Berpulangnya Buya Syakur: Sang Ulama Revolusioner yang Tetap Setia pada Persatuan Bangsa

Berpulangnya Buya Syakur: Sang Ulama Revolusioner yang Tetap Setia pada Persatuan Bangsa

- in Tokoh
3
0
Berpulangnya Buya Syakur: Sang Ulama Revolusioner yang Tetap Setia pada Persatuan Bangsa

Pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan, KH. DR. Abdul Syakur Yasin MA suatu kali pernah mengingatkan masyarakat Indonesia untuk mewaspadai aliran dan gerakan radikalisme yang merusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Apalagi, beberapa hari ini, isu terorisme cukup santer di lingkungan masyarakat. Aliran radikalisme berkembang dengan mengatasnamakan agama dan dapat mengancam keutuhan NKRI,” kata Buya Syakur, panggilan akrabnya dikutipmubadalah.id dari laman Facebook Santri Buya Syakur.

Jauh sebelum Buya Syakur populer di media online, ia membekali nalar intelektualnya dengan malang melintang di Timur Tengah dan Eropa. Setelah kurang lebih 20 tahun mengenyam pendidikan formal akademis, Buya Syakur pulang ke Tanah Air pada 1991 bersama Gus Dur, Quraish Shihab, Nurcholis Majid dan Alwi Shihab.

Jalur akademik yang panjang itu itu berbuah predikat istimewa dari Gus Dur. Ketua Umum PBNU tahun 1984-1999 itu mengatakan bahwa di Indonesia ini cuma ada tiga orang yang berpikir analitis dalam memahami Islam, yaitu Quraish Shihab, Pak Syakur, dan Cak Nur. Label dari Gus Dur tersebut terbukti akurat. Hal ini terbukti dari tema-tema yang diunggah lewat akun YouTube-nya yang bertema cukup berat dan banyak yang berbasis kitab kontemporer atau tasawuf, sebut saja misalnya Fi Zhilali al-Qur’an, La Tahzan karya ‘Aidh al-Qarni, sampai Al-Hikam karya Ibn ‘Athaillah.

Daya nalar tingkat tinggi itu mula-mula dibentuk di pondok pesantren, di mana Buya Syakur menghabiskan waktu kecilnya hingga dewasa. Ia secara intensif menggali pengetahuan keagamaan dari Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon. Lamanya belajar di pondok pesantren, membuat Buya Syakur menjadi mahir dalam berbahasa Arab. Hal ini kemudian yang membuat Buya Syakur menerjemahkan kitab-kitab bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.

Pada tahun 1971, Buya Syakur melanjutkan rihlah ilmiah-nya di Kairo. Ketika menjadi mahasiswa di sana, Buya Syakur diangkat menjadi ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Kairo. Kemudian pada tahun 1977, Buya Syakur menyelesaikan ilmu al-Qur’an di Libya. Pada tahun 1979, ia menyelesaikan sastra Arab. Dua tahun selanjutnya, tepatnya pada tahun 1981, ia telah menyeselesaikan S2-nya dalam bidang sastra linguistik di Tunisia. Setelah itu, kemudian ia diangkat menjadi staf ahli di kedutaan besar Tunisia.

Setelah kembali ke Indonesia pada 1991, ia membaktikan diri berdakwah di kampung halamannya, di Indramayu. Kombinasi paradigma Timur Tengah dan Eropa itu membuatnya mampu mengkompromikan daya nalar tekstual relijius dengan nalar kritis ala sarjana Barat.

Hasilnya, Buya Syakur tak jarang melakukan reinterpretasi terhadap pemahaman umat Islam yang sudah mapan ditengah masyarakat. Pendekatan dakwah yang dilakukan oleh Buya Syakur lebih menekankan pendekatan logika dibanding menekankan doktrin berbasis teks kitab suci. Nalar analitis progresif ini terbukti lebih komprehensif dan cepat diterima nalar ketika mengurai teks-teks Al-Qur’an dan hadis. Meskipun beberapa kajiannya mendapat respon keras dari beberapa pihak. Buya Syakur misalnya menjabarkan dinamika hukum Bunga Bank Konvensional, hukum potong tangan bagi pencuri, dan kritiknya terhadap hadis yang menganjurkan umat Muslim membunuh cicak di malam Sabtu.

