Amankah Sekolah Kita dari Radikalisme?

Amankah Sekolah Kita dari Radikalisme?

- in Keindonesiaan
5347
0

Besok tepatnya tanggal 08 Maret 2016, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Dasar Menangah dan Kebudayaan akan menggelar “Dialog Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Guru dan Pelajar Se-Jawa Barat”. Kenapa sekolah menjadi salah satu tempat mitra strategis kegiatan tersebut?

Dapatkah anda menjamin sekolah anak anda terbebas dari pengajaran yang bermuatan radikalisme, kekerasan, dan penanaman kebencian? Tentu saja kita tidak bisa memastikan. Kita sepenuhnya mempercayakan perkembangan anak kita kepada institusi sekolah. Apakah anda termasuk dari beberapa orang tua yang mendapati anak anda mengalami perubahan secara sikap dan kepribadian? Anak anda lambat laun mulai sering membantah, menyalahkan situasi atau bahkan sudah tidak menghormati anda sebagai orang tua. Jika demikian yang anda alami boleh jadi anak kita sudah termakan virus radikalisme di lingkungan sekolah.

Ternyata institusi sekolah yang kita harapkan sebagai wahana mencerdaskan anak bangsa tidak sepenuhnya sepi dari pengaruh ajaran kebencian, kekerasan dan radikalisme. Survey yang sering dirujuk untuk mengukur potensi radikalisasi di sekolah misalnya Hasil Survey Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) tahun 2011 dengan responden guru PAI dan siswa SMP Sejadebotabek. Survey tersebut memang mengejutkan karena potensi radikal sangat kuat di kalangan guru dan pelajar dengan indikasi resistensi yang lemah terhadap kekerasan atas nama agama, intoleransi, sikap ekslusif serta keraguan terhadap ideologi Pancasila.

Survey yang sudah lama ini ternyata masih cukup relevan untuk memotret potensi radikalisme di lingkungan sekolah hingga hari ini. Awal tahun 2016, tepatnya Januari, kita dikejutkan dengan pemberitaan seorang guru di Situbondo, Jawa Timur, yang melarang peserta didiknya untuk menghormati bendera dan menghormati orang tua. Di Surakarta secara institusional dengan terang-terangan menegaskan melarang peserta didiknya menyanyikan lagu kebangsaan dan menghormati bendera karena dianggap sebagai syirik.

Penelitian yang lebih mengejutkan dilansir oleh Setara Institute tahun 2015 yang mengambil 114 Sekolah Menengah Umum (SMU) di Jakarta dan Bandung, ketika ditanya mengenai ISIS 75,3% mereka menjawab tahu tentang ISIS, sebanyak 36,2 responden mengatakan ISIS sebagai kelompok teror yang sadis, 30,2% responden menilai pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama, dan 16,9% menyatakan ISIS adalah pejuang-pejuang yang hendak mendirikan agama Islam.

Sudah amankah sekolah anak kita? Sekolah merupakan lingkungan sosial yang dari berbagai sektor mudah sekali disusupi ajaran radikal dan kekerasan. Pengaruh dari pengetahuan guru keagamaan yang dangkal sangat berpengaruh terhadap pemahaman peserta didik. Unit-unit kajian keagamaan yang berkembang di sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler (dawrah, mabit, halawah, dll) juga tidak sepi dari infiltrasi karena minimnya kontrol dari pihak sekolah.

Akhir Februari kemaren, seorang pelajar asal Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu memberikan pengakuan mengejutkan. Ia kerap mengikuti kajian-kajian keagamaan bersama teman pelajarnya. Kajian ini diakuinya dilakukan di luar jam sekolah bahkan terjadi di ruang sekolah yang diselingi pemberian mata pelajaran agama. Ia merasa mulai ada kejanggalan terlebih ketika ada seruan jihad. Ia diberikan pelajaran agama yang membolehkan memunuh orang tua, apabila tidak sepaham dengan dirinya, termasuk seruan agar ikut melakukan aksi turun jalan dengan menggunakan gamis.

Pihak sekolah bahkan dinas pendidikan pun kadang kecolongan dengan peredaran buku-buku rujukan keagamaan di sekolah. Maret 2015, di Jawa Timur sempat digemparkan dengan peredaran buku pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang bermuatan paham radikal menyerupai ajaran kelompok ISIS. Atau kejadian yang lebih mengejutkan GP Anshor Depok menemukan buku ajar yang diberikan pada tingkat pendidikan usia dini yang mengajarkan pada ajaran kekerasan.

Tidak diragukan lagi, kelompok radikal lambat laun tetapi sistimatis ingin mencetak kader-kader secara gratis dengan memanfaatkan institusi sekolah. Kejadian ini harus menjadi warning dan cambuk bagi kita bersama. Fakta-fakta di atas sungguh sangat meresahkan. Anak didik yang masih polos dengan harapan tinggi mendapatkan pelajaran yang mencerahkan justru mendapatkan pembodohan dan pendangkalan pengetahuan. Pemerintah dalam hal ini dinas pendidiakn harus lebih memperketat kontrol baik pada fase rekrutmen guru, subtansi buku ajar hingga aktifitas kurikuler di lingkungan sekolah.

Tidak kalah pentingnya, orang tua merupakan partner penting bagi anak. Jangan biarkan anak tumbuh berkembang tanpa sepengetahuan orang tua. Lembaga pendidikan hanyalah bagian kecil dari pembentukan pengetahuan dan karakter anak. Selebihnya, orang tua melalui pendidikan di rumah merupakan pondasi dasar bagi pembentukan pengetahuan dan karakter diri anak.

Jangan korbankan masa depan mereka. Jangan biarkan kelompok-kelompok yang tidak bertanggungjawab merusak generasi muda bangsa. Mari bersama kontrol sekolah kita. Bersama cegah terorisme.

Facebook Comments