Bagaimana Kaum Muda Berkontribusi pada Agenda Rekonsiliasi Pasca-Pilpres?

Bagaimana Kaum Muda Berkontribusi pada Agenda Rekonsiliasi Pasca-Pilpres?

- in Narasi
17
0
Bagaimana Kaum Muda Berkontribusi pada Agenda Rekonsiliasi Pasca-Pilpres?

Pemilihan Umum sekaligus Pemilihan Presiden 2024 berhasil dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada 14 Februari kemarin. Terlihat antusiasme publik dalam memberikan hak suaranya. Para perantau sengaja pulang ke kampung halaman untuk mencoblos. Tempat Pemungutan Suara ramai sejak pagi hingga siang. Semua merasakan euforia Pemilu dan Pilpres.

Hasil perhitungan cepat (quick count) sejumlah lembaga telah keluar. Dan kemungkinan besar Pilpres hanya akan berjalan satu putaran dengan pasangan calon nomor urut dua, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai pemenangnya dengan perolehan suara di sekitar 53-58 persen.

Tentu, hasil ini tidak akan menyenangkan semua kalangan. Namun, bagaimana pun juga dalam kontestasi kalah dan menang adalah sebuah keniscayaan. Setiap pihak yang ikut berkontestasi dalam politik praktis tentu harus siap menang dan siap kalah.

Di dalam demokrasi, kandidat yang menang tidak berarti mendapatkan kekuasaan yang absolut. Demikian juga, pihak yang kalah juga tidak lantas kehilangan perannya dalam pemerintahan. Desain demokrasi adalah memberikan kewenangan untuk menjalankan pemerintahan bagi pihak yang memenangkan kontestasi elektoral. Sedangkan pihak yang kalah, berperan sebagai pengawas yang memastikan pemerintahan berjalan sesuai konstitusi. Itulah hakikat demokrasi.

Pentingnya Rekonsilasi Pasca-Pilpres

Tugas kita sebagai bangsa saat ini adalah menata ulang relasi sosial- kemasyarakatan kita yang sempat renggang oleh kontestasi elektoral yang sengit. Harus diakui, Pilpres tahun ini menyisakan sejumlah residu persoalan di masyarakat.

Meski fenomena polarisasi tidak sekencang pada Pilpres 2019 lalu, namun tidak bisa dipungkiri bahwa retakan sosial di masyarakat akibat perbedaan pilihan politik itu tetap ada. Situasi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut.

Situasi sosial-masyarakat yang diliputi ketegangan pasca Pilpres rawan dimanfaatkan kelompok radikal untuk memantik konflik yang lebih besar. Di titik inilah, pentingnya kita menggalang agenda rekonsiliasi nasional/kebangsaan sebagai mitigasi potensi konflik pasca-Pilpres.

Dan, salah satu kelompok yang harus berkontribusi positif terhadap agenda rekonsiliasi nasional ini adalah kaum muda. Tersebab, kaum muda terutama milenial dan gen Z adalah kelompok digital native yang akrab dengan internet dan media sosial.

Sementara kita tahu, media sosial adalah sarana paling efektif untuk menebar pesan-pesan persaudaraan. Lantas, apa yang sekiranya bisa dilakukan kaum muda untuk mewujudkan agenda rekonsiliasi nasional?

Langkah pertama adalah membanjiri media sosial dengan narasi menerima hasil Pemilu dan Pilpres dengan nuansa yang positif. Dalam artian, para pendukung capres yang memang kiranya bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan sikap jemawa apalagi arogan atas kemenangan mereka.

Di sisi lain, para pendukung capres yang kalah tidak ada salahnya untuk mengakui kekalahannya secara terhormat dan mengucapkan selamat kepada kubu pemenang. Nuansa positif ini perlu diamplifikasi di media sosial untuk meredam gelombang narasi provokatif yang mulai diembuskan sejumlah pihak.

Membangun Narasi Perdamaian di Medsos

Langkah kedua adalah memperbanyak narasi perdamaian dan rekonsilasi di media sosial. Di titik ini, semua pihak seharusnya mampu melupakan semua dendam dan kebencian yang mungkin sempat muncul di masa-masa kampanye yang memang sengit.

Rekonsilasi kebangsaan akan terwujud manakala semua pihak yang pernah terlibat dalam kontestasi mampu membuka diri untuk saling memaafkan. Semua pihak harus membangun kesadaran bahwa Pemilu dan Pilpres sudah berlalu. Saatnya kita menatap ke depan dengan merajut kembali ikatan kebangsaan yang sempat terkoyak.

Langkah terakhir, menyudahi segala persebaran politik elektoral terkait Pemilu dan Pilpres. Seluruh tahapan pesta demokrasi sudah terlaksana sampai hari pencoblosan. Kita tinggal menunggu hasil akhir resmi yang diumumkan Komisi Pemilihan Umun.

Namun, ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada saat ini telah memungkinkan kita untuk mengetahui hasil perhitungan suara lebih awal. Dan, seperti kita tahu hasil hitung cepat menunjukkan Paslon nomor 02 memenangi Pilpres 2024. Hasil hitung cepat ini kiranya menjadi akhir dari perang opini di medsos tentang Pemilu dan Pilpres.

Arkian, masyarakat terutama pendukung masing-masing capres idealnya bisa saling mengormati dan menghargai hasil Pilpres dan Pemilu 2024. Mari kita tutup lembaran Pemilu dan Pilpres dan membuka lembaran baru; kehidupan bangsa dan negara ke depan.

Beragam agenda sekaligus tendangan menanti kita di depan mata. Agenda Indonesia Emas 2045 membutuhkan kerjasama dan sinergi antar instansi pemerintah dan segenap elemen bangsa. Mimpi Indonesia Emas 2045 hanya akan terwujud manakala seluruh kelompok masyarakat tidak menyimpan dendam dan kebencian yang dilatari pertarungan politik elektoral.

Facebook Comments