The Shallows: Orang-Orang Dangkal dalam Belajar Agama

The Shallows: Orang-Orang Dangkal dalam Belajar Agama

- in Suara Kita
779
0

Neil Postman, dalam bukunya yang berjudul Amusing Yourself to Death menuliskan kekhawatirannya akan generasi yang tak tahan kesusah payahan belajar dan mencari ilmu akibat terpaan teknologi audio-visual.

Di era digital, kita merasakan kemudahan mengakses informasi. Dalam waktu yang cepat kita dapat memperoleh bahan informasi yang diinginkan. Mencari literatur cukup mengetik keyword sesuai tema yang diinginkan tanpa harus membaca dan membuka halaman demi halaman seperti saat mencarinya di buku. Pada akhirnya kemudahan ini membuat kita terbiasa dan merasa nyaman.

Kondisi seperti diatas, dalam jangka waktu yang lama bisa jadi akan menurunkan minat baca kita. Kebiasaan membaca artikel ringkas yang disajikan di halaman website akan membuat kita bosan ketika membaca dibuku. Hal yang lain adalah artikel ringkas yang disajikan dalam website tidak semuanya dibahas secara utuh dan mendalam, terlebih lagi tidak disertai data yang akurat. Yang terjadi adalah kita memahami tema tertentu dengan pengetahuan yang sempit dan dangkal. Dan akhirnya lahirlah apa yang disebut Nicholas G Carr “the shallows” yang artinya orang-orang dangkal.

Apa yang diistilahkan Nicholas, jauh sebelumnya telah diungkapkan salah satu filosof islam, Ibn Rusyd. Dalam kitab Bidayatul Mujtahid, Ia menyebutkan bahwa umat manusia ada tiga golongan yaitu umum (‘am), khusus (khas), dan khususnya khusus (khawas al-khawas). Jika kita mencermati golongan yang umum (‘am) itulah yang sama dengan the shallows.

Fenomena The Shallows sudah banyak menjamur saat sekarang ini, salah satunya dapat kita jumpai dengan banyaknya orang-orang yang mempelajari agama, khususnya agama islam. Belajar islam hanya dari modal membaca artikel-artikel di internet. Atau belajar islam lewat pesantren kilat selama seminggu. Pada akhirnya agama tidak dipahami secara menyeluruh dan mendalam karena memang yang dibaca hanyalah sebagian saja dari satu kesatuan yang utuh dari ajaran agama.

Berbahayakah cara mempelajari agama dengan cara instan seperti itu?

Tentu saja cara belajar islam dengan hanya bermodalkan artikel diinternet sangat berbahaya.

Pertama, ketika mempelajari agama hanya melalui artikel di internet sangat berpotensi untuk melahirkan orang-orang yang fanatik. Orang-orang ini merasa pendapat yang dibaca paling benar dan menganggap pendapat orang lain salah semua. Ada monopoli kebenaran yang mereka lakukan, dengan monopili itu mereka bebas mencap orang lain sesat atau kafir.

Kedua, sumber informasi dari artikel di internet tidak bisa dijamin 100% kevalidan nya. Bisa saja orang-orang yang menulis artikel tersebut sangat terbatas pengetahuannya terhadap agama sehingga ayat dan hadits yang dikutip ditafsirkan salah. Misalnya saja tafsir tentang jihad, jika ditafsirkan salah dan serampangan akan berakibat munculnya aksi teror atasnama jihad.

Dalam islam dikenal istila tallaqi, merupakan salah satu adab menuntut ilmu agama dengan berguru langsung kepada ulama yang memiliki pengetahuan agama yang baik. Imam Malik sampai melakukan perjalanan yang jauh, berjalan kaki hanya untuk menemui satu orang perawi hadist demi untuk memastikan apakah hadist tersebut shahih. Jika Imam Malik melakukan hal yang demikian, maka sangat wajar jika kita juga melakukan hal yang sama.

Facebook Comments