Bahaya Namimah terhadap Kehidupan Sosial

Bahaya Namimah terhadap Kehidupan Sosial

- in Keagamaan
116
0

Suatu saat Imam Syafi’i didatangi seseorang yang menyampaikan kepadanya bahwa sesungguhnya si fulan dalam suatu pertemuan telah mengatakan begini dan begitu tentang engkau wahai Imam. Lalu Imam Syafii mendatangi orang yang menceritakan sang imam itu dalam  majlis. Apa yang dilakukan oleh Iman Syafi’i? Ia menyampaikan terima kasih kepada si fulan.

Orang yang melaporkan ke Imam Syafii itu merasa heran dan bertanya-tanya kenapa justru dia mendatanginya. Imam Syafii mengatakan “saya telah menyampaikan terima kasih kepadanya karena sesungguhnya ia telah melimpahkan kebaikannya ke dalam timbangan kebaikanku tanpa saya harus berbuat kebaikan dan kejelekan saya telah dilimpahkan kepadanya”. Itulah salah satu resiko yang harus ditanggung jika kita suka menceritakan aib orang kepada orang lain.

Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim memceritakan bahwa bahwa suatu ketika Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabatnya “apakah engkau mengetahui siapakah di antara umatku yang bangkrut?”. Lalu sahabat menjawab bahwa mereka yang  bangkrut adalah yang tidak punya harta dan uang diantara kami. Nabi bersabda “sesungguhnya orang-orang yang bangkrut itu di antara umatku pada hari kiamat adalah mereka yang datang di hari kemudian dengan banyak kebaikan, sholat, puasa, zakat, sedekah dan kebaikan, tetapi pada waktu yang sama ia juga telah mencaci maki ini dan itu, memakan harta orang ini dan itu, dan menumpahkan darah ini dan itu lalu seluruh pahala sholat, zakat dan sedekahnya  dilimpahkan kepada mereka yang telah digunjing, dicaci, ditipu dan dibunuh, setelah kebaikan dan pahalanya habis maka seluruh dosa dan kesalahan orang-orang yang pernah digunjing dan dicaci dan dibunuh dilimpahkan kepadanya lalu dilemparkan ke dalam surga. Mereka itulah umatku yang bangkrut”.

Menurut sejumlah ulama bahwa ketika seseorang menggunjing, mengadu domba dan memutarbalikkan fakta maka itu adalah wujud dari lemahnya keimanan orang tersebut. Dalam Islam perbuatan tersebut disebut sebagai Namimah. Namimah adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama dengan berbagai dalil dari Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw antara lain sebagai berikut:

قال رسول الله صلي الله عليه وسلم  ” لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ” رواه البخاري ومسلم

 

Artinya; Tidak akan masuk surga orang-orang yang suka menggunjing atau mengadu doma (namima).

قال تعالى : وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ . هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (سورة القلم:)10،11 

 

Artinya; Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, Yang suka mencaci, lagi yang suka menyebarkan fitnah hasutan (untuk memecah belahkan orang ramai),-

Beberapa hal yang mendorong seseorang untuk melakukan sifat ini antara lain;

  1. tidak mengerti bahwa sifat ini diharamkan dalam agama,
  2. kesombongan dan kedengkian yang memenuhi jiwanya,
  3. senang berkumpul dengan orang yang jahat dan suka menggunjing
  4. dan tingginya keinginan untuk mengetahui kondisi setiap orang karena factor kecemburuan.

Seorang muslim sejatinya menjunjung tinggi prilaku yang terpuji, baik dari segi tingka laku maupun komunikasi dan pada waktu yang sama menghindari perilaku negatif seperti menggunjing dan mengadu domba karena hal yang demikian itu sangat berbahaya terhadap kehidupan seseorang.

Menurut para ulama bahwa dampak namimah antara lain dapat

  1. merusak hubungan antara satu dengan yang lain, merusak kerukunan hidup seseorang,
  2. menimbulkan kondisi yang tidak kondusif,
  3. mengurangi riski orang lain
  4. dan yang lebih parah lagi dapat mengakibatkan pembunuhan atau konflik antara sesama. Sebaliknya perilaku dan tindak tanduk serta komunikasi akan menghasilkan sesuatu yang positif sebagaimana firman Allah Swt sebagai berikut:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ                         

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

 Artinya: Tidakkah engkau melihat (wahai Muhammad) bagaimana Allah mengemukakan satu perbandingan, yaitu: kalimah yang baik adalah sebagai sebatang pohon yang baik, yang pangkalnya (akar tunjangnya) tetap teguh, dan cabang pucuknya menjulang ke langit. Dia mengeluarkan buahnya pada tiap-tiap masa dengan izin Tuhannya. Dan Allah mengemukakan perbandingan-perbandingan itu untuk manusia, supaya mereka beringat (mendapat pelajaran).

(Ibrahim : 24 – 25)

 وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

Artinya : Dan perumpamaan Kalimah yang jahat dan buruk samalah seperti sebatang pohon yang tidak berguna yang mudah tercabut akar-akarnya dari muka bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidup. (Surah Ibrahim, Ayat : 26).

Facebook Comments