Transformasi Agama di Tangan Pemuda: Mengintip Nasib Agama Islam di Tahun 2070

Transformasi Agama di Tangan Pemuda: Mengintip Nasib Agama Islam di Tahun 2070

- in Kebangsaan
442
0
Transformasi Agama di Tangan Pemuda: Mengintip Nasib Agama Islam di Tahun 2070

Pertanyaan ini tampak retoris. Namun melihat bagaimana dinamika agama dan pergulatan di masa lalu, pertanyaan ini layak dipertimbangkan. Sejarah mencatat, bagaimana abad pencerahan Eropa (rennaissance) menghentikan laju hegemoni agama di Eropa dengan gagasan sekularisasi dan rasionalitasnya. Zaman yang terjadi di akhir abad ke-19 tersebut menandai “matinya” agama sebagai institusi yang mempunyai otoritas mengatur segala aspek kehidupan masyarakat di Eropa. Semua orang beralih menjadi modern dan rasional. Meskipun diskursus agama muncul kembali pada akhir abad ke-19 dengan gagasan “kematian nalar sekularisasi” oleh para sosiolog agama di tahun 1970-an, namun setidaknya manusia pernah merasakan bahwa agama pernah kehilangan marwahnya sehingga ditinggalkan oleh bangsa Eropa.

Kembali ke persoalan nasib agama di masa depan. Menurut Luthfi asy-Syaukani, ada dua variabel yang harus diklarifikasi secara konkret. Pertama adalah persoalan definisi “agama”. Agama mempunyai definisi yang sangat beragam. Agama apa yang dimaksud? Referensi apa yang diacu untuk merujuk term agama? Kedua adalah rentang “masa depan” yang dimaksud. Masa depan yang mana? Apakah 10 tahun ke depan? 50 tahun ke depan? Seribu tahun atau kapan?

Tulisan ini secara sederhana membincang Islam untuk merujuk agama yang dimaksud dalam pertanyaan di awal.Time frameyang dirujuk dalam tulisan ini mengacu pada penelitian yang dilakukan olehPew Research Center, sebuah lembaga riset yang memilikiconcernterhadap isu-isu agama di dunia. Dalam salah satu penelitiannya,Pewmemprediksi bahwa pada tahun 2050, populasi Kristen kurang lebih akan sama dengan populasi Muslim di Bumi. Berbeda dengan sekarang, populasi Kristen masih menjadi mayoritas di muka Bumi.

Maka pertanyaannya menjadi begini, bagaimana nasib Islam di masa depan? Apakah Islam masih relevan di tahun 2050? Pertanyaan tersebut sangat kompleks. Jawabannya mengandaikan penjelasan yang konkret sehingga tidak menjadi bumerang bagi Islam itu sendiri.

Ada satu karakteristik Bumi di masa depan yang sudah bisa dilihat sejak hari ini, teknologi. Sebuah fenomena yang belum pernah ada presedennya di semua sejarah kemunculan agama, termasuk Islam. Karena jika memang printer sudah hadir sejak zaman dulu, mungkin Utsman bin Affan akan memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk menggunakan printer untuk mencetak dan mengkodifikasi Al-Qur’an.

Gap antara tradisi Islam klasik dengan fenomena di era modern ini, oleh pihak-pihak tertentu, mulai dibenturkan atas dasarbid’ah, tidak islami, kebaratbaratan,tasyabuhdan semacamnya. Banyak tokoh agama, terutama di YouTube, memulai diskusi tentang hukum transaksi digital menggunakan Go Food dan Go Pay. Ada yang keras kepala mengatakan haram, ada pula yang menyediakan berbagai justifikasi bahwa segala bentuk transaksi digital dibolehkan dalam Islam.

Ada lagi berbagai diskusi yang berbicara tentang hukume-Money, emas digital,paylater,cashback, hingga bentuk riba di zaman modern. Pro kontra terhadap digitalisasi dalam Islam memang cukup marak akhir-akhir ini. Belum lagi masalah nft (non-fungible token) danmetaverseyang juga pernah dibicarakan secara intens. Di satu sisi, orang bisa sangat tekstual dengan mengharamkan segala bentuk produk-produk modern. Di sisi lain, tidak sedikit Muslim kontekstual yang menganalisisnya dengan perspektif beragam dan lebih lunak terhadap gagasan digitalisasi.

Hubungan antara Islam dan teknologi tidak melulu skeptis. Ada juga yang harmonis. Misalnya Islam, sebagai agama dakwah, sangat tertolong dengan adanya media sosial untuk menyebarkan dakwah kebaikan kepada umat-umatnya, atau yang ngetren disebut “dakwah online”. Terlepas dari berbagai isu tentang medsos, Islam sampai hari ini masih memanfaatkan teknologi digital sebagai alat amplifikasi ajarannya.

Jangan-jangan, semua aktifitas dan produk digital yang kita temui dalam satu dekade terakhir ini merupakan langkah awal dari sebuah “kegilaan” teknologi di masa depan. Media sosial yang kita pikir merupakan sebuah produk mapan, ternyata hanya sebuah ‘uji klinis’ untuk menciptakan skenario yang lebih besar di masa depan.

Oleh karena itu, untuk melanggengkan fungsi dan relevansinya, Islam harus bersahabat dengan sains dan teknologi. Tanpa itu, Islam hanya akan dipandang sebagai agama yang kolot, ketinggalan zaman, dan konservatif. Dalam pengertian ini, Islam membutuhkan peran ulama-ulama progresif yang protagonis terhadap temuan-temuan sains. Bukan ustadz-ustadz radikal yang anti terhadap modernisme dan perkembangan zaman. Bersikap ramah terhadap digitalisasi merupakan satu dari sekian jawaban bagaimana jika Islam ingin tetap mapan dan relevan sebagai agama di masa depan.

Dengan demikian, generasi Millenial dan generasi-Z menjadi dua pihak yang paling diandalkan dalam upaya adaptasi agama di masa depan kelak. Mereka adalah generasi yang melek teknologi, dekat dengan modernitas, dan berpikir progresif. Berbekal pengetahuan agama yang cukup dan literasi digital yang memadai, generasi muda Indonesia sangat berperan merawat relevansi agama di 50 atau 100 tahun yang akan datang.

Sampai paragraf ini, pada akhirnya,time frametidaklah penting lagi. Kapanpun masa depan itu terjadi, selama umat beragama masih mengakomodasinya secara kontekstual dan bersikap ramah terhadap perubahan, maka Islam di masa depan bukanlah suatu hal yang perlu dikhawatirkan. Tentu batasannya jelas. Diskusi ini tidak menyentuh pada aspek transendental yang sakral dan personal, namun bagaimana cara umat Islam berkomunikasi dengan zaman baru, membangun relasi dengan media baru, dan memulai berpikir untuk menyelesaikan isu-isu modern yang mungkin jauh lebih kompleks.

Facebook Comments