Dakwah Damai Ala Gus Baha’

Dakwah Damai Ala Gus Baha’

- in Tokoh
911
0
Dakwah Damai Ala Gus Baha’

Sebagaimana dikisahkan, semenjak Islam didakwahkan oleh Rasulullah Saw. berbagai macam cobaan, cacian dan penghinaan silih berganti datang menghampiri Rasulullah. Bahkan, ada pula yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad tak lebih dari seorang penyihir.

Namun, menghadapi persoalan yang demikian, sebagai pembawa Islam yang penuh cinta kasih, Rasulullah Saw. tetap tabah, sabar dan tak sedikit pun membalas mereka dengan cacian-cacian atau apa pun yang semakna dengannya.

Di saat Rasulullah Saw. hijrah ke Madina, Rasulullah tetap melakukan hal yang sama. Bahkan, sebagaimana dicatat oleh sejarah, di Madinah, Rasulullah Saw. sempat membuat kesepakatan dengan orang-orang non-muslim untuk hidup berdampingan (Piagam Madinah) menjalin komunikasi yang baik dan lainnya.

Menurut Gus Baha’, demikianlah seharusnya Islam disyiarkan dan diperkenalkan kepada umat, yakni Islam yang penuh dengan semangat menghargai, mengasihi dan menyayangi sesama. Menurut Gus Baha’, Islam adalah agama rahmat yang peduli terhadap perdamaian dan kerukunan umat.

Karena itu, bagi Gus Baha’, seharusnya Islam itu memudahkan, bukan menjadi sumber masalah atas kehidupan manusia. Islam tidak membebani para pemeluknya dengan keharusan-keharusan yang memang umat manusia tidak sanggup untuk melakukannya. Menjadi kiai, ustadz atau ulama sekalipun, tugasnya adalah menyampaikan. Tidak usah memaksa umat (Rusydie Anwar, 2019). Karena tidak ada paksaan dalam beragama.

Bahkan, di lain sisi menurut Gus Baha’, seyogianya menjadi ulama adalah juga menjadi sosok dan pribadi yang humoris. Hal ini dikarenakan setiap umat yang dihadapi tidak mungkin semuanya karakter yang sama dan seragam. Pun masyarakat yang dihadapi seragam, tidak mungkin juga dalam setiap keadaan seorang pendakwah melontarkan dalil-dalil agama yang kaku. Jelas hal itu akan membuat jenuh umat dalam melakukan aktivitas keagamaan.

Dalam hal ini, Gus Baha’ mengutip salah satu ulama yang suka berhumor, yang tak lain adalah Abu Nawas. Menurut Gus Baha’, suatu ketika Abu Nawas membuat teka-teki, kata Abu Nawas, barang siapa yang bisa menjawab teka-teki ini, maka akan dikasi hadiah, dan jika tidak ada yang bisa maka Abu Nawaslah yang harus dikasi hadiah.

“Menurut kalian, Allah itu kan Maha Kaya. Namun, maski begitu lebih kaya saya. Apa artinya? tanya Abu Nawas. Orang-orang tidak ada yang bisa menjawab. Bahkan Raja Harun juga tidak bisa menjawab”.

Setelah sang raja juga tak bisa menjawab, Abu Nawas berkata: “Sekaya-kayanya Allah, Dia tidak punya anak, tidak punya istri, dan juga tak punya utang. Lah, saya ini punya anak, istri dan juga punya utang,” ucap Gus Baha’.

Jika dipahami secara lebih komprehensif, sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Abu Nawas semata bukan hanya untuk menghibur hati umat. Tetapi dibalik itu ada pesan ketauhidan dan keislaman yang hendak disampaikan pada umat.

Menurut Gus Baha’, seperti itulah seharusnya ulama masa kini. Menghibur, namun tetap ada pesan moral yang disampaikan. Sehingga dalam berislam, umat lebih riang dan gembira menjalaninya.

Secara garis besar, pola dakwah yang sedang dikembangkan oleh Gus Baha’ ini tidak jauh berbeda dengan cara-cara dakwah ala Gus Dur, yang cara beisrlamnya diorientasikan pada kemanusian dan kemaslahatan umat secara umum.

Sedangkan jika ditinjau dari sisi historisnya, pola dakwah yang dikembangkan oleh Gus Baha’ merupakan kelanjutan dari cara dakwah yang dirintis oleh para Wali Sanga, yakni cara dakwah yang moderat dan penuh dengan kedaimaian. Menawarkan nilai-nilai toleransi. Tidak memaksakan kehendak dan ego keislaman dalam beragama. Dan selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi kehidupan umat manusia.

Facebook Comments