggal oleh jamaah yang dulu begitu memujanya. Jangan menuduh ini bagian dari ulah si kiyai kampung, tidak sama sekali. Kyai kampung cukup menjadi dirinya sendiri, track record-nya sebagai agamawan yang berintegritas tinggi sudah lebih dari cukup untuk membuat masyarakat kembali sadar bahwa kelakuan urakan para ustadz anyaran tidak bisa mengalahkan kejujuran dan kesopanan.

Hal ini pula yang dilakukan Rossi, ia tidak banyak memberi komentar di depan media sekedar untuk cari muka, ia cukup menjadi dirinya sendiri dan membiarkan masyarakat memberikan penilaian; siapa yang urakan dan siapa yang pecicilan, keduanya tentu bukan Rossi! Sikap sportif Rossi itu pun menuai respon yang sangat positif, berbagai macam dukungan mulai berdatangan, salah satunya adalah petisi (yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 6 bahasa) online yang kini bahkan telah tembus angka 300 ribu tanda tangan.

Isi dari petisi itu adalah meminta Race Director Moto GP membatalkan hukuman untuk Rossi dan mengembalikan integritas lomba balap motor yang telah tercemari oleh ketidakadilan. Integritas menjadi hal yang sangat fundamental dalam olahraga ini, karena lomba balap tidak melulu tentang adu cepat, tetapi juga tentang berbagi pelajaran dan kebahagiaan kepada banyak orang. Memberikan hukuman atas sebuah kesalahan yang tidak pernah dilakukan –sekalipun yang memberikan hukuman tersebut adalah Race director— tentu sangat merusak integritas Moto GP.

Dalam konteks agama, integritas juga menjadi unsur penting yang harus selalu dijaga, terutama dengan fakta bahwa hal ini sudah mulai hancur berantakan lantaran kesewanang-wenangan sebagian orang dalam memberikan hukuman kepada kelompok lain yang dianggap berseberangan, meski kesalahan tidak pernah mereka lakukan. Siapapun pemberi hukuman itu –sekalipun ia pejabat tinggi– harus dilawan, karena hal itu tentu sangat merusak integritas agama.

Begitu pula dengan sportifitas, unsur ini juga sangat dibutuhkan bukan saja dalam olahraga, tetapi juga  dalam beragama. Makna sesungguhnya dari kata “sportif” adalah “bersifat kesatria dan jujur” (KBBI). Banyaknya konflik atas nama agama yang terjadi belakangan ini salah satunya tentu disebabkan oleh hilangnya sikap sportif dalam beragama; terlalu asik berlomba memenangkan balapan menuju surga, sampai lupa bahwa surga tidak akan kemana-mana.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Saud Umar Nasution, M.H dalam banyak kesempatan kerap menyatakan bahwa mereka yang mengaku cinta tuhan namun masih doyan melakukan kekerasan adalah orang-orang yang kepalanya penuh khayalan, karenanya kita perlu membantunya kembali ke dunia nyata.

Laiknya balapan yang tidak melulu tentang adu kecepatan, beragama juga bukan hanya tentang kegilaan untuk rebutan tuhan. Tugas kita hanyalah berbuat baik dan memberi manfaat terhadap sesama, urusan surga dan neraka biarkan tuhan saja yang mengaturnya.

Rossi paham betul tugas di atas, begitupula dengan para kyai kampung dan kita semua yang percaya bahwa kekerasan tidak akan dapat menyenangkan tuhan. Kita semua hanya perlu bersikap jujur dan kesatria untuk menjaga agar tidak ada lagi yang menunggangi agama. Mereka yang hanya numpang gaya tidak akan bisa bertahan lama, sementara mereka yang jujur akan tetap makmur.

Hidup sportifitas!

Facebook Comments