Bahaya Beragama secara Instan

Bahaya Beragama secara Instan

- in Suara Kita
988
0

Belakangan, ada kecenderungan pada kelompok anak muda untuk beragama secara instan. Maksud dari beragama secara instan adalah seseorang yang berusaha memahami agama secara cepat tanpa melalui proses pencarian, pendalaman, dan pengembaraan spiritual yang panjang dan rumit. Fenomena ini makin meningkat pesat karena turut ditopang oleh kecepatan pergerakan teknologi informasi. Kecanggihan gadget semakin memudahkan seseorang untuk mengakses beragam pengetahuan agama secara cepat. Hal ini kemudian menimbulkan dua dampak serius.

Pertama, siapapun bisa memberikan statemen terkait agama. Hal ini merupakan tuntutan masyarakat yang ingin jawaban cepat saat itu juga. Masyarakat enggan mengikuti proses pembelajaran agama yang panjang dan kadang menjemukan. Mereka ingin keingintahuannya terjawab segera. Maka munculah tokoh agama baru yang tidak memiliki reputasi keilmuan yang baik. Mereka hadir dengan pendapat seadanya, yang penting bisa memberi jawaban cepat. Bukti kongkret yang bisa diamati adalah menjamurnya situs-situs agama di dunia maya yang mengkaji agama dengan sangat sederhana dan kadang kurang tepat.

Hal yang membahayakan adalah ketika apa yang mereka sampaikan ternyata bertentangan dengan prinsip dasar agama itu sendiri. Atau informasi agama yang mereka sampaikan tidak sesuai dengan konteks kekinian. Akibatnya akan tercipta distorsi pemahaman agama di masyarakat. Dan jika pemahaman tersebut terus menyebar di masyarakat dan menjadi perilaku bersama, maka akan menurunkan esensi agama yang sebenarnya.

Parahnya, masyarakat pun kerap tidak kritis menerima informasi yang disampaikan. Contoh yang bisa dikemukakan adalah banyaknya situs internet yang membahas ganjaran bidadari surga bagi mereka yang terbunuh di jalan Allah. Secara langsung, orang diajarkan cara instan untuk mencapai surga. Tidak perlu bersusah payah bekerja dan berusaha menjalankan agama seutuhnya, silakan berperang di jalan Allah, dan kita dijamin masuk surga. Meskipun pemahaman tersebut tidak tepat, ternyata banyak juga pihak yang mengamininya. Akibatnya, secara perlahan makna sebenarnya dari jihad pun memudar dan tergantikan oleh penafsiran yang serampangan.

Kedua, persoalan agama dicoba diselesaikan secara cepat tetapi tidak tepat. Hal ini yang mengakibatkan munculnya fatwa-fatwa tokoh agama baru yang tampa melalui kajian yang panjang dan komprehensif. Pemimpin non muslim difatwa haram dan tidak boleh dipilih, kelompok minoritas dianggap sesat, mereka yang tidak sepaham dengan kelompoknya dicap bidah, dan sebagainya. Penafsiran terhadap teks agama dilakukan secara tergesa-gesa akibat budaya instan ini.

Misalnya dalam al-Baqarah ayat 191 disebutkan, “Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu ditempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir”. Bagi mereka yang tidak memiliki pemahaman agama yang mendalam dan komprehensif, ayat ini akan langsung ditafsirkan sebagai bolehnya membunuh orang-orang kafir.

Pemahaman yang hanya berdasarkan teks tersebut tentu sangat berbahaya karena bisa memicu konflik dan permusuhan antar sesama. Padahal ketika ingin menafsirkan sesuatu, kita dituntut untuk menguasai banyak ilmu bantu. Seperti ilmu lughat, ilmu bayaan, asbabun nuzul, fiqh, ushul fiqh, dan sebagainya. Keinginan untuk jawaban cepat akhirnya menegasikan beragam prasyarat tersebut hingga kesimpulan yang didapat pun keliru.

Untuk mengatasi hal ini, pihak yang perlu disadari terlebih dahulu adalah masyarakat. Kita wajib memahami bahwa beragama membutuhkan waktu panjang dan proses yang lama. Begitu juga ketika ingin mengetahui seluruh ajaran agama. Selain itu, dalam mencari referensi agama, carilah tokoh-tokoh agama yang memiliki tingkat keilmuan yang cukup sekaligus mempunyai kebijaksanaan. Sehingga kita akan dibimbing mengetahui agama dengan cara yang baik.

Jika merujuk pada ulama-ulama besar terdahulu, mereka senantiasa terus-menerus belajar agama agar mendapatkan pemahaman agama yang baik dan benar. Lihatlah bagaimana Imam Ghazali, Imam Hanafi, Imam Ahmad, dan imam lainnya yang serius menuntut ilmu. Artinya proses panjang mutlak diperlukan agar keberagamaan kita sesuai dengan hakekat agama tersebut

Agama Islam sendiri turun dalam jangka waktu puluhan tahun. Tidak langsung hadir dalam semalam. Hikmah dari sejarah turunnya Islam tersebut adalah kesabaran untuk mempelajari agama secara bertahap merupakan hal yang penting. Dengan memahami bahwa dalam beragama kita membutuhkan proses, maka akan muncul sikap kehati-hatian ketika memahami doktrin agama. Tidak lantas menelan begitu saja setiap pendapat yang hadir di hadapan kita.

 

Facebook Comments