Stop Provokasi Tentang Vaksin, Kuatkan Budaya Antisipasi

Stop Provokasi Tentang Vaksin, Kuatkan Budaya Antisipasi

- in Suara Kita
1155
0
Stop Provokasi Tentang Vaksin, Kuatkan Budaya Antisipasi

Era sekarang ini, orang lebih suka menonton dibandingkan membaca. Sedangkan ketika kita kaji lebih dalam, budaya membaca merupakan suatu hal yang bisa menaikkan cara berpikir seseorang dalam menjadi pribadi yang cerdas. Sebagaimana yang diungkapkan oleh pepatah kuno, bahwa buku adalah jendela dunia. Pepatah ini seringkali diartikan, bahwa dengan membaca seseorang akan memiliki pengetahuan yang luas. Dengan membaca seseorang akan memahami sejarah, kebenaran, dan juga dirinya tidak akan dengan mudahnya termakan oleh berita-berita bohong atau hoax, fitnah ujaran kebencian sampai dengan provokasi. Sebab, dirinya sudah memiliki bekal pengetahuan dari hasil pembacaannya.. .

Realitas inilah yang seharusnya dibenahi bersama. Bahwa kurangnya budaya membaca yang dialami bangsa ini harus segera dibenahi. Sebab, membaca merupakan sebuah dimensi manusia beranjak dari ketidaktahuan menuju pada fase mengerti sampai dengan paham. Fakta menunjukkan bahwa seseorang yang sering membaca, dirinya tidak akan mudah mengadopsi setiap hal-hal baru yang masuk dalam dirinya. Ia akan mengolah, atau mencari tau kebenaran tentang sesuatu baru yang masuk dalam dirinya. Seperti misalnya, ketika dirinya mendapatkan suatu kabar ataupun berita yang belum tau sumber kebenarannya, dirinya tidak akan dengan mudah membagikan berita tersebut kepada orang lain ataupun media sosial. Ketika dirinya sudah menemukan kebenaran tersebut, maka fakta itulah yang akan disebarkan.

Budaya semacam inilah yang sebenarnya harus disebarluaskan di bangsa Indonesia. Bahwa munculnya pikiran-pikiran negatif salah satunya disebabkan kurangnya pengetahuan seseorang dalam dunia literasi. Kurangnya budaya membaca membuat seseorang menjadi pribadi yang awam. Keadaan ini kemudian memaksa pikiran dan keadaan mengamini sesuatu yang masuk tanpa harus memilah dan memilih akan kebenaran tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Paul Goebbels menteri propaganda zamannya Adolf Hitler  yang pernah berkata, sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya dan kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja. Hal ini mengindikasikan, bahwa kebenaran yang diubah sedikit pun bisa melahirkan sebuah kebohongan yang besar.

Sejalan dengan itu adanya vaksin Sinovac dari China yang rencananya akan digunakan secara massal untuk masyarakat Indonesia memberikan dua kabar. Pertama menggembirakan,  dikatakan menggembirakan, karena vaksin ini memberikan sebuah harapan baru bagi masyarakat untuk kembali pada kehidupan normal. Sebab, vaksin Sinovac tersebut diyakini bisa menjadi alternatif kekebalan tubuh dalam menangkal virus covid-19. Sedangkan yang kedua kabar menyedihkan, di mana sebagian masyarakat masih memilih jalan resistensi. Dirinya memberikan sebuah penolakan tentang hadirnya vaksin, yang tidak menutup kemungkinan memberikan argumen yang tidak sesuai fakta kepada masyarakat. Hingga pada akhirnya akan memunculkan kebimbangan, bahkan tersebar kabar hoax tentang vaksin tersebut.

Dari sinilah, penting kiranya kita bersama-sama mensosialisasikan kebenaran vaksin penangkal virus covid-19 dengan sebenar-benarnya. Sehingga kita bisa menjaga masyarakat Indonesia agar terhindar dari kepungan provokasi dan hoax. Gunakan jari jemari dengan sebaik mungkin dalam memberikan kabar berita, serta jadikan nalar berpikir positif menjadi jalan utama dalam membingkai kebersamaan. Sehingga akan mampu melahirkan sebuah pemahaman yang menyenangkan dan tidak akan ada ketakutan lagi dalam memahami vaksin penangkal virus covid-19 tersebut. 

Facebook Comments