Idul Fitri, Persaudaraan, dan Visi Peradaban Bangsa

Idul Fitri, Persaudaraan, dan Visi Peradaban Bangsa

- in Suara Kita
228
0

Idul Fitri mempunyai makna penting dalam gerak kebangsaan kita. Terlebih di tengah persaudaraan kebangsaan yang terkoyak akibat nilai-nilai luhur ajaran agama semakin diabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sampai kekerasan, terorisme, dan bom bunuh diri dilakukan: bukti bahwa sebagian dari kita Islam kehilangan kasih sayang.

Prof. Quraish Shihab (2015) menegaskan bahwa dalam beragama manusia mesti menggali makna terdalamnya, yakni akhlaq. Semua ritual ibadah yang dijalankan manusia tersimpan makna akhlaq yang sangat mulia. Sholat ada akhlaqnya, puasa ada akhlaqnya, zakat ada akhlaqnya, haji ada akhlaqnya. Tidak cukup hanya dengan syarat dan rukun dalam ibadah. Dari sinilah, Nabi Muhammad diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlaq.

Akhlaq dalam Idul Fitri juga sangat nyata, saling memaafkan dan menjalin kerjasama untuk kemaslahatan.

Tradisi Solutif

Saling memaafkan dalam tradisi lebaran yang diberi nama halal bihalal adalah acara kolosal silaturrahim yang diselenggrakan masyarakat Indonesia dan menjadi simpul strategis yang membuka jendela baru dalam tradisi kebangsaan di Indonesia. Secara teologis, Islam sangat menganjurkan tradisi silaturrahim. Selain meneguhkan persaudaraan, dalam perspektif teologi Islam, silaturrahim juga bisa meningkatkan rizki. Semakin rajin silaturrahim, manusia akan semakin mudah menggali rizki dan semain terbuka banyak pintu rizki yang disediakan Allah.

Dalam ajaran syariat Islam, kesalahan yang dilakukan manusia pastilah diampuni dosanya. Kalau secara vertikal, dengan Tuhan, bisa minta maaf sekhusyu’ mungkin. Sedangkan dengan manusia, maka harus meminta maaf langsung dengan yang bersangkutan. Kesalahan dengan sesama manusia (haqqul adamy), selain minta maaf kepada Allah, harus minta maaf secara manusiawi. Tidak sah kalau hanya meminta maaf kepada Allah saja.

Dari secarik asa dan inspirasi tersebut, tradisi silaturrahim sangat strategis dalam menggemakan spirit persauadaraan dan perdamaian antar sesama. Terlebih juga dalam bulan syawal ini Nabi Muhammad juga mencontohkan tradisi silaturrahim dengan para sahabat. Nabi Muhammad tidak mau bersenang ria sebagai sorang yang ma’sum (terjaga dari dosa). Beliau memilih menjadi sosok Nabi yang manusiawi, yang menjalankan kehidupan di bumi sesuai dengan yang akan dilakukan umatnya. Nabi memilih kembali ke bumi untuk menegakkan nilai kemanusiaan.

Nilai-nilai persaudaraan, kedamaian, dan kejujuran yang diajarkan dan dicontohkan Nabi serta para sahabatnya menjadi tonggak sangat berharga bagi umat Islam untuk menggelorakan berbagai tindak anti kekerasan, anti teror, anti korupsi, dan anti kejahatan kemanusiaan lainnya. Spirit yang ditancapkan Nabi tersebut sangat tepat di tengah kondisi sosial bangsa yang sedang berkecamuk dengan berbagai tragedi kemanusiaan yang tak kunjung usai.

Visi Peradaban

Tercederainya persaudaraan kita menjadi catatan serius umat beragama di Indonesia. Saat ini, kondisi sosial ditandai dengan makin longgarnya konflik dan tawuran lintas warga desa, konflik lintas agama dan miskinnya altruisme kaum elite terhadap kaum marginal yang terseok-seok nasibnya. Konflik antar agama masih menjadi gema konflik global yang mudah disulut berbagai kasus kecil yang dijalankan oknum. Konflik lintas agama seolah diciptakan untuk menggagas gemuruh konflik global yang saling membunuh dan mematikan. Politisasi agama terus dilangsungkan dengan penuh khidmat dalam sekian adegan kolosal yang seringkali menggunakan atribut agama secara instan dan pragmatis. Terjadilah pendangkalan makna dan substansi agama.

Karena terjadi pendangkalan itulah, Sugiharto (2003) berargumen bahwa untuk menjadi sungguh-sungguh berarti kembali, maka agama perlu melakukan kritik-diri secara structural, mengenali persoalan-persoalan mendasar dunia modern, dan mampu menawarkan visi peradaban dan kemanusiaan yang baru. Tanpa itu, ia hanya akan berakhir sebagai kekuatan disintegrasi peradaban paling mengerikan, atau semangat nostalgis naif yang berbahaya.

Ya, agama sedang dibajak oleh pemeluknya sendiri. Tak salah kalau Oliver Roy (2004) dalam ”Failed of Islamic Politic” melihat terjadinya kegagalan politik atas nama agama yang dilangsungkan para fundamentalisme Islam. Bagi Roy, kegagalan itu dipicu oleh pemaknaan sektarian dan sepenggal yang terus diproduksi dalam berbagai pajangan politik. Kasus di Afghanistan, Pakistan, dan negara Muslim lainnya membuktikan bahwa terjadi berbagai pembantaian dan pembunuhan yang sangat keji: tragis, semua itu dijalankan atas nama agama. Tak salah kalau Charles Kimball (2003) menyebut agama sebagai sumber bencana.

Dalam konteks ini, idul fitri dan disertai dengan silaturrahim memancarkan visi peradaban dalam keberagamaan, yakni lahirnya mata air persaudaraan dan kebersamaan. Siapa yang dahaga dengan kesejukan dan kedamaian, maka silaturrahim menjadi ajang kontemplasi yang strategis dalam menggumpalkan inspirasi dan kreativitas dalam memancang kemaslahatan bersama. Berbagai konflik sosial horizontal, disintegrasi kebangsaan, dan runtuhnya etika politik kekuasaan, adalah penyakit sosial yang bisa obati dengan sebaik mungkin lewat jalan pencerahan keberagamaan yang memancar dalam tradisi silaturrahim. Manusia akan menemukan makna kesejatian hidupnya di tengah ragam problematika yang berkecamuk.

Kesejatian hidup yang diajarkan Nabi Muhammad adalah menegakkan jalan hidup yang saling bersaudara dan bersatu. Dengan spirit itulah, agama, sebagaimana yang dikatakan Giddens (2005), bisa menjadi media pengorganisasian bagi kepercayaan yang tidak sekedar satu arah. Agama akan hadir bukan hanya iman dan kekuatan religius yang menyediakan dukungan yang secara takdir dapat dijadikan sandaran. Para fungsionaris keagamaan mampu menginjeksikan reliabilitas  ke dalam pengalaman pelbagai peristiwa dan situasi dan dari suatu kerangka keagamaan.

Facebook Comments