Etika Menasihati Penguasa dalam Ajaran Islam

Etika Menasihati Penguasa dalam Ajaran Islam

- in Keagamaan
361
0
Etika Menasihati Penguasa dalam Ajaran Islam

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Allah memilih manusia sebagai penguasa untuk mencegah umat saling bermusuhan dan mengatur kepentingan hidup mereka dengan kebijakannya. Kekuasaan dapat diihtiyarkan dengan cara yang baik. Namun, semua harus sadar bahwa tidak diperkenankan seseorang mencari-cari kekuasaan atau amanah.

Nabi Muhammad SAW berpesan kepada sahabat Abdurrahman, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk menjalankannya. Namun, jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kekuasaan merupakan kehendak Allah SWT. Dalam al-Qur’an tertulis, “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki.” (QS. Ali Imran [3]: 26).

Dikarenakan kekuasaan merupakan kehendak Allah SWT, maka umat muslim harus ridha. Tidak diperkenankan seorang muslim mengingkari kehendak-Nya. Lebih-lebih, Allah SWT paling mengetahui kebaikan dibandingkan dengan makhluknya. Terhadap penguasa, bisa saja makhluk menganggap seseorang paling pas menjadi penguasa namun demikian Allah SWT memilih orang lain untuk menjadi penguasa.

Nabi Muhammad SAW sendiri adalah sosok ‘penguasa’ yang oleh sebagian kelompok dianggap tidak sesuai harapan. Orang-orang Yahudi memprediksi dan berharap bahwa nabi akhir zaman adalah dari golongannya, yakni keturunan keturunan dari Nabi Ishaq dan Nabi Yakub. Namun demikian, Allah SWT mengutus nabi akhir zaman dari keturunan Nabi Ismail dan bukan keturunan Nabi Ishaq. Di sini orang Yahudi merasa kecewa dan bersikap sombong karena merasa tersaingi dan merasa lebih senior dibandingkan Muhammad. Kaum Yahudi paham bahwa Muhammad SAW adalah nabi akhir zaman namun karena sifat hasad menjadikannya enggan beriman.

Salah satu syarat menjadi penguasa yang baik adalah adil. Menurut Imam Al-Mawardi keadilan penguasa kepada rakyatnya diimplementasikan dalam empat sikap, yaitu: memberikan kemudahan kepada rakyat, menghapus kesulitan atas mereka, tidak berkuasa secara memaksa atau otoriter, dan memberikan hak rakyat. (kesan.id).

Seiring dengan hal tersebut, Imam Al-Mawardi juga menerangkan bahwa keadilan mesti juga dilakukan rakyat kepada penguasa. Keadilan ini diimplementasikan dalam tiga sikap, yaitu: ikhlas dalam mematuhi penguasa, bersedia membantu penguasa, dan loyalitas yang tulus.

Diakui atau tidak, penguasa hanyalah orang biasa yang selalu terbuka lebar untuk melakukan kesalahan. Selain yang disengaja, bisa saja seorang penguasa melakukan kesalahan tanpa disengaja. Lebih-lebih seorang penguasa harus meladeni banyak kelompok. Antara satu kelompok kadang kala memiliki pemahaman kebenaran dan kesalahan yang berbeda.

Dikarenakan seorang penguasa tidak bisa lepas dari salah dan alpa, maka nasihat sangat diperlukan. Cara ini dilakukan dalam rangka memperbaiki bukan merong-rong. Memberi nasihat kepada penguasa harus dilakukan dengan etika yang luhur. Jangan sampai dalam menasihati justru mengumbar kesalahan atau bahkan menjatuhkan martabat penguasa.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang hendak menasehati penguasa terhadap suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima, maka itu yang terbaik. Dan jika tidak, maka dia telah melaksanakan kewajibannya.” (HR. Ahmad).

Teladan terbesar dalam agama Islam betapa memberi nasihat kepada penguasa yang sangat zalim sekalipun tetap dilakukan dengan cara yang baik adalah saat Nabi Musa dan Harun menasihati Raja Fir’aun. Siapakah penguasa yang lebih zalim daripada Raja Fir’aun? Kita sangat sulit mencarinya. Selain zalim kepada rakyat, Raja Fir’aun juga mengaku diri sebagai tuhan yang mesti disembah oleh seluruh manusia. Meskipun demikian, Nabi Musa dan Harun tetap berkata lembut kepada Raja Fir’aun.

Allah SWT berfirman, “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas” “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. at-Taha [20]: 43-44).

Ketika Raja Fir’aun yang jelas-jelas zalim saja diperintahkan untuk menasihati dengan kata-kata yang lemah lembut, tentu kepada penguasa zaman sekarang harus lebih lemah lembut. Lebih-lebih kezaliman yang dilakukan masih bersifat pro dan kontra. Bisa sekelompok manusia mengatakan penguasa zalim namun nyatanya tidak di mata Allah SWT dan sekelompok manusia lainnya.Wallahu a’lam.

Facebook Comments