Adakah Etika dalam Mengkritik? Islam Menjawabnya

Adakah Etika dalam Mengkritik? Islam Menjawabnya

- in Keagamaan
459
0
Adakah Etika dalam Mengkritik? Islam Menjawabnya

Apa salah mengkritik pemimpin seperti presiden? Di alam demokrasi kritik sangat diperlukan, serta merupakan bagian dari demokrasi sebagai suatu sistem yang memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk berpendapat ataupun melakukan kritik.

Jangan pernah menjadi pemimpin, jika alergi dengan kritik. Justru pemimpin dan pejabat diangkat untuk melayani masyarakat. Konsekuensinya, ia harus siap menerima masukan dan kritik yang disampaikan. Persoalannya adalah bagaimana menyampaikannya?

Bukankah wajar mengkritik dan memberi masukan dengan cara apapun? Bukankah mengkritik harus dengan keras dan pedas dan kalau boleh mencacinya? Bukan mengkritik pekerjaan mulia sehingga harus dilakukan dengan cara apapun, termasuk menghina?

Mari kita luruskan pandangan kita. Kritik memang boleh, menghina adalah persoalan lain. Adakah suatu kesalahan ketika seseorang menghina pemimpin? Menghina tidak sama dengan mengkritik. Keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas.

Dalam KBBI kritik bermakna kecaman atau tanggapan yang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat dan sebagainya. Sedangkan menghina memiliki definisi merendahkan, memandang rendah, hina dan tidak penting. Juga memiliki arti memburukkan nama baik orang lain, atau menyinggung perasaan orang seperti memaki dan menistakan.

Dengan demikian, mengkritik berbeda makna dengan menghina. Penghinaan merupakan perbuatan tercela. Agama dan norma di masyarakat tidak satupun dari keduanya yang mengatakan bahwa menghina itu sebagai suatu kewajaran, melainkan larangan. Dengan demikian, sekalipun dalam alam demokrasi penghinaan bukan bagian dari kebebasan yang direstui dalam demokrasi.

Islam menghargai kritik. Konon Umar ketika dilantik sebagai pemimpin pidato pertama kali yang disampaikan adalah meminta nasehat dan kritik atas amanat dan tugasnya. Jelas, Islam menghargai kritik. Tapi, Islam juga tegas memiliki pedoman dalam mengkritik terhadap pemimpin.

Mengkritik Pemimpin dalam Sejarah Islam

Khalifah Harun ar Rasyid pernah mendapat kritik tajam nan pedas. Seorang ulama bernama Ali bin Abdullah al Umati ash Shan’ani, seraya berkata “Wahai Amirul Mukminin, saya akan mengatakan sesuatu yang pedas kepadamu, semoga engkau diberikan kekuatan oleh Allah untuk menerimanua’.

Khalifah sama sekali tidak keberatan. Mempersilahkan ulama tersebut melakukan kritik setajam dan sepedas apa pun. Namun sebelum ulama tadi melakukannya, Khalifah lebih dulu membaca firman Allah: “Katakanlah oleh kalian berdua (Nabi Musa dan Harun) kepadanya (Fir’aun) dengan perkataan yang lemah lembut”. (QS. Thaha: 44).

Beliau menyampaikan: “Demi Allah, Allah telah mengutus seseorang yang lebih baik dari dirimu kepada seseorang yang lebih buruk dari pada diriku”.

Kisah ini, salah satunya termaktub dalam Mir’ah al Jinan wa ‘Ibrah al Yaqzhan karya Abdullah bin As’ad bin Ali al Yaqifi. Kemudian dikisahkan ulang oleh Abu Sa’id al Ashma’i. Kisah ini sangat populer di kalangan umat Islam.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, ada beberapa pelajaran penting dari ayat di atas. Fir’aun adalah tipikal seorang pemimpin yang sangat sombong dan membangkang, sedangkan Nabi Musa adalah manusia pilihan. Namun demikian, Allah masih memerintahkan kepada Nabi Musa untuk bersikap ramah dan lemah lembut dalam menyampaikan risalah yang diembannya, termasuk kepada Fir’aun.

Masih dalam kitab yang sama, al Yaqifi juga menulis kisah serupa, yaitu ketika seorang ulama Muhammad bin Ismail al Hadhrami. Ia mengirim tulisan yang berisi kritik dan cacian terhadap pemimpin Yaman, Malik al Muzhaffar Yusuf bin Umar. Malik menyampaikan persis dengan apa yang disampaikan Khalifah Harus ar Rasyid.

Saling menasihati, mengkritik atau mengingatkan merupakan anjuran dalam agama Islam untuk memperoleh suatu hasil yang lebih baik. Sebagaimana firman Allah berikut ini.

Anjuran dan Etika Mengkritik dalam Islam

“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran: 104).

Dengan demikian, al Qur’an mengajarkan kepada umat Islam supaya di antara mereka ada yang menyuarakan kebajikan. Dalam konteks kehidupan bernegara dengan sistem demokrasi bentuk seruan tersebut bisa berupa masukan, saran dan kritik.

Nabi juga mengingatkan: “Sungguh agama (Islam) itu adalah nasihat. Maka (Nabi) ditanya (oleh sahabat), untuk siapa, wahai Rasulullah? Untuk Allah, kirab-Nya, utusan-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan umat Islam seluruhnya”. (HR. Muslim).

Ayat dan hadits ini menjadi penegasan, bahwa kritik merupakan anjuran agama dan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Namun perlu diingat, pada hakikatnya kritik adalah memberikan nasihat atau komentar setelah melakukan pertimbangan, penilaian dan observasi.

Bagaimana cara terbaik menasihati atau mengkritik pemimpin sesuai dengan teladan Rasulullah?

Beliau bersabda: “Barang siapa ingin menasihati pemerintah, janganlah disampaikan terang-terangan. Tapi, pegang tangannya, bawa ke tempat sepi (kemudian sampaikan nasihat). Jika nasihatnya diterima maka bagus. Jika ditolak, ia telah menyampaikan kepada pemerintah sesuatu yang tidak baik baginya”. (HR. Ahmad).

Pada intinya, kritik maupun nasihat terhadap pemimpin atau pemerintah merupakan keharusan untuk suatu capaian yang lebih baik. Namun harus disampaikan dengan mengedepankan etika dan akhlak mulia. Serta disampaikan dengan cara yang tidak menciderai prinsip kemanusiaan, seperti mencaci, menghina dan merendahkan.

Facebook Comments