Telat Zaman dan Krisis Kebudayaan

Telat Zaman dan Krisis Kebudayaan

- in Kebangsaan
442
0
Telat Zaman dan Krisis Kebudayaan

Bangsa Nusantara mewarisi bermacam cara untuk mendewasakan diri mereka. Kedewasaan diri memang sebentuk ukuran yang tak pernah sama. Dalam setiap kebudayaan tentu memiliki ukuran masing-masing menyangkut kedewasaan diri seseorang.

Ada satu istilah di Jawa yang disebut sebagai perilaku “sor pageran” atau “ngisor pager” yang melukiskan karakter orang yang tak pernah mengenal bangku pendidikan: kasar, goblok, songong, penggunaan otot lebih dominan dibanding otak, dan tentu saja kekerasan dianggap sebagai satu-satunya cara yang paling cerdas untuk menyelesaikan persoalan

Tentu pendidikan di sini tak berarti pendidikan formal seperti sekolah. Sebab, dalam setiap masyarakat tradisional, apalagi yang dikenal sebagai masyarakat adat, yang nyaris tak mengenal bangku pendidikan formal seperti halnya sekolah, budi pekerti begitu dijunjung tinggi.

Taruhlah juga dalam kebanyakan kalangan penghayat kepercayaan yang berbasiskan budaya Jawa. Budi pekerti adalah yang menjadi titik awal sekaligus titik akhir para penganutnya ketika menjalani rutinitasnya sebagai kalangan penghayat.

Dalam kebudayaan Jawa, budi pekerti adalah sebuah sarana dalam membangun karakter diri. Seperti halnya dalam estetika Jawa tradisional dimana semua corak keseniannya yang mulai dari seni musik (karawitan), seni tari, dan seni rupa, beranjak dari bentuk yang “kasar” menuju bentuk yang semakin “halus.” Bahkan pada puncaknya, semakin minimalis bentuk, atribut, variasi, dan gerak, maka semakin tinggi pula nilai sebuah karya seni itu. Bukankah dalam pewayangan Jawa ksatria utama penurun benih raja kerap dilambangkan berbudi halus, anteng atau tak banyak tingkah, dan terkesan meditatif (dengan lambang muka luruh, mata tak membelalak)?

Namun tentu saja kehalusan budi yang tak mencerminkan kekerasan atau kekasaran ini tak sekedar menyangkut aspek lahiriah belaka. Ia lebih menyangkut pada aspek substansialnya sebagaimana Bima Sena yang terkesan kasar yang ternyata hanya menyembah dan berbahasa halus pada Dewa Ruci dalam kedalaman batinnya, sebentuk pertemuan dengan dewa yang tak pernah dialami oleh Yudhistira ataupun Arjuna yang secara lahiriah berperangai halus.

Dengan demikian, karakter orang-orang Nusantara yang konon berbudi luhur dan antikekerasan, adalah sebuah idealitas kebudayaan untuk membangun sebentuk peradaban (Rat). Dan idealitas kebudayam semacam inilah yang dihari ini tergerus sehingga kekasaran dan kekerasan seakan menjadi trendsetting dimana orang yang tak melakoninya akan dianggap utun dan kuno.

Maka, letak permasalahan karakter diri yang dianggap “cacat” (ngocokan atau intoleran) di hari ini, dengan maraknya kasus-kasus kekerasan di ruang-ruang publik, bukan terletak pada aksi-aksi kekerasan itu sendiri. Namun, permasalahan itu terletak pada idealitas kebudayaan sebagaimana yang saya ungkapkan dimuka yang sudah pudar dan bahkan hilang. Bukankah lazim di hari ini permasalahan akhlaq, adab ataupun budi pekerti menjadi bahan ejekan dan guyonan karena dianggap menyuburkan kerendahan diri?

Bagaimana pun orang di hari ini menolak perilaku-perilaku kekerasan dan intoleran, selama apa yang saya sebut sebagai idealitas kebudayaan di muka tak lagi menjadi idealitas, maka itu semua hanya berujung sia-sia. Maka, di hari ini sebenarnya orang tak lagi mengalami sebentuk krisis moral yang kemudian menuntut kembalinya nilai-nilai tradisional atau idealitas kebudayaan dalam rangka mengatasi itu semua. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah krisis idealitas kebudayaan atau krisis nilai-nilai itu dimana, seumpamanya, ketika orang tak melakoni sebentuk imoralitas dalam kacamata nilai-nilai tradisional, maka ia akan dianggap telat zaman.

Facebook Comments