Agama Untuk Para Pemula

Agama Untuk Para Pemula

- in Wacana
5397
1

Suatu ketika, seorang tetangga mengajukan sebuah pertanyaan kepada saya, “Apa pelajaran agama pertama yang penting saya berikan untuk anak saya, pak?” Sang bapak sepertinya sedang gelisah karena anaknya kini sudah mulai beranjak baligh. Ia merasa mendidik anak adalah kewajiban setiap orang tua, terutama karena ia ingin membekali anak-anaknya dengan ilmu agama yang cukup. Karena pada saat anak sudah memasuki masa baligh, maka seluruh pahala dan dosa yang mereka lakukan akan menjadi tanggungan mereka sendiri.

Saya tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba mengajaknya berdialog dengan melontarkan pertanyaan pancingan, “Apakah menurut bapak pelajaran agama yang ada di masjid, mushalla dan madrasah yang sekarang ada belum cukup baik?” Sang bapak diam sejenak, lalu dengan hati-hati ia menjawab, “Saya bahkan tidak tahu yang mana kurikulum yang baik dan mana yang kurang baik, saya hanya khawatir kalau anak saya tidak paham agama atau justru merasa paling paham agama.” Saya tersenyum mendengar jawaban jujur tersebut, sepertinya saya sudah mulai mengerti kenapa bapak ini khawatir.

Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi setiap manusia, karena ia adalah sebaik-baik bekal yang akan menuntun manusia untuk mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Khusus bagi anak-anak, hal lain yang juga tidak kalah penting dari pendidikan adalah kasih sayang. Karenanya mendapat pendidikan yang disertai dengan kasih sayang adalah sebuah kemewahan bagi siapapun.

Mari kita kembali pada cerita si bapak muda di atas. Si bapak merasa perlu memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Pertanyaannya adalah, pelajaran atau bab apa yang seharusnya diberikan terlebih dahulu? mengingat materi tentang agama ada terlalu banyak, sementara untuk mempelajari semuanya dibutuhkan waktu belajar yang cukup lama.

Saat ini memang kerap ditemukan kekhawatiran pada orang tua tentang pendidikan agama yang baik bagi anak-anak mereka, terutama paska merebaknya kabar tentang berbagai kelompok ekstrimis yang menjinjing nama agama. Tidak jarang pula kita menyaksikan beragam aksi kekerasan yang dilakukan oleh segelintir orang yang mengaku paham agama.

Hal ini tentu membuat para orang tua gundah. Di satu sisi mereka menyadari pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak mereka, namun di sisi lain mereka juga khawatir jika anak-anak mereka malah mendapat pendidikan agama yang melenceng dari semangat perdamaian dan persaudaraan. Akibatnya anak-anak mereka hanya akan mengenal agama dalam kacamata hitam-putih, dosa-pahala, kafir-bukan kafir, dan seterusnya.

Kegundahan dan dilema yang dihadapi orang tua dalam memberikan pendidikan agama terhadap anak-anak mereka akhirnya mengerucut pada sebuah pertanyaan pokok, yaitu bagaimana seharusnya agama diajarkan kepada anak-anak? Apakah anak-anak harus diajarkan tentang ancaman siksa neraka terlebih dahulu? Atau anak-anak diperkenalkan kepada sifat Tuhan yang maha penyayang lagi pengasih?

Sebagai sebuah pengetahuan yang memiliki cakupan sangat luas, pendidikan agama bukan lagi tentang ‘apa’ yang diajarkan, tetapi lebih dari itu, ‘bagaimana’ cara mengajarkan agama (terutama kepada anak-anak) yang dapat membuat anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang memiliki kesalehan intelektual dan sosial.

About the author

Imam Malik
Adalah seorang akademisi dan aktifis untuk isu perdamaian dan dialog antara iman. ia mulai aktif melakukan kampanye perdamaian sejak tahun 2003, ketika ia masih menjadi mahasiswa di Center for Religious and Sross-cultural Studies, UGM. Ia juga pernah menjadi koordinator untuk south east Asia Youth Coordination di Thailand pada 2006 untuk isu new media and youth. ia sempat pula menjadi manajer untuk program perdamaian dan tekhnologi di Wahid Institute, Jakarta. saat ini ia adalah direktur untuk center for religious studies and nationalism di Surya University. ia melakukan penelitian dan kerjasama untuk menangkal terorisme bersama dengan BNPT.

Related Posts

Facebook Comments