Mengajarkan Budaya Kritik, Bukan Budaya Kebencian : Perkaya Gagasan, Bukan Cacian

Mengajarkan Budaya Kritik, Bukan Budaya Kebencian : Perkaya Gagasan, Bukan Cacian

- in Narasi
406
0
Mengajarkan Budaya Kritik, Bukan Budaya Kebencian : Perkaya Gagasan, Bukan Cacian

“Pikirkan dampak dari kata-kata Anda sebelum menyampaikan kritik. Setiap kata memiliki konsekuensi.” – John Stuart Mill

Berbahagialah hidup di dalam negeri yang demokratis. Semua orang dengan latar belakang kelompok sosial, budaya, profesi dan lainnya memiliki hak sama dalam menyampaikan aspirasi. Kritik adalah sebuah jalan demokrasi yang berkontribusi pada sehatnya pemerintahan yang baik.

Ada juga kelompok yang sering gembar-gembor menolak demokrasi, tetapi sering berlindung atas nama demokrasi. Menghujat demokrasi adalah haram, tetapi saat ada masalah mengandalkan prinsip demokrasi. Ada juga yang membuat kesalahan, bahkan menghina keyakinan orang lain atas nama kebebasan berekspresi. Tapi tinggalkan dulu pembahasan itu, kita fokus ke demokrasi dan kritik.

Dengan kritik, rakyat mampu membangun fungsi kontrol, menjaga keterbukaan, dan mendorong partisipasi publik dalam rangka peningkatan kebijakan. Keseimbangan kekuasaan harus terus dijalankan agar pemerintahan berjalan secara sehat, tidak dimonopoli negara. Intinya, kritik adalah fondasi demokrasi sebuah negara yang kuat.

Kritik salah satunya penting membangun kesadaran politik, mengajarkan pendidikan politik dan membangun budaya tukar pikiran yang sehat dalam masyarakat agar tercipta partisipasi publik yang sehat. Tujuan kritik bukan sekedar merubah dan meningkatkan kebijakan, tetapi membangun budaya pendidikan dan partisipasi politik masyarakat.

Sebagai sebuah media Pendidikan politik, masyarakat juga harus diajarkan tentang etika kritik. Masyarakat didorong untuk dewasa dalam menyampaikan kritik dan terbuka dengan ide-ide baru dalam politik. Kritik dengan demikian merupakan media edukasi politik untuk mendorong partisipasi sipil dalam merumuskan kebijakan.

Karena itulah, kritik adalah proses membudayakan kesadaran melalui penanaman prinsip-prinsip etika demokrasi yang kuat. Karena itulah, dalam etika kritik hal yang perlu ditegaskan adalah :

Pertama, kritik harus berdasarkan bukti, bukan nyinyir

Kritik pertama-pertama dan paling utama harus berdasarkan fakta, bukan asumsi dan bukan rekayasa, apalagi hoaks. Bukan sekedar tidak suka lalu bersuara lantang. Bukan semua harus dikomentari ketika tidak ada fakta dan bukti yang kuat.

Di sinilah penting membedakan obrolan warung kopi yang berisi asumsi, dengan cara para akademisi. Di sini pula bedanya, gosip di warung nasi yang penuh dengan provokasi, dengan cara intelektual. Ya, sekali lagi berdasarkan fakta!

Kedua, perkaya ide dengan menyerang kebijakan, bukan pribadi

Di sinilah terkadang kita susah melerai antara niat mulia dan kebencian. Tipis sekali antara sekedar mencari popularitas dengan ingin membangun Pendidikan politik berkualitas. Orang terkadang harus tergopoh-gopoh emosional dengan melancarkan kritik kepada pribadi.

Deborah Tannen pernah mengingatkan : serang ide, bukan individu. Kritik haruslah bertumpu pada argument dan ide, bukan mengenai karakter seseorang. Cerdas dan elegan, begitulah harus kritik dilancarkan. Bukan cetar membahana, yang terkadang membahayakan diri dan orang lain.

Ketiga, perbaiki niat, kritik untuk membangun bukan membuat gaduh

Esensi kritik sebenarnya untuk mengoreksi, memperbaiki, dan meningkatkan sebuah kebijakan. Kritik bukan ingin menghancurkan, apalagi merusak reputasi pribadi orang. Karena itulah, Goleman mengatakan : tujuan sejati kritik adalah untuk membantu meningkatkan dan memperbaiki sesuatu, bukan untuk menghancurkan atau mencela.

Di sinilah penting kecerdasan intelektual harus berjalan seimbang dengan kecerdasan emosional. Kecerdasan intelektual saja tidak cukup, jika tidak memiliki emosi empati. Yang ada hanya cacian dan makian yang seolah memandang rendah yang lain.

Keempat, gunakan kata-kata yang sopan, paling tidak akademislah

Karena berdasarkan bukti, berlandaskan konsep, dan niat membangun, kritik seharusnya akan muncul dari mulut kita sebagai suatu yang bijaksana untuk sebuah kebijakan. Bahasa kritik akan meluncur dan menembus hati para pemimpin dengan menggunakan bahasa yang baik, atau setidaknya istilah ilmiah yang dapat memberikan pendidikan politik bagi masyarakat.

Terakhir, jangan suka ngeles atau defensiveness

Karena kita ingin tampil sebagai seorang yang demokrat, mengajarkan masyarakat dengan budaya kritik yang baik, maka sebaikanya kita harus siap menerima kritik dan selalu rendah hati. Ingat jangan rendah diri, tapi rendah hati.

Kita jangan terlalu banyak ngeles atau defensif jika apa yang kita katakana dan lakukan salah. Mengakui kesalahan itu penting agar mendidik masyarakat menerima pandangan yang berbeda. Dengan kritik bukan sekedar mengajarkan orang lain untuk berubah, tetapi mengajarkan diri kita membuka diri untuk perbaikan.

Kritik menjamin demokrasi yang sehat dan etika kritik menjamin lingkungan demokrasi yang inklusif dan menghargai perbedaan pendapat. Berdebat adalah wajar, asal jangan suka menghujat. Diskusi itu penting membangun jalan yang konstruktif, bukan provokatif.

Rasanya, kita punya PR besar membangun budaya kritik yang mencerdaskan. Jangan kotori kritik kita dengan menanamkan budaya kebencian kepada masyarakat. Hakikat demokrasi adalah partisipasi dan saling menghargai, bukan provokasi dan saling menyakiti.

Warisan ide apa yang kita berikan pada generasi berikutnya, apa sekedar warisan pernah mencaci orang lain atas nama kritik? Ternyata yang akan diingat dan lekang adalah cacian itu. Mungkin masyarakat belum dewasa menangkap itu, tetapi kewarasan kita diuji oleh bahasa kita sendiri.

Facebook Comments