Tidak hanya berdakwah di hadapan jemaah, Buya Syakur dikenal sebagai tokoh agama yang intens memberikan kajian keagamaan via YouTube. Kanal YouTube miliknya bernama KH Buya Syakur Yasin MA, atau khalayak mengenalnya dengan Wamimma TV hingga tulisan ini ditulis memiliki pelanggan sebanyak 1,16 juta. Gaya penyampaian kajian Islam Buya Syakur sangat khas ala ulama Nahdlatul Ulama (NU). Suaranya tidak pernah meninggi. Ketika menjelaskan persoalan yang rumit ia sampaikan dengan perlahan dan fokus. Topik-topik muamalah khas Buya Syakur yang dekat dengan masyarakat ditambah optimalisasi platform online sebagai ruang dakwah membuat kajian Islamnya menjadi relevan, kontekstual, dan tepat sasaran.

Selain tentang muamalah, Buya Syakur juga peduli tentang persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti yang disinggung di awal obituari, Buya Syakur menyatakan, Pancasila adalah bukti jelas bahwa Indonesia merupakan negara yang beragama. Justru yang dibutuhkan negara adalah keadilan sosial bagi seluruh masyarakat dan supremasi hukum yang baik tanpa tebang pilih.

Dilanjutkan Buya Syakur, dalam lingkup kecil, aliran radikalisme dapat masuk dan mempengaruhi anggota keluarga. Pencegahan dini pun dapat dideteksi dan dilakukan di lingkungan keluarga. Kemudahan mengakses komputer menjadi hal yang harus disikapi dengan bijak.

“Aliran radikalisme ini bukan hanya mempengaruhi individu dengan cara tatap muka. Tetapi juga lewat media sosial. Sehingga aliran radikalisme itu perlu diwaspadai,” lanjut dia.

Menyambut Pemilu 2024, Buya Syakur juga sempat memberi pesan kepada masyarakat untuk mewaspadai segala gejala dan kemungkinan aksi terorisme. Buya Syakur menegaskan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi hajatan besar yaitu pemilu, di mana tingkat kerawanan tentu semakin tinggi. Sehingga, Buya Syakur meminta agar masyarakat tidak kecolongan dalam menjaga stabilitas keamanan mendukung pemerintah.

“Ini masuk akal kalau Pak Kapolri itu, menduga atau mendeteksi karena bagaimanapun akan menginspirasi bahwa kita bisa berbuat, seperti dimotivasi melakukan teror, mungkin terjadi. Makanya mesti mewaspadai juga apa yang disampaikan Kapolri,” kata Buya Syakur merespons pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit terkait ‘sel tidur teroris’ imbas perang Israel-Palestina, mengutip detik.com pada Minggu (5/11/2023).

KH Buya Syakur Yasin merupakan sosok ulama serta intelektual kharismatik yang memiliki kapasitas untuk melakukan ijtihad dalam rangka mengubah pola pikir, pola pemahaman, dan pola interpretasi naskah-naskah muamalah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis.

Buya Syakur mengembuskan nafas terakhirnya di Cirebon, Jawa Barat pada Rabu (17/1/2024) pada usia 75 tahun. Berpulangnya sang ulama ke pangkuan Yang Maha Kuasa meninggalkan banyak warisan keilmuan Islam. Ia merupakan pendekar Indonesia dalam merekonstruksi cara berpikir khususnya tentang konteks muamalah Islam.

Warisan intelektual Buya Syakur bergerak melampaui semua kalangan. Pemikiran dan wacana keislamannya menunggu untuk dikembangkan oleh sosok-sosok “Buya Syakur” yang baru, tentu dengan penalaran yang lebih segar dan kontekstual. Selamat jalan Buya Syakur.Lahul fatihah…

Facebook Comments