BHINEKA DI NEGARA GARUDA

BHINEKA DI NEGARA GARUDA

- in Suara Kita
3700
0

Berdiri dengan gagah dan penuh kewibawaan, Garuda tak pernah beranjak dari tanah Indonesia. 17 lipatan sayapmu, delapan bulu di ekormu, 19 menghiasi bawah perisaimu, dan 45 lainnya berada di lehermu yang agung, ia mematri jiwa Proklamasi bangsa ini. Cengkeram erat prasati Bhineka Tunggal Ika di kakinya. Oh Garuda nusantara, kumohon jangan kau lepas cengkramanmu…

Kalimat sakti Bhineka Tunggal Ika berasal dari buku Sutasoma karya Empu Tantular. Semangat untuk selalu bersatu meski ada banyak perbedaan membuat Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang besar.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.000 pulau lebih yang melengkapi keindahan negeri ini. Setiap pulau dihiasi dengan aneka kebudayaan yang sangat menarik untuk ditelisik. Budaya merupakan hasil perpaduan dari suku, adat, dan kepercayaan setiap penduduk di Indonesia.

Dahulu masyarakan Indonesia menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, kini kepercayaan tersebut mulai perlahan ditinggalkan. Masyarakat beralih ke bentuk kepercayaan yang lebih baru, agama. Dalam undang-undang disebutkan bahwa negara mengakui dan melindungi hak setiap warga untuk memilih dan beribadah sesuai dengan kepercayaan yang dimiliki. Bhinneka Tunggal Ika mengingatkan kita untuk selalu mengutamakan persatuan ditengah banyaknya perbedaan.

Namun Sayang, disadari atau tidak, garuda seolah telah meninggalkan prasasti sakti itu. Persatuan makin sulit untuk diwujudkan, perbedaan kecil terlalu sering dibesar-besarkan. Tidak terkecuali dalam hal agama, makin ramai muncul kelompok yang menghendaki perpecahan.

Suatu sore saya mendengar sebuah siaran di radio tentang sekelompok orang yang melakukan demonstrasi anarkis di kantor pemerintahan salah satu provinsi di negeri ini. Kelompok anarkis tersebut mengaku sedang mewakili kepentingan salah satu agama, mereka menolak pengangkatan kepala daerah hanya karena perbedaan agama.

saya setuju dengan si penyiar radio yang menyatakan bahwa perbuatan seperti itu sangat memprihatinkan. Sebagai umat beragama yang tinggal di negara ber-bhineka, agama tidak sepatutnya dijadikan halangan dalam mencapai kemajuan, karena justru dengan perbedaan, kita dapat saling belajar dan tumbuh menjadi bangsa besar.

Bagi saya, kasus di atas hanyalah satu dari banyaknya perbedaan yang masih saja dipermasalahkan oleh sebagian orang belakangan ini. Hal ini menyadarkan saya bahwa mempermasalahkan perbedaan tidak hanya melukai badan serta perasaan orang serta pihak-pihak tertentu, namun juga melukai kebhinekaan yang menghiasi negeri ini.

Jika hal ini terus dibiarkan, tentu muncul kekhawatiran tentang ‘nasib’ garuda kedepannya. Garuda memayungi ribuan perbedaan dalam wadah keberagaman, tapi garuda mulai terusik oleh pihak-pihak yang mencoba mengurai keberagaman dengan menanmkan benih-benih permusuhan. Adalah tugas kita bersama untuk senantiasa menjaga garuda kita.

Saya merasa sangat beruntung lahir di sebuah keluarga besar yang menghargai keberagaman. Ayah saya merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Ketujuh keluarga pakdhe dan budhe saya memeluk agama yang berbeda-beda. Ada yang Muslim, Kristen, dan lain-lain. Namun kami menjalankan agama kami masing-masing dengan baik. Kami hidup sebagaimana keberagaman harus dijaga.

Begitu juga di sekolah. Saya berada di kelas multikultural dimana siswanya selalu bersama, kami hanya berpisah saat pelajaran agama tiba. Tidak ada yang berbeda dari kami. Ketika kegiatan ekstrakulikuler pramuka masih ada saat kelas X dulu, entah kami sadari atau tidak, kami juga telah menjaga perbedaan.

Hari Jumat dalam minggu kedua setiap bulannya, saya menghadiri misa (ibadah agama Katolik) di Gereja yang lumayan jauh letaknya dari sekolah. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk melaksanakan pramuka secara langsungan. Maka teman saya yang selesai melaksanakan ibadah Jumatan akan menunggu saya di aula depan sekolah. Begitu pula saat hari Jumat lainnya, saya telah biasa menunggu teman-teman Muslim saya beribadah Jumatan dengan duduk di kantin yang kebetulan dekat dengan Masjid sekolah kami.

Berbicara tentang sekolah, saya jadi ingat hal yang terjadi sekitar lima tahun yang lalu, yaitu pengalaman ketika saya masuk SMP. Sebelumnya saya menghabiskan tujuh tahun bersekolah di TK dan SD di yayasan Katolik. Sekolah di SMP Negeri telah membuka mata saya tentang keberagaman yang dapat kita jumpai di mana-mana.

Saya sempat bingung ketika setiap guru yang masuk di kelas saya mengucapkan salam yang belum pernah saya alami selama tujuh tahun di sekolah saya sebelumnya. Tak hanya itu, saat pelajaran dimulai, hanya ada aba-aba berdoa di tempat sesuai agama masing-masing. Tidak ada lagi teman yang maju untuk memimpin “Doa Pagi” atau “Doa Bapa Kami” dan “Salam Maria”. Sejak saat itulah saya menyadari beragamnya anugerah Tuhan yang diberikan kepada negeri ini. Di tanah kita ini, semoga keberagaman terus terjaga. Perbedaan bukan hambatan untuk mencapai tujuan, karena keberagaman adalah jembatan penerus kekuatan bangsa.

Penulis : Cikita Galih Wardani. siswa SMAN 1 Pengasih, Kulon Progo. Yogyakarta

Facebook Comments